Sumber ilustrasi: Pixabay
Oleh: Dr. Untoro Hariadi
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Janabadra
19 Juli 2025 16.05 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Tembang dolanan anak-anak Jawa yang terdengar riang seperti Gundhul-Gundhul Pacul ternyata menyimpan makna yang dalam. Bukan hanya rangkaian kata acak untuk mengiringi permainan, melainkan sebuah bentuk sindiran tajam yang menyusup melalui irama masa kecil. Lagu ini, bila ditafsir secara kritis, menghadirkan cermin terhadap relasi kuasa, rakyat, dan ketimpangan sosial, khususnya dalam kaitannya dengan pertanian dan kepemimpinan.
Gundhul-gundhul pacul, gemblelengan
Nyunggi-nyunggi wakul, gemblelengan.
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar
Kalimat ini terdengar ringan, bahkan lucu bagi sebagian besar orang yang menyanyikannya saat kecil. Namun di balik permainan bunyi dan irama, tersimpan peringatan filosofis yang sangat dalam. Gundhul—berarti kepala botak—diartikan sebagai pemimpin. Pacul adalah alat pertanian, simbol kerja dan kedekatan dengan tanah. Maka, “gundhul-gundhul pacul” dapat dimaknai sebagai pemimpin yang membawa (atau seharusnya membawa) alat kerja dan memikul tanggung jawab rakyat.
Namun ketika sang pemimpin hanya membawa pacul sebagai simbol, dan tidak benar-benar bekerja bersama rakyat, maka yang terjadi adalah “gemblelengan”—pembusungan dada, kesombongan kekuasaan. Ini kritik halus namun tajam terhadap pemimpin yang melupakan akar sosialnya, yang menjauh dari keringat petani dan derita wong cilik. Lagu ini mengingatkan, bahwa seorang pemimpin bukan hanya kepala tanpa isi, tapi harus kuat memikul beban rakyat, sebagaimana wakul yang penuh dengan nasi hasil jerih payah.
Tapi ketika “nyunggi-nyunggi wakul” (memikul beban pangan) dilakukan dengan “gemblelengan” (angkuh), maka “wakul ngglimpang segane dadi sak latar”—tempat nasi itu tumpah, kesejahteraan rakyat terhambur, hilang tak terkendali. Ini bukan sekadar metafora tentang makanan, melainkan tentang sistem sosial. Ketika penguasa kehilangan kehati-hatian dan rendah hati, maka distribusi hasil bumi pun gagal. Keseimbangan hilang, dan krisis terjadi.
Dalam konteks sekarang, makna ini terasa semakin relevan. Pemimpin hari ini, entah di desa, kota, atau negara, banyak yang terputus dari realitas agraris. Mereka menggenggam kuasa, tapi melupakan alat produksi. Mereka bicara pembangunan, tapi tanah dikuasai korporasi. Petani tergusur, harga bahan pangan dikendalikan pasar global, dan petani lokal tak lebih dari aktor pinggiran dalam drama besar ekonomi nasional. Tembang ini menjadi kritik atas pemutusan hubungan antara kekuasaan dan kerja-kerja produksi pangan yang jujur.
Selain itu, “gemblelengan” menjadi gambaran tentang elitisme yang tak lagi bersentuhan dengan rakyat. Ini bukan soal penampilan, tapi sikap: pemimpin yang merasa sudah tahu segalanya, dan tidak mau mendengar suara tanah dan air. Dalam dunia yang dipenuhi oleh jargon, program, dan proyek, suara-suara petani sering kali tak terdengar. Mereka menjadi obyek statistik, bukan subyek hidup. Maka, tembang ini bisa dibaca sebagai kritik terhadap gaya hidup elitis dan mental birokrat yang kehilangan empati.
Uniknya, kritik ini tidak disampaikan melalui pidato atau tulisan berat, tapi lewat lagu anak-anak. Ini menunjukkan betapa budaya Jawa menyisipkan kesadaran sosial dalam kesederhanaan. Tembang menjadi saluran untuk mengingatkan, bahkan mendidik, tanpa harus menggurui. Ini juga kritik terhadap cara berpikir modern yang sering meremehkan warisan budaya lisan, yang padahal menyimpan pengetahuan sosial dan ekologi yang dalam.
Pacul, dalam konteks ini, bukan sekadar alat bercocok tanam, melainkan simbol kedaulatan rakyat atas alat produksi. Ketika pacul diambil dari tangan petani—melalui privatisasi tanah, konversi lahan, atau perampasan sumber daya—maka pacul menjadi milik segelintir orang. Ketika pacul berpindah dari alat bersama menjadi alat kekuasaan, maka yang terjadi adalah “segane dadi sak latar”—hasil panen hanya bisa dilihat, tapi tak bisa dinikmati oleh rakyat. Ini kritik ekologis dan politik yang sangat tajam.
Lagu ini juga membawa peringatan filosofis tentang keseimbangan hidup. Ia mengingatkan bahwa ketiadaan kehati-hatian dalam memikul tanggung jawab (wakul) bisa menyebabkan kehancuran. Ia menyerukan bahwa kerja harus dibarengi dengan niat dan rendah hati. Ia menyimpan ajaran bahwa pangan bukan semata hasil, tapi proses sosial dan spiritual. Semua itu dirangkai dalam bait pendek dan irama sederhana, tapi daya gugatnya luar biasa.
Tembang “Gundhul-Gundhul Pacul” bukan sekadar nostalgia masa kecil. Ia adalah arsip kesadaran rakyat. Ia adalah suara petani yang tak pernah dituliskan dalam buku kebijakan. Ia adalah kritik yang disampaikan dalam gelak tawa. Dan karena itulah ia kuat—karena ia hidup di antara rakyat.
Mungkin sudah saatnya kita kembali mendengarkan lagu ini, bukan hanya sebagai pengiring permainan, tetapi sebagai bahan refleksi politik. Apakah kita masih membawa pacul dalam arti sejati? Atau kita hanya menggendong simbol-simbol palsu, sementara rakyat tergelincir bersama wakul yang tumpah? Pertanyaan ini layak direnungkan, sambil kita menyanyikan kembali lagu lama yang ternyata sangat aktual.