Sumber ilustrasi: Pixabay
8 November 2025 09.15 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [08.11.2025] Planet Bumi menunjukkan tanda-tanda ketegangan yang semakin jelas. Sebuah laporan ilmiah terbaru yang diterbitkan di jurnal BioScience pada 29 Oktober 2025 mengungkapkan bahwa 22 dari 34 “tanda vital” Bumi kini berada dalam status bahaya. Indikator-indikator ini mencakup konsentrasi karbon dioksida dan metana di atmosfer, peningkatan panas laut, naiknya permukaan air laut, serta meningkatnya frekuensi hari-hari ekstrem panas dibandingkan periode 1961–1990. Data menunjukkan sebagian besar dari indikator tersebut mencapai rekor tertinggi pada tahun 2024, dan tren serupa tampak berlanjut pada tahun 2025.
Peneliti utama laporan tersebut, William Ripple dari Oregon State University, menegaskan bahwa tahun 2024 menandai titik terpanas dalam sejarah pencatatan modern dan kemungkinan merupakan yang terhangat dalam 125.000 tahun terakhir. Peningkatan suhu ini diikuti dengan rekor kehilangan es di berbagai wilayah, pemanasan laut ekstrem, serta meluasnya kebakaran hutan dan peristiwa pemutihan karang terbesar dalam sejarah terkini. Semua ini menjadi bukti bahwa sistem alam sedang berada di ambang perubahan besar.
Konsep “tanda vital” Bumi pertama kali diperkenalkan oleh Ripple dan rekan-rekannya pada tahun 2020 sebagai upaya mengukur kesehatan planet secara menyeluruh. Setelah lima tahun, hasil pemantauan menunjukkan bahwa Bumi mungkin sedang mendekati titik kritis yang dapat memicu kondisi “rumah kaca”, situasi ketika planet terus memanas secara mandiri meskipun emisi karbon telah berkurang drastis.
Saat ini suhu rata-rata global telah meningkat 1,2°C dibandingkan masa praindustri (1850–1900). Jika kebijakan iklim global tidak diperkuat, proyeksi menunjukkan bahwa pemanasan dapat mencapai hingga 3,1°C pada akhir abad ini. Kondisi tersebut akan menandai akhir dari periode Holosen, masa stabil yang telah memungkinkan lahirnya pertanian, pemukiman permanen, dan peradaban manusia selama 11.000 tahun terakhir.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa lonjakan suhu ekstrem dapat memicu keruntuhan berbagai sistem penting, seperti lapisan es kutub dan permafrost yang kaya karbon. Apabila kedua sistem ini melemah, kemampuan Bumi untuk memantulkan energi matahari dan menyimpan karbon akan menurun tajam. Proses tersebut dapat menciptakan reaksi berantai yang memperparah pemanasan global dan mempercepat keruntuhan sistem lainnya. Mereka menilai, melampaui satu titik kritis saja berpotensi menimbulkan efek domino yang destabilisasi, dan dalam skenario terburuk bisa mengarah pada kondisi rumah kaca permanen yang menghancurkan kehidupan alami serta masyarakat manusia.
Laporan ini juga menyoroti empat risiko iklim paling mendesak: lintasan rumah kaca, kehilangan keanekaragaman hayati, penurunan air tawar, dan melambatnya sirkulasi arus laut Atlantik Utara (AMOC) yang berperan penting dalam distribusi panas global. Selain itu, para peneliti mencatat bahwa pemanasan global turut meningkatkan risiko banjir pesisir, keruntuhan lapisan es, dan cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.
Ahli iklim Michael Mann dari University of Pennsylvania menilai bahwa peningkatan suhu global sangat bergantung pada jumlah karbon yang dilepaskan ke atmosfer. Oleh karena itu, strategi utama untuk mencegah skenario terburuk adalah mempercepat dekarbonisasi agar suhu global tetap di bawah ambang batas berbahaya. Ripple menambahkan bahwa setiap tahun keterlambatan dalam aksi nyata akan mengunci risiko dan biaya yang lebih tinggi bagi generasi mendatang.
Meskipun laporan ini memberikan peringatan keras, para ilmuwan masih melihat adanya peluang untuk memperbaiki keadaan. Belum semua sistem alam mencapai titik tanpa kembali, dan beberapa negara telah menunjukkan kemajuan berarti. Sejumlah negara di Eropa seperti Inggris, Irlandia, Swiss, dan Norwegia telah menghapus batu bara dari sistem kelistrikan mereka. Uni Eropa dan Nigeria juga dilaporkan berhasil menurunkan emisi metana secara signifikan. Di sisi lain, tingkat deforestasi di Amazon menurun tajam di bawah kepemimpinan baru, kapasitas energi terbarukan terus meningkat, dan penjualan kendaraan listrik terus mencatat rekor baru. Semua kemajuan ini menjadi sinyal bahwa perubahan masih mungkin terjadi bila upaya global dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Laporan terbaru ini menggambarkan bahwa Bumi sedang berada pada titik kritis antara stabilitas dan krisis. Sebagian besar indikator lingkungan menunjukkan tren memburuk, menandakan planet ini tengah berjuang mempertahankan keseimbangannya di tengah tekanan manusia dan pemanasan global. Potensi munculnya “rumah kaca Bumi” menjadi peringatan bahwa tanpa tindakan cepat, perubahan yang kini berlangsung dapat menjadi permanen dan membawa dampak tak terbayangkan bagi kehidupan di planet ini.
Akan tetapi, upaya kolektif dalam mengurangi emisi, menghentikan deforestasi, serta mempercepat transisi menuju energi bersih menunjukkan bahwa arah perubahan masih dapat dikendalikan. Laporan ini merupakan suatu bentuk peringatan ilmiah dan juga suatu bentuk seruan moral agar kita bertindak seperti sedang menghadapi keadaan darurat global. Dengan keputusan yang tegas dan langkah nyata, masa depan Bumi masih dapat diselamatkan.
Diolah dari artikel:
“22 of Earth’s 34 ‘vital signs’ are flashing red, new climate report reveals — but there’s still time to act” oleh Sascha Pare.
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.