Mengalami

Sumber ilustrasi: Freepik
27 Desember 2025 11.15 WIB – Akar
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Setiap orang, tanpa terkecuali, “mengalami” momen kelahiran. Suatu peristiwa yang kelak diperingati sebagai hari ulang tahun. Soalnya, dari semua orang yang mengalami peristiwa kelahiran tersebut, apakah ada yang pada waktu momen itu berlangsung, dia telah dalam posisi mengetahui kelahirannya? Dengan tidak memasukkan kisah yang “ajaib” atau peristiwa yang langka, dapat dikatakan bahwa dari semua yang mengalami momen kelahiran, tidak ada satupun yang mengetahui peristiwa tersebut pada momen kejadiannya. Bahkan, jika diminta untuk mengingat momen tersebut, sedemikian yang bersangkutan benar-benar yakin pada dirinya sendiri bahwa dia memang benar-benar mengalami momen kelahiran, maka dapat dipastikan, tidak ada satupun yang dapat memberikan kesaksian tersebut.

Mengapa demikian itu?

Sekarang kita bisa datang kepada peristiwa sehari-hari, katakana saja sejak bangun tidur hingga kembali tidur. Jika rentang waktu tersebut dianggap sebagai rentang waktu sadar sepenuhnya, maka apakah seluruh apa yang dialami seseorang sepanjang hari tersebut, dapat diketahuinya secara rinci, dari detik ke detik, atau dari menit ke menit? Jika pada malam hari, ditanyakan kepada seseorang, apa yang terjadi pada pukul 07.02? Apakah dengan cepat dapat disebutkan dengan jelas dan tegas? Pada titik ini, mungkin kita akan dibawa pada beberapa konsep dasar, seperti mengalami, mengingat dan mengetahui. Namun demikian, soal yang diangkat di sini tetaplah perihal mengalami. Apa sebenarnya peristiwa tersebut? Apakah manusia, sang subyek, dapat menghindari dari momen mengalami? Bukankah sepanjang hidupnya adalah cerita mengalami?

Dengan optik ini, mungkin kita dapat mengatakan bahwa mengalami adalah kondisi dasar keberadaan, tempat hidup berlangsung sebelum dipilah, dipahami, atau ditata menjadi pengetahuan. Mengalami bukan aktivitas mental yang disengaja, melainkan keterlibatan faktual di dalam “gerak” kejadian yang sedang berjalan. Dalam mengalami, subyek tidak berhadapan dengan dunia sebagai pengamat, tetapi berada di dalam dunia sebagai bagian darinya. Mengalami menandai kenyataan bahwa hidup selalu sudah berlangsung sebelum kesadaran sempat mengambil posisi reflektif atau sebelum jarak dapat diambil.

Mengalami tidak mensyaratkan pengetahuan. Peristiwa dapat sepenuhnya dijalani tanpa pernah disadari sebagai peristiwa. Ketidakhadiran pengetahuan bukan kegagalan, melainkan konsekuensi dari keterlibatan total. Pada saat mengalami berlangsung, jarak epistemik belum tersedia, sehingga tidak ada posisi luar yang memungkinkan pengenalan, penilaian, atau penguasaan makna. Dalam batas tertentu, dapat dikatakan bahwa mengalami bekerja pada tingkat yang lebih dasar daripada mengetahui.

Mengalami selalu bersifat “tersituasikan”. Tidak ada mengalami yang terjadi dalam ruang kosong atau kondisi abstrak. Setiap mengalami berlangsung dalam konfigurasi ruang, waktu, tubuh, dan relasi tertentu yang tidak dipilih oleh subyek – meskipun mungkin ada upaya untuk mengendalikan keadaan. Mengalami mengikat subyek pada kenyataan konkret dan meniadakan kemungkinan netralitas. Posisi subyek di dalam situasi bukan tambahan, melainkan unsur konstitutif dari apa yang dijalani.

Mengalami bersifat relasional. Yang dijalani bukanlah isi batin terisolasi, melainkan perjumpaan terus-menerus dengan dunia dan dengan yang lain. Relasi tersebut tidak sepenuhnya dapat dikendalikan, karena selalu mengandung unsur keterpaparan dan ketergantungan. Dalam mengalami, subyek tidak berdaulat atas kondisi yang membentuknya, tetapi dibentuk oleh relasi-relasi yang sedang berlangsung.

Mengalami bersifat temporal terbuka. Proses ini berjalan tanpa mengetahui arah akhir atau hasilnya. Ketidakpastian, ambiguitas, dan ketaktertuntasan merupakan ciri inheren, bukan gangguan. Mengalami tidak bergerak menuju kepastian makna, melainkan berlangsung di dalam ketegangan antara apa yang sedang terjadi dan apa yang belum dapat ditentukan.

Mengalami tidak pernah sepenuhnya dapat direpresentasikan. Banyak yang dijalani tidak meninggalkan jejak yang dapat diartikulasikan atau disistematisasi. Yang terlalu cepat, terlalu dini, terlalu intens, atau terlalu rutin sering luput dari pengetahuan eksplisit. Mengalami selalu melampaui kapasitas penamaan dan penyimpanan, sehingga menyisakan residu yang tidak dapat ditangkap.

Mengalami bersifat asimetris terhadap mengetahui. Arus yang dijalani jauh lebih luas daripada apa yang dapat dipahami atau disadari. Hanya sebagian kecil dari yang dijalani dapat berhenti cukup lama untuk memungkinkan jarak epistemik. Dengan demikian, ketidaktahuan bukan kekurangan kontingen, melainkan kondisi normal dari hidup yang sedang berlangsung.

Mengalami tidak identik dengan kesadaran diri. Subyek dapat menjalani sesuatu tanpa mampu mengatakan bahwa sesuatu itu sedang dijalani. Kesadaran reflektif muncul sebagai kemungkinan sekunder, bukan sebagai syarat awal. Mengalami mendahului pembentukan identitas, narasi diri, dan posisi subyektif yang stabil.

Mengalami juga bersifat rentan. Keterlibatan langsung membuat subyek terbuka terhadap perubahan, gangguan, dan kejadian yang tidak direncanakan. Kerentanan ini bukan kelemahan yang harus diatasi, melainkan (mungkin) suatu kondisi ontologis yang memungkinkan dunia benar-benar hadir. Tanpa kerentanan, yang terjadi hanyalah simulasi keterlibatan.

Dengan demikian, mengalami dapat dipahami sebagai medan dasar tempat hidup berlangsung sebelum dipisahkan menjadi subyek dan obyek, sebelum ditata menjadi pengetahuan, dan sebelum distabilkan menjadi makna. Mengalami bukan tahap awal yang segera ditinggalkan, melainkan dimensi yang terus menyertai hidup. Selama hidup berlangsung, mengalami tidak pernah berhenti bekerja, meskipun hanya sebagian kecil darinya yang dapat diketahui.

Apakah seluruh uraian tersebut telah sepenuhnya dapat menangkap apa sesungguhnya makna mengalami? Apakah mengalami khas manusia? Ataukah tidak? Jika pembahasan tidak dibatasi pada subyek yang adalah manusia, atau dia yang dipandang memiliki kesadaran dan kemampuan untuk melakukan refleksi, maka peristiwa mengalami merupakan peristiwa yang dapat dikatakan berlangsung pada apa saja. Sampai di sini, mengalami sebenarnya bukan peristiwa satu arah, melainkan peristiwa timbal balik. Jika manusia mengalami hal-hal tertentu, maka hal-hal tertentu itu, pada momen yang sama, dan dari sudut yang berbeda atau berlawan, mengalami manusia.

Pengalaman

Pengalaman muncul sebagai kelanjutan dari mengalami ketika keterlibatan langsung dengan peristiwa telah mereda dan memungkinkan terbentuknya jarak. Pengalaman bukan peristiwa yang sedang berlangsung, melainkan apa yang tertinggal setelah arus hidup berhenti menekan subyek secara penuh. Dalam pengertian ini, pengalaman selalu datang kemudian dan keberadaannya bergantung pada kemampuan subyek menarik kembali sesuatu yang telah dijalani ke dalam kesadaran.

Sebagai hasil pengendapan, pengalaman menandai peralihan dari keterlibatan menuju pemilahan. Yang semula hadir sebagai arus simultan kini dipisah, diberi batas, dan dikenali sebagai sesuatu yang “terjadi”. Proses ini menuntut stabilitas minimal: peristiwa harus cukup terlepas dari tekanan situasi agar dapat dibedakan dari arus hidup lainnya. Tanpa pemilahan semacam ini, yang ada hanyalah keberlangsungan tanpa bentuk.

Pengalaman selalu bersifat retrospektif. Kehadirannya tidak bersamaan dengan peristiwa, melainkan terbentuk setelah peristiwa berlalu. Retrospeksi ini bukan semata persoalan waktu, melainkan perubahan posisi subyek: dari berada sepenuhnya di dalam peristiwa menuju berhadapan dengan peristiwa sebagai sesuatu yang dapat ditunjuk. Pada titik ini, relasi subyek–obyek mulai memperoleh bentuk yang relatif stabil.

Dalam pembentukannya, pengalaman bergantung pada medium artikulasi. Bahasa, ingatan, simbol, dan skema pemahaman menyediakan wadah bagi peristiwa yang telah berlalu untuk memperoleh bentuk yang dapat dikenali. Medium tersebut tidak netral, melainkan menentukan apa yang dapat tampil sebagai pengalaman dan apa yang tidak. Banyak yang dijalani gugur karena tidak menemukan bentuk artikulasi yang memadai.

Pengalaman selalu bersifat selektif. Dari keseluruhan yang dijalani, hanya sebagian kecil yang bertahan dan muncul sebagai sesuatu yang dapat diingat atau diceritakan. Seleksi ini dipengaruhi oleh intensitas, relevansi, serta kesesuaian dengan kerangka makna yang telah tersedia. Yang terlalu rutin, terlalu samar, atau terlalu bertentangan dengan skema yang ada sering kali tidak mengendap menjadi pengalaman.

Selain selektif, pengalaman juga bersifat reduktif. Kompleksitas peristiwa harus dipadatkan agar dapat ditampung dalam bentuk naratif atau konseptual. Reduksi memungkinkan refleksi dan komunikasi, tetapi sekaligus menghilangkan banyak dimensi yang sebelumnya hadir dalam mengalami. Setiap pengalaman membawa kehilangan yang tidak dapat sepenuhnya dipulihkan.

Pengalaman memiliki stabilitas relatif. Setelah terbentuk, pengalaman dapat disimpan, diingat kembali, dan dipertukarkan. Stabilitas ini memberi kesan ketetapan, seolah pengalaman merupakan unit yang utuh dan pasti. Namun ketetapan tersebut merupakan hasil pembingkaian, bukan cerminan langsung dari kepenuhan peristiwa yang dijalani.

Pengalaman selalu bersifat posisional. Bentuk yang muncul terikat pada sudut pandang, kondisi, dan kapasitas subyek tertentu. Peristiwa yang serupa dapat menghasilkan pengalaman yang berbeda pada subyek yang berbeda. Karena itu, pengalaman tidak pernah sepenuhnya objektif, meskipun dapat dibagikan dan dibandingkan.

Dalam kaitannya dengan pengetahuan, pengalaman berfungsi sebagai bahan yang telah diolah. Pengetahuan tidak bekerja langsung atas arus hidup yang mentah, melainkan atas pengalaman yang sudah distabilkan dan dipilah. Hubungan ini menjelaskan mengapa pengetahuan selalu lebih sempit daripada hidup yang dijalani dan mengapa banyak aspek kenyataan tidak pernah masuk ke dalam ranah pengetahuan.

Dengan demikian, pengalaman dapat dipahami sebagai bentuk hidup yang telah dijauhkan dari arus berlangsungnya. Pengalaman memungkinkan refleksi, komunikasi, dan pembelajaran, tetapi selalu membawa jarak dari kepenuhan mengalami. Dalam jarak tersebut terletak kekuatan pengalaman sekaligus batasnya: kemampuan memberi bentuk pada yang telah dijalani, tanpa pernah sepenuhnya menyamai apa yang sungguh-sungguh berlangsung.

Transformasi

Transformasi dari mengalami menjadi pengalaman berlangsung ketika arus keterlibatan langsung mulai kehilangan tekanannya. Selama mengalami, subyek berada di dalam peristiwa tanpa jarak; transformasi dimulai saat peristiwa tidak lagi sepenuhnya menyerap perhatian, tubuh, dan afeksi. Pelepasan awal ini bukan keputusan sadar, melainkan perubahan situasional: intensitas menurun, ritme melambat, dan keterpaparan tidak lagi total.

