Aroma Mawar Dapat Memperbesar Materi Abu-Abu Otak

Sumber ilustrasi: Pixabay

2 September 2025 10.30 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [02.09.2025] Berbagai cara telah dikenal luas untuk meningkatkan fungsi otak, mulai dari olahraga teratur hingga pembelajaran keterampilan baru. Pertanyaan menarik muncul: bisakah ukuran fisik otak ditingkatkan melalui pendekatan yang lebih sederhana? Sebuah studi baru dari Jepang mengindikasikan bahwa penggunaan aroma tertentu secara terus-menerus dapat menghasilkan perubahan nyata pada struktur otak, khususnya dengan meningkatkan volume materi abu-abu.

Penelitian ini dilakukan oleh tim ilmuwan dari Kyoto University dan University of Tsukuba, dengan melibatkan total 50 perempuan dewasa. Para partisipan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu 28 orang yang menggunakan minyak esensial beraroma mawar yang ditempelkan pada pakaian mereka setiap hari selama sebulan, dan 22 orang yang hanya menggunakan air biasa sebagai kelompok kontrol.

Pengamatan menggunakan pencitraan resonansi magnetik (MRI) menunjukkan bahwa kelompok yang terpapar aroma mawar mengalami peningkatan signifikan dalam volume materi abu-abu. Meskipun peningkatan ukuran otak tidak secara otomatis berbanding lurus dengan peningkatan kecerdasan, hasil ini memberikan dasar penting untuk memahami pengaruh aroma terhadap kesehatan otak.

Materi abu-abu merupakan bagian penting dalam sistem saraf pusat dan berperan dalam fungsi kognitif, memori, serta persepsi sensorik. Dalam studi ini, para peneliti tidak hanya mengamati peningkatan materi abu-abu secara keseluruhan, tetapi juga mencatat bahwa pertumbuhan ini tidak terjadi secara merata di semua area otak.

Peningkatan paling menonjol ditemukan di posterior cingulate cortex (PCC), yaitu bagian otak yang berperan dalam pengolahan memori dan asosiasi informasi. Sebaliknya, amigdala—yang berfungsi dalam pengolahan emosi dan penciuman—serta korteks orbitofrontal—yang mengatur persepsi aroma menyenangkan—menunjukkan sedikit perubahan. Temuan ini mengindikasikan bahwa paparan aroma mawar secara terus-menerus kemungkinan besar merangsang aktivitas otak yang berkaitan dengan memori daripada persepsi aroma semata.

Fenomena ini diduga berkaitan dengan mekanisme kompensasi otak. Ketika aroma mawar hadir secara konstan, otak tidak lagi memerlukan pemrosesan intens dari amigdala, melainkan mengandalkan PCC untuk menyimpan dan mengasosiasikan memori terhadap aroma tersebut. Hal ini sejalan dengan temuan sebelumnya pada individu dengan gangguan penciuman, di mana PCC menunjukkan aktivitas yang meningkat seiring penurunan aktivitas amigdala.

Selain itu, para peneliti mempertimbangkan kemungkinan lain, yaitu bahwa otak justru menilai aroma mawar sebagai stimulus yang tidak sepenuhnya menyenangkan, sehingga memicu aktivasi sistem regulasi emosi. Aktivitas ini dapat mendorong PCC bekerja lebih keras dan mengalami pertumbuhan struktural sebagai respons adaptif.

Studi ini merupakan bagian dari upaya untuk mengeksplorasi potensi aromaterapi berbasis ilmiah. Jika aroma tertentu terbukti dapat merangsang bagian otak yang kritis untuk memori dan fungsi kognitif, maka pendekatan ini dapat digunakan sebagai intervensi non-invasif untuk mendukung kesehatan otak dan pencegahan penurunan kognitif.

Penelitian ini menunjukkan bahwa penghirupan aroma mawar secara berkelanjutan berpotensi meningkatkan volume materi abu-abu di bagian otak yang berkaitan erat dengan memori dan pemrosesan semantik. Dengan ditemukannya peningkatan aktivitas di PCC, temuan ini mengarah pada kemungkinan penggunaan aroma sebagai stimulus neuroplastisitas yang sederhana dan murah, serta dapat diintegrasikan ke dalam kehidupan sehari-hari seperti penggunaan parfum atau pengharum pakaian.

Meski masih diperlukan penelitian lanjutan dengan skala lebih besar dan variasi jenis aroma, hasil awal ini membuka jalur baru dalam pengembangan terapi penciuman untuk kesehatan mental dan pencegahan penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer. Mengingat bahwa PCC merupakan salah satu area pertama yang menyusut pada penderita Alzheimer, menjaga aktivitasnya melalui stimulasi aroma bisa menjadi strategi preventif yang menjanjikan.

Diolah dari artikel:
“Smelling This One Specific Scent Can Boost The Brain’s Gray Matter” oleh David Nield.

Link: https://www.sciencealert.com/smelling-this-one-specific-scent-can-boost-the-brains-gray-matter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *