Sumber ilustrasi: Unsplash
5 Januari 2026 11.50 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [05.01.2026] Matahari adalah objek terbesar di tata surya, dengan diameter sekitar 1,4 juta kilometer, lebih dari 100 kali lipat lebar Bumi. Meskipun ukurannya sangat besar, bintang ini sering disebut sebagai “bintang kerdil.” Pertanyaan pun muncul: apakah istilah itu akurat jika dibandingkan dengan ukuran dan pengaruh matahari di tata surya?
Secara ilmiah, matahari termasuk bintang deret utama tipe G, lebih spesifik G2V. Huruf “V” menandakan status bintang kerdil dalam klasifikasi astronomi. Kategori bintang kerdil muncul ketika astronom Denmark, Ejnar Hertzsprung, mengamati bahwa bintang-bintang merah yang paling redup ternyata lebih kecil dibanding matahari, sedangkan yang lebih terang disebut bintang raksasa. Ukuran dan kecerahan matahari saat ini lebih sebanding dengan bintang merah kerdil dibanding bintang raksasa.
Bintang tipe G dikenal sebagai “kuning,” meski warna sebenarnya lebih dekat ke putih, karena matahari memancarkan semua warna cahaya tampak. Matahari tampak kuning dari Bumi akibat hamburan cahaya oleh molekul atmosfer, sama seperti penyebab langit tampak biru. Suhu permukaan matahari sekitar 5.525 derajat Celsius, sedikit lebih panas dibanding bintang tipe G lainnya.
Bintang tipe G memiliki variasi suhu dan ukuran dari G0 hingga G9. Massa bintang tipe G berkisar antara 90% hingga 110% dari massa matahari. Warna bintang deret utama ditentukan oleh massa: bintang dengan massa lebih kecil cenderung oranye atau merah, sedangkan bintang lebih besar berwarna biru. Dengan massa dan suhunya saat ini, matahari termasuk bintang deret utama berwarna kuning.
Bintang deret utama menghasilkan energi melalui reaksi nuklir yang mengubah hidrogen menjadi helium. Proses ini melepaskan energi besar yang memungkinkan matahari mempertahankan panas dan cahayanya selama milyaran tahun.
Seiring waktu, matahari perlahan mengalami perubahan. Sejak awal berada di deret utama, ukurannya telah meningkat sekitar 10% dan akan terus membesar. Namun, statusnya tetap dianggap bintang kerdil sampai fase terakhir kehidupannya.
Dalam jangka waktu sekitar 5 miliar tahun, matahari akan kehabisan hidrogen dan mulai mengembang menjadi bintang merah raksasa. Pada tahap ini, orbit Venus dan mungkin Bumi akan tertelan, dan suhu permukaan akan menurun, membuat matahari tampak merah. Transformasi ini menandai akhir dari fase kerdil matahari.
Matahari dikategorikan sebagai bintang kerdil berdasarkan klasifikasi astronomi, meskipun ukurannya jauh lebih besar dibanding Bumi dan planet-planet lain. Status kerdilnya bukan berarti kecil secara absolut, melainkan relatif terhadap bintang raksasa lain yang lebih besar dan lebih terang.
Proses evolusi matahari menunjukkan bahwa bintang deret utama mengalami perubahan ukuran dan suhu seiring waktu. Meskipun kini termasuk bintang kerdil, matahari akan berkembang menjadi bintang merah raksasa di masa depan, menandai akhir dari fase kerdilnya.
Diolah dari artikel:
“Is the sun really a dwarf star?” oleh Charles Q. Choi.
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.livescience.com/space/the-sun/is-the-sun-really-a-dwarf-star