Sumber ilustrasi: Pixabay
9 Agustus 2025 10.15 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [09.08.2025] Burung hadir dalam beragam bentuk dan ukuran, dari kolibri kecil yang nyaris seukuran lebah, hingga burung raksasa seperti burung unta dan albatros. Dari hampir 10.000 spesies yang dikenal, beberapa di antaranya menonjol karena ukuran tubuh, bentang sayap, maupun kekuatan fisik. Di berbagai benua, burung-burung ini tidak hanya mendominasi secara visual tetapi juga memainkan peran penting dalam ekosistem mereka.
Burung seperti burung unta bisa mencapai tinggi melebihi dua meter, sementara albatros dikenal dengan kemampuan terbang jauh tanpa henti berkat bentang sayapnya yang luar biasa. Selain menjadi daya tarik sains dan konservasi, burung-burung ini menunjukkan adaptasi luar biasa terhadap lingkungan yang ekstrem, mulai dari gurun, hutan hujan tropis, hingga kutub.
Marabou Stork, atau bangau Marabou, menjadi spesies bangau terbesar di dunia. Dikenal juga sebagai “burung pengurus jenazah”, burung ini memiliki tinggi hingga 1,5 meter dan berat mencapai 9 kilogram. Bentang sayapnya menyentuh 2,6 meter. Adaptasi seperti kepala botak membantunya tetap bersih saat mengonsumsi bangkai, sementara kantung besar di leher digunakan saat musim kawin.
Dari Australia, Emu muncul sebagai burung tertinggi kedua setelah burung unta. Dengan tinggi mencapai 1,9 meter dan kemampuan berlari hingga 50 km/jam, emu merupakan pelari tangguh yang beradaptasi dengan kondisi kering. Burung ini bersifat nomaden, dan menariknya, pejantan bertugas mengerami telur dan merawat anak selama lima bulan tanpa makan atau minum.
Elang Harpy, yang tersebar di hutan tropis Amerika Selatan dan Tengah, merupakan salah satu elang terberat di dunia. Betina dewasa bisa mencapai berat 9 kilogram dan bentang sayap hingga 2 meter. Elang ini memangsa mamalia seperti kukang dan opossum, dengan kecepatan serangan mencapai 80 km/jam, menggunakan cakar setajam pisau sepanjang 13 cm.
Di langit terbuka Samudra Selatan, Albatros Pengembara menjadi pemilik bentang sayap terluas — hampir 3,35 meter. Spesies ini dapat menjelajah ribuan kilometer tanpa henti dengan memanfaatkan arus udara laut. Namun, sebagian besar spesies albatros kini terancam akibat tertangkap alat tangkap nelayan secara tidak sengaja.
Burung Unta, burung terbesar di dunia, tumbuh hingga 2,7 meter dan bisa mencapai berat 130 kilogram. Meski tak bisa terbang, burung ini memanfaatkan sayap sebagai alat bantu manuver saat berlari hingga 70 km/jam. Tendangannya sangat kuat, mampu mengusir predator besar seperti singa.
Greater Rhea, sepupu burung unta dari Amerika Selatan, tingginya mencapai 1,5 meter dengan berat sekitar 30 kilogram. Rhea jantan bertanggung jawab mengerami telur dalam jumlah besar. Seperti burung unta, rhea juga cepat berlari dan menggunakan sayap untuk keseimbangan.
Kasuari Selatan, burung asal hutan hujan New Guinea dan Australia, menjadi salah satu burung paling purba dan berbahaya. Tingginya hingga 2 meter, dan memiliki casque atau “helm” keras di kepalanya yang digunakan untuk menembus vegetasi lebat. Cakar tajamnya berpotensi mematikan. Bahkan, terdapat catatan burung ini pernah membunuh manusia.
Di antara burung air, Pelikan Dalmatian mendominasi baik ukuran tubuh maupun kemampuan terbang. Bentang sayapnya 3 meter, dan burung ini bisa terbang hingga ketinggian 3.000 meter. Setiap hari, pelikan dewasa dapat mengonsumsi hampir 2 kilogram ikan yang ditangkap menggunakan kantung paruh besar.
Shoebill, burung rawa dari Afrika, dikenal karena paruh besarnya yang menyerupai sepatu. Tingginya sekitar 1,5 meter dan berburu ikan dengan tingkat keberhasilan yang tinggi. Burung ini sangat soliter dan mempertahankan wilayah per individu yang cukup luas.
Great Bustard, burung darat terbesar di Eropa, jantan bisa mencapai 14 kilogram dan tinggi 1,2 meter. Ditemukan di berbagai wilayah Eurasia, populasi burung ini menurun drastis akibat perburuan, meskipun program reintroduksi telah berhasil mengembalikannya ke alam Inggris.
Di Antartika, Penguin Kaisar menjadi raja dari semua spesies penguin. Dengan tinggi 1,2 meter dan berat mencapai 40 kilogram, mereka bertahan di lingkungan ekstrem dengan lemak tubuh dan bulu tebal, serta kebiasaan berkumpul dalam kelompok rapat untuk mempertahankan suhu tubuh.
Kondor Andes, burung pemangsa terbesar berdasarkan ukuran sayap, bisa mencapai bentang 3,2 meter dan terbang hingga ketinggian 5.500 meter. Makanan utamanya adalah bangkai, dan burung ini dikenal berumur Panjang, yakni hingga 80 tahun dalam penangkaran.
Penguin Raja, penguin terbesar kedua, memiliki tinggi hingga 95 cm dan berat maksimum 18 kilogram. Mereka hidup di pulau-pulau sub-Antartika dan melalui fase puasa panjang saat mengerami telur serta membesarkan anak, membuat berat tubuh mereka berfluktuasi ekstrem.
Terakhir, Kalkun Liar menjadi burung buruan terbesar di Amerika Utara. Tingginya bisa mencapai 1,2 meter dan berat hingga 11 kilogram. Meski tampak berat dan tidak lincah, kalkun liar ternyata bisa terbang dengan kecepatan mencapai 96 km/jam, dan tidur di atas pohon untuk menghindari predator.
Burung-burung terbesar di dunia menunjukkan bagaimana evolusi menciptakan bentuk dan fungsi yang beragam untuk bertahan hidup dalam berbagai kondisi ekstrem. Dari pemangsa udara seperti elang harpy hingga burung raksasa tanah seperti burung unta dan kasuari, setiap spesies memiliki karakteristik khas yang memungkinkan mereka menjadi penguasa di habitat masing-masing.
Akan tetapi, banyak dari burung-burung besar ini menghadapi ancaman serius akibat aktivitas manusia seperti perburuan, perusakan habitat, dan penangkapan tidak sengaja. Perlindungan mereka bukan hanya demi konservasi keanekaragaman hayati, tetapi juga demi menjaga keseimbangan ekosistem yang lebih besar. Pelestarian satwa liar semestinya menjadi prioritas global.
Diolah dari artikel:
“14 of the biggest birds on Earth” oleh Scott Dutfield dan Marilyn Perkins,