Langkah pertama transformasi adalah jeda temporal. Peristiwa harus cukup berlalu sehingga tidak lagi berlangsung sebagai kini yang mendesak. Jeda ini memungkinkan peristiwa dipisahkan dari arus hidup yang lain. Tanpa jeda, tidak ada batas yang jelas antara apa yang sedang dijalani dan apa yang telah berlalu; karena itu, tidak ada bahan yang dapat mengendap menjadi sesuatu yang dikenali.

Bersamaan dengan jeda temporal, terjadi jarak afektif. Selama mengalami, afeksi bekerja secara menyeluruh dan sering kali menutup kemungkinan refleksi. Transformasi menuntut berkurangnya tekanan afektif agar subyek tidak lagi sepenuhnya terseret oleh situasi. Jarak ini tidak berarti penghilangan emosi, melainkan perubahan kualitas keterlibatan: dari “tenggelam” menjadi “berhadapan”.

Setelah jarak mulai tersedia, berlangsung pemilahan awal. Dari keseluruhan yang dijalani, aspek-aspek tertentu mulai menonjol sementara yang lain memudar. Pemilahan ini tidak netral dan tidak sepenuhnya disadari. Intensitas, keunikan, atau relevansi terhadap kerangka yang sudah ada menentukan apa yang bertahan. Banyak bagian dari mengalami tidak melewati tahap ini dan lenyap tanpa jejak.

Tahap berikutnya adalah pembentukan batas peristiwa. Apa yang semula hadir sebagai arus kontinu kini diperlakukan sebagai sesuatu yang memiliki awal dan akhir. Pembatasan ini krusial karena pengalaman mensyaratkan bentuk. Tanpa batas, tidak ada “sesuatu” yang dapat dirujuk; yang ada hanya keberlangsungan tanpa kontur.

Pembentukan batas diikuti oleh artikulasi. Peristiwa yang telah dipilah dan dibatasi memerlukan medium untuk tampil sebagai pengalaman. Bahasa, ingatan, simbol, atau skema pemahaman menyediakan bentuk yang memungkinkan peristiwa dikenali dan disimpan. Artikulasi selalu bersifat konstruktif: peristiwa tidak dipindahkan begitu saja, melainkan dibentuk ulang agar sesuai dengan medium yang tersedia.

Dalam proses artikulasi terjadi reduksi struktural. Kompleksitas mengalami tidak dapat dipertahankan sepenuhnya. Detail-detail yang tidak dapat diungkapkan atau tidak dianggap relevan akan tersingkir. Reduksi ini memungkinkan kestabilan pengalaman, tetapi sekaligus menandai kehilangan yang tak terhindarkan. Pengalaman selalu lebih sederhana daripada apa yang dijalani.

Setelah artikulasi dan reduksi, berlangsung stabilisasi. Pengalaman memperoleh bentuk yang relatif tetap, sehingga dapat diingat kembali, diceritakan, atau digunakan sebagai rujukan. Stabilisasi memberi kesan ketetapan, padahal bentuk tersebut adalah hasil dari serangkaian penyaringan. Pada tahap ini, pengalaman mulai berfungsi sebagai unit yang dapat dipindahkan antar konteks.

Transformasi juga melibatkan reposisi subyek. Selama mengalami, subyek berada di dalam peristiwa; setelah pengalaman terbentuk, subyek berhadapan dengan peristiwa sebagai sesuatu yang “pernah terjadi”. Reposisi ini menandai perubahan relasi: dari keterlibatan menuju peninjauan. Dari titik ini, refleksi dan penilaian menjadi mungkin.

Keseluruhan proses menunjukkan bahwa transformasi dari mengalami menjadi pengalaman bukan kelanjutan otomatis, melainkan peralihan bersyarat yang melibatkan jeda, jarak, seleksi, artikulasi, dan stabilisasi. Banyak mengalami berhenti di tengah proses ini dan tidak pernah menjadi pengalaman. Yang akhirnya muncul sebagai pengalaman hanyalah fragmen-fragmen yang berhasil melewati rangkaian penyaringan tersebut, sementara sebagian besar hidup tetap tinggal sebagai arus yang dijalani tanpa pernah mengendap menjadi bentuk yang dapat dirujuk.

