Sumber ilustrasi: Pixabay
15 Desember 2025 09.35 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [15.12.2025] Wilayah utara China telah lama menghadapi tantangan serius berupa penggurunan yang terus meluas. Gurun Gobi dan Taklamakan, dua gurun terbesar di kawasan tersebut, secara perlahan menggerus lahan pertanian, padang rumput, dan pemukiman manusia. Proses ini diperparah oleh badai pasir yang membawa debu hingga ke kota-kota besar, termasuk Beijing, sehingga memperburuk kualitas udara dan kesehatan masyarakat.
Untuk menghadapi ancaman tersebut, China meluncurkan salah satu proyek restorasi lingkungan paling ambisius dalam sejarah modern, yang dikenal sebagai Tembok Hijau Besar atau Three-North Shelter Forest Program. Proyek ini bertujuan membentuk sabuk hutan buatan raksasa di sepanjang perbatasan utara negara itu guna menahan pergerakan pasir dan memperlambat laju penggurunan.
Sejak dimulai pada 1978, program ini telah mengubah lanskap wilayah utara China secara signifikan. Puluhan miliar pohon telah ditanam, menjadikannya proyek penanaman pohon terbesar di dunia. Namun, meskipun skala dan dampaknya sangat besar, efektivitas jangka panjang Tembok Hijau Besar masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan dan pemerhati lingkungan.
Secara resmi, Tembok Hijau Besar dirancang untuk mengurangi erosi tanah dan pengendapan pasir yang meningkat pesat sejak pertengahan abad ke-20. Urbanisasi besar-besaran dan perluasan lahan pertanian pada era tersebut mempercepat degradasi tanah di wilayah yang memang sudah kering secara alami. Kondisi ini memicu meningkatnya frekuensi badai pasir yang mengikis lapisan tanah subur dan membawa partikel debu ke wilayah perkotaan.
Secara geografis, wilayah China utara memang rentan terhadap kekeringan. Pegunungan Himalaya menciptakan efek bayangan hujan yang membatasi curah hujan di sepanjang perbatasan China dengan Mongolia. Akibatnya, Gurun Gobi dan Taklamakan berkembang menjadi kawasan tandus raksasa dengan luas gabungan sekitar 1,6 juta kilometer persegi, hampir setara dengan luas Alaska.
Meskipun berbagai upaya telah dilakukan selama lima dekade, penggurunan belum sepenuhnya terkendali. Gurun Gobi, sebagai contoh, masih terus meluas dengan kecepatan ribuan kilometer persegi per tahun. Dampak ekologisnya tidak hanya merusak ekosistem alami dan lahan pertanian, tetapi juga memperburuk polusi udara di kota-kota besar akibat meningkatnya badai pasir.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah China mengumumkan keberhasilan menutup seluruh perimeter Gurun Taklamakan dengan vegetasi. Langkah ini membantu menstabilkan bukit pasir dan berkontribusi pada peningkatan tutupan hutan nasional, yang naik dari sekitar 10 persen pada 1949 menjadi lebih dari 25 persen saat ini. Penanaman pohon di sekitar Taklamakan akan terus dilanjutkan untuk mempertahankan dan memperluas kawasan hijau tersebut.
Jika seluruh rencana berjalan sesuai target, Tembok Hijau Besar akan membentang sepanjang sekitar 4.500 kilometer pada tahun 2050. Dengan skala tersebut, proyek ini menjadi hutan hasil penanaman terbesar yang pernah dibuat manusia. Namun, besarnya skala tidak otomatis menjamin keberhasilan ekologis.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa frekuensi badai pasir di beberapa wilayah memang menurun, tetapi penurunan tersebut belum dapat dipastikan sepenuhnya sebagai hasil langsung dari Tembok Hijau Besar. Faktor iklim, seperti perubahan pola angin dan curah hujan, juga dinilai berperan besar dalam tren tersebut.
Kritik utama terhadap proyek ini berkaitan dengan rendahnya tingkat kelangsungan hidup pohon yang ditanam. Banyak area Tembok Hijau didominasi oleh satu atau dua spesies pohon saja, terutama poplar dan willow. Pola monokultur ini membuat hutan buatan tersebut sangat rentan terhadap penyakit. Sebagai contoh, satu wabah patogen pada tahun 2000 menyebabkan kematian sekitar satu miliar pohon poplar di Provinsi Ningxia.
Masalah lain yang tak kalah serius adalah keterbatasan air. Banyak pohon ditanam di wilayah yang secara alami tidak memiliki cukup air untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang. Tanpa perawatan intensif dan intervensi manusia yang berkelanjutan, sebagian besar pohon tersebut gagal bertahan hidup. Dalam beberapa kasus, penanaman pohon justru mempercepat penurunan kelembapan tanah dan muka air tanah, sehingga berpotensi memperparah penggurunan di wilayah tertentu.
Selain itu, karakter monokultur Tembok Hijau Besar membatasi manfaat ekologisnya. Hutan buatan ini tidak mendukung keanekaragaman hayati secara optimal, berbeda dengan ekosistem alami yang terdiri atas berbagai spesies tumbuhan asli. Kendati demikian, proyek ini tetap dipandang sebagai tonggak penting dalam upaya global melawan degradasi lahan.
Pengaruh Tembok Hijau Besar bahkan melampaui batas China. Program ini menjadi inspirasi bagi proyek serupa di Afrika, yang dikenal sebagai Tembok Hijau Besar Afrika, berupa sabuk pepohonan sepanjang sekitar 8.000 kilometer untuk menahan penggurunan dan degradasi lahan di benua tersebut.
Tembok Hijau Besar China mencerminkan upaya luar biasa manusia dalam menghadapi tantangan lingkungan berskala besar. Dengan menanam puluhan miliar pohon selama beberapa dekade, China berusaha memperlambat laju penggurunan, mengurangi badai pasir, dan melindungi wilayah utara dari degradasi lebih lanjut.
Temuan ilmiah menunjukkan bahwa solusi berbasis penanaman pohon saja tidak cukup jika tidak disertai pendekatan ekologis yang berkelanjutan. Keanekaragaman spesies, ketersediaan air, dan kesesuaian dengan kondisi alam setempat menjadi faktor kunci yang menentukan apakah Tembok Hijau Besar dapat benar-benar berfungsi sebagai penghalang penggurunan dalam jangka panjang.
Diolah dari artikel:
“China’s Great Green Wall: The giant artificial forest designed to slow the expansion of 2 deserts” oleh Sascha Pare.
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.