Sumber ilustrasi: Freepik
10 September 2025 08.35 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [10.09.2025] Istilah “alpha male” pertama kali muncul pada tahun 1970 ketika digunakan untuk menggambarkan struktur sosial pada kawanan serigala. Konsep ini diperkenalkan oleh ahli biologi satwa liar David Mech yang menggambarkan keberadaan sepasang individu dominan, jantan dan betina, yang berperan sebagai pemimpin kelompok sekaligus penghasil keturunan. Seiring waktu, gagasan tersebut meluas ke kajian berbagai hewan sosial lain dan kemudian masuk ke budaya populer sebagai istilah bagi sosok manusia yang percaya diri, dominan, dan terkadang keras.
Akan tetapi, lebih dari dua dekade setelah teorinya dipublikasikan, Mech meninjau ulang temuannya. Berdasarkan pengamatan berikutnya, kawanan serigala liar lebih tepat dipahami sebagai unit keluarga, dengan pasangan dominan hanyalah induk dari anggota kelompok. Dalam salah satu penjelasan videonya, Mech menekankan bahwa status kepemimpinan bukan diperoleh melalui perebutan posisi, melainkan karena peran sebagai orang tua yang secara alami mengarahkan kelompok.
Sejumlah penelitian kemudian memperluas pembahasan konsep alfa pada berbagai spesies. Hasil riset menunjukkan bahwa dominasi tidak selalu berada pada jantan. Pada beberapa hewan seperti hyena, orca, dan meerkat, justru betina yang memegang kendali. Pada primata, struktur sosial lebih cair, sementara pada singa Afrika, kepemimpinan dibagi dalam bentuk koalisi di antara beberapa individu.
Para ahli ekologi perilaku menilai bahwa konsep alfa tetap relevan, tetapi tidak sesederhana sebagaimana dipahami publik. Hewan sosial memang umumnya memiliki hierarki untuk mengatur akses terhadap makanan, pasangan, dan wilayah. Struktur ini membantu mencegah konflik sekaligus menjaga keseimbangan dalam kelompok. Namun demikian, bentuk hierarki tersebut sangat bervariasi. Sebagai contoh, ayam memiliki sistem yang linear dengan satu betina dominan, sedangkan tikus mondok telanjang hidup dengan satu pasangan dominan yang memimpin dan berkembang biak, sementara anggota lainnya relatif setara.
Keragaman tersebut semakin kompleks pada hewan dengan otak besar, terutama primata. Hubungan sosial pada spesies ini tidak bersifat kaku, melainkan terbagi dalam banyak lapisan hierarki yang mencakup aspek berbeda dalam kehidupan kelompok. Dominasi biasanya berhubungan dengan kekuatan fisik, tetapi kekuasaan tidak selalu identik dengan kepemimpinan. Dalam beberapa kasus, keputusan penting seperti arah perjalanan atau strategi menghadapi kelompok lain tidak selalu ditentukan oleh individu terkuat.
Selain itu, status alfa juga tidak permanen. Para peneliti menemukan bahwa posisi dominan lebih mirip jabatan sementara daripada sifat bawaan. Perubahan status dapat terjadi dengan cepat, terutama jika individu dengan peringkat tinggi memperoleh lebih banyak keuntungan. Selama hidupnya, seekor hewan bisa saja pernah menjadi alfa pada satu waktu tertentu, lalu kehilangan posisi tersebut di fase lain.
Konsep ini kemudian dikaitkan dengan manusia. Sosok yang dianggap sebagai “alpha male” mungkin terlihat dominan dalam situasi sosial, tetapi belum tentu paling kuat secara fisik atau layak dipilih sebagai pemimpin. Para ahli menekankan bahwa dalam masyarakat terdapat perbedaan antara kekuasaan dan prestise. Fleksibilitas peran sosial membuat manusia memiliki kemampuan unik untuk menempati posisi yang berbeda tergantung pada konteks.
Meski demikian, fenomena dominasi tetap terlihat nyata pada beberapa hewan. Contohnya pada tikus, perubahan status dapat memicu perubahan fisiologis berupa pembesaran testis, peningkatan produksi testosteron, dan perilaku penandaan wilayah. Hal ini menunjukkan bahwa status alfa dapat memengaruhi kondisi biologis individu.
Akan tetapi sejumlah ahli berpendapat bahwa istilah “alpha male” terlalu menyederhanakan realitas sosial hewan, terutama pada spesies yang lebih cerdas. Pemimpin kelompok tidak selalu identik dengan individu yang memenangkan semua pertarungan. Distribusi kekuasaan sering kali jauh lebih kompleks daripada sekadar satu individu yang berada di puncak hierarki.
Konsep “alpha male” berawal dari kajian terhadap serigala, tetapi kemudian berkembang menjadi istilah populer yang dipakai untuk menggambarkan dominasi dalam berbagai konteks, termasuk manusia. Perkembangan penelitian menunjukkan bahwa hierarki sosial memang ada pada banyak spesies, tetapi bentuknya sangat beragam dan sering kali lebih cair daripada yang digambarkan teori awal. Status alfa lebih tepat dipahami sebagai posisi sementara yang dipengaruhi kondisi sosial dan biologis, bukan sebagai ciri tetap pada individu tertentu.
Dengan demikian, istilah “alpha male” tidak sepenuhnya keliru, tetapi penggunaannya dalam menjelaskan perilaku sosial manusia maupun hewan sering kali menutupi kompleksitas yang sebenarnya. Kepemimpinan, dominasi, dan prestise merupakan aspek yang saling terkait namun tidak identik, sehingga pemahaman yang lebih nuansa diperlukan untuk menggambarkan dinamika sosial pada spesies dengan kecerdasan tinggi.
Diolah dari artikel:
“Are alpha males real?” oleh Victoria Atkinson.
Link: https://www.livescience.com/animals/are-alpha-males-real