Apa maknanya?

Sampai di sini, refleksi seksama dan hati-hati dibutuhkan, agar apa yang terjadi dapat sepenuhnya dipahami, termasuk konsekuensinya. Mengalami adalah hal yang kongkrit, terus-menerus berlangsung, dan mungkin sudah selalu demikian. Ketika bagian dari apa yang dialami, ditarik sebagai suatu pengalaman, maka proses transformasi berlangsung, sebagaimana telah dijelaskan di atas. Namun, soal kita, bukan hanya bagaimana proses berlangsung, melainkan apa makna dari proses tersebut.

Dalam batas tertentu, hendak dikatakan bahwa makna transformasi dari mengalami menjadi pengalaman terletak pada perubahan status hidup: dari keberlangsungan yang dijalani menuju bentuk yang dapat dirujuk, dibagikan, dan dipakai. Transformasi ini bukan sekadar proses psikologis individual, melainkan mekanisme dasar yang memungkinkan hidup masuk ke dalam ranah bahasa, ingatan kolektif, pengetahuan, dan keputusan. Tanpa transformasi ini, hidup tetap berlangsung, tetapi tidak pernah menjadi sesuatu yang dapat dibicarakan, dibandingkan, atau dijadikan dasar tindakan bersama.

Pada tingkat paling dasar, transformasi tersebut bersifat “antropologis dan epistemik”. Transformasi memungkinkan manusia tidak hanya hidup, tetapi juga mengerti hidup secara terbatas. Jarak yang tercipta membuka kemungkinan refleksi, pembelajaran, dan orientasi ulang. Dalam arti ini, transformasi bukan pengingkaran terhadap hidup, melainkan syarat agar sebagian dari hidup dapat diselamatkan dari lenyap begitu saja.

Namun, dapat dikatakan bahwa transformasi tersebut sesungguhnya tidak netral. Proses seleksi, artikulasi, dan stabilisasi selalu melibatkan keputusan tertentu, baik sadar maupun tidak, tentang apa yang layak bertahan dan apa yang dibiarkan gugur. Di sinilah muncul dimensi normatif: pengalaman yang terbentuk selalu sudah terbingkai oleh bahasa yang tersedia, kategori yang sah, dan bentuk pengakuan yang diizinkan. Banyak mengalami gagal menjadi pengalaman bukan karena tidak penting, melainkan karena tidak kompatibel dengan kerangka yang dominan.

Tentu ada godaan untuk bertanya lebih jauh, apakah proses ini dapat dikatakan sebagai suatu proyek politik? Jika dilihat dari apa yang terungkap, yakni terjadinya pengaturan tentang pengalaman mana yang diakui, dibakukan, disirkulasikan, dan dilembagakan—adalah wilayah yang sama sekali tidak netral. Jika istilah politik boleh dipakai, maka akan dikatakan bahwa politik tidak menciptakan transformasi, tetapi mungkin akan mengintervensi hasilnya. Politik dalam optik ini, bekerja dengan menentukan bahasa yang sah, narasi yang boleh beredar, pengalaman yang dianggap representatif, dan pengalaman yang dianggap tidak relevan, tidak rasional, atau tidak ada.

Dengan demikian, transformasi memiliki potensi menjadi politis, bukan karena berasal dari politik, melainkan karena menjadi titik masuk “berbagai kepentingan”. Ketika pengalaman tertentu terus-menerus gagal diakui, bukan karena tidak dialami, melainkan karena tidak lolos ke tahap pengalaman yang sah, maka transformasi yang semula bersifat eksistensial berubah menjadi persoalan politik. Yang dipertaruhkan bukan hidup itu sendiri, melainkan hak hidup untuk menjadi dapat dikatakan.

Pada titik ini akan tampak bahwa transformasi memuat ambivalensi: transformasi memungkinkan hidup memasuki ruang bersama, tetapi sekaligus membuka peluang eksklusi. Transformasi bukan proyek politik, tetapi dangat mungkin merupakan medan politisasi. Di sanalah perdebatan tentang keadilan, pengakuan, dan kekuasaan menemukan salah satu titik paling halus sekaligus paling menentukan: bukan pada apa yang terjadi, melainkan pada apa yang diizinkan untuk menjadi pengalaman yang diakui. [desanomia – 271225 – dja]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *