Sumber ilustrasi: Pixabay
8 September 2025 15.20 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [08.09.2025] Fenomena hujan es selama ini dikenal sebagai kejadian cuaca ekstrem yang dapat menimbulkan kerusakan besar. Bongkahan es yang jatuh dari langit bisa menghantam permukaan keras, memecahkan kaca kendaraan, merusak atap rumah, bahkan menghancurkan tanaman dalam hitungan menit. Meski durasinya sering singkat dan tak terduga, hujan es bisa menjadi bencana kecil yang dampaknya terasa cukup besar, terutama jika batu es yang jatuh berukuran besar.
Secara ilmiah, hujan es terbentuk di awan-awan tinggi saat badai terjadi. Prosesnya dimulai ketika tetesan hujan membeku, lalu saling bertabrakan dan membesar hingga menjadi batu es yang berat dan akhirnya jatuh ke tanah. Batu es berukuran besar dan padat dapat menimbulkan kerusakan serius pada infrastruktur, kendaraan, dan lahan pertanian. Seorang meteorolog dari Universitas Oklahoma, Zach Lebo, menyebut bahwa keluarganya harus mengganti atap rumah dua kali dalam satu dekade akibat hujan es.
Dalam upaya memahami lebih dalam proses pembentukan hujan es, ilmuwan kini mulai meneliti pola pergerakan batu es di atmosfer. Beberapa di antaranya dilaporkan berdiameter lebih dari 13 sentimeter, bahkan melebihi ukuran bola softball, menunjukkan adanya proses akumulasi es yang ekstrem di dalam awan sebelum batu tersebut jatuh ke bumi.
Selama bertahun-tahun, ilmuwan menduga bahwa batu es tumbuh besar karena mengikuti lintasan melingkar di dalam awan, naik dan turun dalam pola berulang seperti komidi putar yang dimiringkan. Akan tetapi, analisis terbaru dari ilmuwan atmosfer di Tiongkok menunjukkan bahwa model tersebut mungkin tidak berlaku secara umum. Studi tersebut memanfaatkan batu es yang dikumpulkan oleh para ilmuwan warga di 15 provinsi sejak tahun 2016.
Lebih dari 3.000 batu es dikumpulkan oleh warga dan disimpan dalam lemari pembeku rumah mereka sampai dapat diambil oleh tim peneliti yang dipimpin oleh Qinghong Zhang dari Universitas Peking. Tim tersebut kemudian melakukan analisis kimia pada lapisan-lapisan es di dalam batu tersebut. Dengan mempelajari isotop oksigen yang terkandung di setiap lapisan, para peneliti dapat mencocokkannya dengan kondisi atmosfer di berbagai ketinggian, dan menyusun ulang jalur pembentukan batu es di langit.
Dari 27 sampel batu es yang dianalisis secara detail, hanya satu yang menunjukkan pergerakan melingkar seperti yang selama ini diasumsikan. Zhang mengungkapkan bahwa temuan ini sangat mengejutkan karena bertentangan dengan teori dominan sebelumnya mengenai pembentukan hujan es.
Selain mempelajari jalur pergerakan batu es, peneliti juga mengamati bentuk fisik batu es sebagai petunjuk bagaimana batu tersebut terbentuk. Seorang peneliti dari perusahaan Atmospheric and Environmental Research, Becky Adams-Selin, menjelaskan bahwa bentuk batu es sangat bervariasi dan jarang sekali bulat sempurna. Ada yang berbentuk seperti bola bertonjolan, ada pula yang menyerupai gumpalan-gumpalan tak beraturan, mengindikasikan proses pembentukan yang kompleks.
Selama musim semi dan musim panas tahun 2025, Adams-Selin tergabung dalam proyek ICECHIP (In-Situ Collaborative Experiment for the Collection of Hail in the Plains) yang mengumpulkan sampel hujan es di wilayah Front Range Pegunungan Rocky hingga Dataran Tengah Amerika Serikat. Daerah ini termasuk Montana, Wyoming, Colorado, Dakota, dan negara bagian lainnya yang dikenal sebagai pusat badai dan hujan es besar.
ICECHIP menggunakan berbagai instrumen untuk mengukur suhu udara, intensitas hujan, dan kekuatan benturan batu es ketika mencapai tanah. Adams-Selin juga merancang alat berbentuk corong besar yang mampu menyalurkan batu es langsung ke dalam freezer bertenaga baterai di kendaraan tim, memungkinkan batu es disimpan dalam kondisi utuh sampai dianalisis lebih lanjut di laboratorium.
Menurut Liye Li, seorang meteorolog dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), batu es merupakan salah satu “jendela” yang memungkinkan ilmuwan melihat kondisi atmosfer yang sulit diamati secara langsung. Bagian dalam awan masih menjadi wilayah yang “tak terlihat” oleh kebanyakan instrumen meteorologi. Dengan menganalisis batu es yang terbentuk di dalam awan dan jatuh ke bumi, para peneliti memperoleh informasi penting tentang proses-proses mikrofisika yang terjadi di ketinggian.
Penelitian terkini tentang hujan es menunjukkan bahwa jalur pembentukan batu es di atmosfer ternyata lebih kompleks daripada yang diperkirakan sebelumnya. Asumsi bahwa batu es tumbuh besar melalui lintasan berputar naik-turun kini mulai dipertanyakan, setelah analisis isotop dan bentuk batu es menunjukkan mayoritas mengikuti jalur lain. Hal ini menandakan perlunya pendekatan baru dalam memahami proses pembentukan hujan es, serta bagaimana batu tersebut dapat tumbuh hingga mencapai ukuran ekstrem.
Dengan proyek seperti ICECHIP dan kolaborasi bersama ilmuwan warga, para peneliti kini memiliki lebih banyak data dan metode untuk menyelidiki hujan es secara mendalam. Pemahaman yang lebih baik mengenai formasi hujan es tidak hanya penting bagi ilmu pengetahuan atmosfer, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat praktis dalam peringatan dini cuaca ekstrem dan mitigasi kerusakan akibat badai di masa depan.
Diolah dari artikel:
“Watch out: Hail can get really big!” oleh Katherine Kornei, Science News Explores.
Link: https://www.snexplores.org/article/how-hail-forms-weather