Sumber ilustrasi: Unsplash
11 September 2025 08.35 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [11.09.2025] Sudah lama beredar klaim bahwa manusia dan simpanse berbagi hampir 99% materi genetik, sebuah angka yang kerap digunakan untuk menggambarkan betapa dekatnya hubungan evolusioner antara kedua spesies tersebut. Klaim ini berasal dari perbandingan awal antara urutan DNA manusia (Homo sapiens) dan simpanse (Pan troglodytes), yang menunjukkan tingkat kesamaan sangat tinggi, terutama pada bagian genom yang bisa disejajarkan secara langsung.
Akan tetapi, kesimpulan tersebut ternyata tidak mencakup keseluruhan genom, terutama pada bagian-bagian yang kompleks atau sulit dibandingkan. Dalam beberapa tahun terakhir, analisis genomik yang lebih komprehensif mengungkap bahwa perbedaan antara manusia dan simpanse jauh lebih besar dari yang selama ini diyakini. Para peneliti kini menyarankan untuk meninjau ulang angka tersebut dengan pendekatan yang lebih menyeluruh dan akurat.
Genom manusia dan simpanse sama-sama terdiri atas sekitar 3 miliar pasangan basa, tersusun dari empat nukleotida: adenin (A), guanin (G), sitosin (C), dan timin (T). Ketika ilmuwan melakukan perbandingan, mereka memetakan urutan huruf-huruf ini dan mencari bagian-bagian di mana DNA kedua spesies tersebut memiliki kesamaan yang bisa disejajarkan secara langsung. Dari proses ini, ditemukan bahwa rata-rata hanya terdapat satu perbedaan setiap seratus huruf, yang kemudian melahirkan angka 98%–99% kemiripan.
Namun demikian, angka tersebut hanya berlaku untuk segmen genom yang memang bisa disejajarkan. Sekitar 15% hingga 20% dari genom manusia tidak memiliki padanan langsung dalam genom simpanse. Ini mencakup bagian DNA yang hanya ada pada satu spesies, yang disebut sebagai insertion dan deletion, serta bagian yang telah berpindah lokasi selama proses evolusi dari nenek moyang bersama. Segmen-segmen inilah yang tidak tercakup dalam perhitungan awal.
Ketika segmen yang sulit disejajarkan tersebut dimasukkan dalam analisis, tingkat perbedaan antara manusia dan simpanse meningkat secara signifikan. Studi terbaru memperkirakan perbedaan total mencapai antara 5% hingga lebih dari 10%. Bahkan, satu studi pada tahun 2025 menyebutkan bahwa perbedaan genom antara manusia dan simpanse mencapai sekitar 15% jika dibandingkan secara langsung dan menyeluruh. Studi tersebut juga menunjukkan bahwa variasi genetik di dalam spesies simpanse sendiri bisa mencapai 9%, menandakan kompleksitas yang tinggi dalam genom mereka.
Perbedaan yang ditemukan sebagian besar berada pada noncoding DNA, yaitu bagian genom yang tidak berfungsi langsung dalam membentuk protein. Meskipun demikian, bagian ini sangat penting karena mengandung elemen pengatur yang mengendalikan kapan, di mana, dan seberapa banyak protein diproduksi. Dengan kata lain, perbedaan kecil di area pengatur ini dapat berdampak besar pada ekspresi gen dan, pada akhirnya, menghasilkan variasi besar dalam sifat fisik dan perilaku.
Pengaruh dari ekspresi gen yang berbeda inilah yang menjadi penjelasan mengapa manusia dan simpanse, meskipun memiliki “alat genetik” yang serupa, dapat berkembang menjadi spesies dengan perbedaan yang begitu mencolok. Protein-protein yang menyusun tubuh kedua spesies pada dasarnya sama, namun cara penggunaannya, kapan dinyalakan atau dimatikan—menentukan hasil akhirnya, dari bentuk tubuh hingga tingkat kecerdasan.
Walaupun teknologi genomik saat ini telah sangat maju, masih banyak bagian dari genom kedua spesies yang terlalu kompleks untuk dibandingkan secara tepat. Dengan begitu, angka pasti tentang berapa persen DNA manusia dan simpanse yang benar-benar mirip masih terbuka untuk perdebatan, tergantung pada metode analisis yang digunakan.
Secara historis, persentase 98,8% telah digunakan untuk menekankan kedekatan antara manusia dan simpanse, namun pendekatan awal ini ternyata menyederhanakan realitas genetika yang jauh lebih kompleks. Ketika seluruh bagian genom dimasukkan ke dalam analisis, termasuk bagian yang sulit disejajarkan dan elemen pengatur dalam noncoding DNA, perbedaan antara manusia dan simpanse menjadi jauh lebih besar dari yang sebelumnya diperkirakan.
Meskipun demikian, hubungan evolusioner yang erat antara kedua spesies tetap tidak terbantahkan. Manusia dan simpanse mungkin dibentuk dari blok pembangun genetik yang sama, namun bagaimana blok tersebut diekspresikan dan diatur selama perkembangan menjadikan kedua spesies memiliki karakteristik yang sangat berbeda. Dengan semakin berkembangnya teknologi dan metode perbandingan genom, pemahaman kita tentang perbedaan ini akan semakin tajam dan akurat.
Diolah dari artikel:
“Do humans and chimps really share nearly 99% of their DNA?” oleh Clarissa Brincat.