Sumber ilustrasi: Unsplash
17 Januari 2026 12.40 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [17.01.2026] Selama bertahun-tahun, Homo erectus dipandang sebagai spesies manusia pertama yang berhasil keluar dari Afrika dan menyebar ke wilayah Eurasia sekitar 1,8 juta tahun lalu. Pandangan ini menjadi salah satu pilar utama dalam narasi evolusi manusia, yang menempatkan Homo erectus sebagai pelopor migrasi global manusia purba.
Garis keturunan manusia, genus Homo, diperkirakan muncul di Afrika sekitar 2 hingga 3 juta tahun lalu. Dari garis keturunan ini, hanya Homo sapiens yang masih bertahan hingga saat ini. Namun, sebelum kemunculan manusia modern, berbagai spesies manusia purba pernah hidup berdampingan, bereksperimen dengan bentuk tubuh, ukuran otak, dan strategi bertahan hidup yang beragam.
Di antara spesies-spesies tersebut, Homo habilis dikenal sebagai salah satu pembuat alat batu paling awal, sementara Homo erectus menandai lompatan penting dalam penggunaan teknologi dan penyebaran geografis. Selama beberapa dekade, bukti fosil mendukung gagasan bahwa Homo erectus merupakan pelopor utama migrasi keluar Afrika.
Akan tetapi, temuan fosil dari sebuah lokasi di luar Afrika mulai menggoyahkan narasi tersebut. Situs arkeologi Dmanisi di Republik Georgia, yang ditemukan sekitar 35 tahun lalu, menyimpan fosil-fosil manusia purba yang bertanggal sekitar 1,8 juta tahun lalu, menjadikannya salah satu situs tertua manusia purba di luar Afrika.
Fosil-fosil Dmanisi terdiri dari lima tengkorak yang menunjukkan tingkat variasi anatomi yang luar biasa. Variasi ini memicu perdebatan panjang di kalangan paleoantropolog. Sebagian peneliti berpendapat bahwa seluruh fosil tersebut termasuk dalam satu spesies, Homo erectus, dengan perbedaan anatomi yang mencerminkan variasi alami seperti perbedaan jenis kelamin atau usia.
Sebaliknya, kelompok peneliti lain mengusulkan bahwa fosil-fosil tersebut mewakili lebih dari satu spesies manusia. Dalam hipotesis ini, satu kelompok fosil menunjukkan ciri yang lebih primitif dan dekat dengan australopithecus, sementara kelompok lain menampilkan karakteristik yang lebih menyerupai manusia awal.
Studi terbaru yang dipublikasikan pada Desember 2025 di jurnal PLOS One menawarkan sudut pandang baru dalam perdebatan ini. Alih-alih berfokus pada bentuk tengkorak, para peneliti memusatkan perhatian pada analisis gigi, yang sering kali menyimpan informasi evolusi yang halus tetapi penting.
Penelitian ini menganalisis 24 gigi dari tiga individu Dmanisi dan membandingkannya dengan 559 gigi dari berbagai spesies, termasuk australopithecus, manusia awal seperti Homo habilis dan Homo erectus, serta manusia modern. Pendekatan komparatif ini memungkinkan identifikasi pola kesamaan dan perbedaan yang lebih rinci.
Hasil analisis menunjukkan bahwa gigi-gigi Dmanisi terbagi ke dalam dua kelompok yang berbeda. Satu kelompok memiliki karakteristik yang lebih dekat dengan australopithecus, sementara kelompok lainnya lebih menyerupai manusia awal. Perbedaan ini paling menonjol pada gigi rahang atas.
Perbedaan yang teramati pada gigi-gigi tersebut setara dengan variasi antara jantan dan betina pada simpanse dan gorila. Temuan ini membuka kemungkinan bahwa fosil-fosil tersebut berasal dari satu spesies dengan dimorfisme seksual yang tinggi. Namun, sejumlah ciri lain menantang interpretasi ini.
Kelompok gigi yang lebih mirip australopithecus memiliki geraham ketiga yang relatif besar. Pola ini bertentangan dengan tren evolusi manusia, yang cenderung menunjukkan penyusutan ukuran geraham ketiga seiring waktu. Perbedaan ini mengindikasikan bahwa fosil-fosil tersebut mungkin tidak berasal dari satu spesies yang sama.
Beberapa paleoantropolog independen menilai bahwa Dmanisi kemungkinan merepresentasikan lebih dari satu garis keturunan manusia. Salah satu tengkorak yang ditemukan memiliki ukuran otak relatif kecil dan ciri-ciri yang sangat primitif, menyerupai Homo habilis atau bahkan australopithecus, sementara tengkorak lain tampak lebih maju dan mendekati Homo erectus awal.
Jika interpretasi ini benar, maka implikasinya sangat signifikan. Kehadiran dua spesies manusia di Dmanisi pada waktu yang sama menunjukkan bahwa migrasi keluar Afrika mungkin dimulai lebih awal dan melibatkan spesies yang lebih primitif daripada yang selama ini diasumsikan.
Dalam skenario ini, spesies manusia awal yang bermigrasi lebih dulu berpotensi menjadi leluhur jauh dari populasi manusia purba lain di Asia, termasuk Homo floresiensis di Indonesia dan Homo luzonensis di Filipina. Hubungan ini masih bersifat hipotesis, tetapi membuka jalur penelitian baru tentang penyebaran manusia purba di Asia.
Meski demikian, tidak semua ilmuwan sepakat dengan kesimpulan ini. Analisis gigi rahang bawah dalam studi yang sama menunjukkan kesamaan yang lebih kuat dengan Homo erectus, sehingga memungkinkan interpretasi bahwa fosil-fosil Dmanisi mewakili satu spesies tunggal dengan tingkat variasi yang sangat tinggi.
Dalam pandangan alternatif ini, populasi Dmanisi mungkin terdiri dari individu-individu yang mempertahankan ciri leluhur dalam tingkat berbeda-beda, sementara individu lain menunjukkan ciri yang lebih berkembang menuju Homo erectus klasik.
Analisis gigi dari fosil Dmanisi memberikan bukti baru yang menantang pandangan lama tentang migrasi manusia purba keluar Afrika. Temuan ini mengisyaratkan bahwa lebih dari satu spesies manusia mungkin telah hidup di Dmanisi sekitar 1,8 juta tahun lalu, membuka kemungkinan bahwa migrasi awal melibatkan spesies yang lebih primitif daripada Homo erectus.
Meskipun perdebatan masih berlanjut, studi ini menunjukkan bahwa evolusi manusia tidak mengikuti jalur tunggal yang sederhana. Variasi, tumpang tindih spesies, dan migrasi berlapis tampaknya menjadi bagian integral dari sejarah awal manusia, yang masih terus diungkap melalui fosil-fosil baru dan pendekatan analisis yang semakin cermat.
Diolah dari artikel
“Homo erectus wasn’t the first human species to leave Africa 1.8 million years ago, fossils suggest” oleh Charles Q. Choi
Note:
This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.