Apakah Ketergantungan pada Prompt AI Mengancam Kemampuan Berpikir Manusia?

Sumber ilustrasi: Freepik
13 Januari 2026 08.50 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [13.01.2026] Dalam beberapa tahun terakhir, kecerdasan buatan generatif telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan akademik dan profesional. Teknologi seperti chatbot AI kini digunakan untuk membantu menyusun kerangka esai, menganalisis kumpulan data besar, menyempurnakan tata bahasa, hingga memeriksa kesesuaian dokumen dengan kebutuhan tertentu. Kemudahan ini membuat AI dipandang sebagai alat yang mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas manusia dalam berbagai bidang.

Namun demikian, di balik manfaat tersebut, muncul kekhawatiran baru di kalangan ilmuwan dan pendidik. Sejumlah penelitian mulai mempertanyakan dampak jangka panjang penggunaan AI terhadap kemampuan kognitif manusia, khususnya berpikir kritis, pemecahan masalah, dan proses belajar mandiri. Kekhawatiran ini berangkat dari asumsi bahwa ketika tugas-tugas kompleks dialihkan ke mesin, aktivitas mental manusia berpotensi berkurang.

Sejumlah institusi akademik ternama, termasuk Massachusetts Institute of Technology (MIT), Carnegie Mellon University, dan Oxford University Press, telah melakukan riset untuk memahami bagaimana interaksi manusia dengan AI memengaruhi fungsi otak dan kualitas pembelajaran. Hasil awal dari berbagai studi tersebut menunjukkan gambaran yang kompleks dan tidak selalu sejalan dengan optimisme awal terhadap teknologi AI.

Penelitian yang dilakukan oleh MIT menjadi salah satu sorotan utama dalam diskursus ini. Studi tersebut melibatkan 54 partisipan dari MIT dan universitas terdekat yang diminta menulis esai dengan atau tanpa bantuan ChatGPT. Aktivitas otak para peserta direkam menggunakan elektroensefalografi (EEG), sebuah metode yang memantau sinyal listrik di otak melalui elektroda yang ditempatkan di kulit kepala. Hasilnya menunjukkan bahwa peserta yang menggunakan AI memperlihatkan aktivitas yang lebih rendah pada jaringan otak yang berkaitan dengan pemrosesan kognitif dibandingkan mereka yang mengerjakan tugas secara mandiri.

Selain itu, kelompok pengguna AI juga mengalami kesulitan ketika diminta mengutip kembali isi esai yang telah ditulis. Temuan ini mengindikasikan adanya keterlibatan mental yang lebih dangkal selama proses penulisan. Para peneliti menilai kondisi tersebut sebagai sinyal perlunya penelitian lebih lanjut mengenai potensi penurunan kemampuan belajar akibat penggunaan AI secara berlebihan.

Studi lain yang dilakukan oleh Carnegie Mellon University bekerja sama dengan Microsoft menyoroti dampak AI terhadap pekerja kantoran. Survei terhadap 319 profesional yang rutin menggunakan alat AI menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap kemampuan AI berkorelasi dengan menurunnya upaya berpikir kritis. Dalam lebih dari 900 contoh tugas yang dianalisis, ditemukan bahwa ketika pengguna yakin AI dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik, kecenderungan untuk mengevaluasi hasil secara mendalam menjadi lebih rendah.

Fenomena serupa juga ditemukan di lingkungan pendidikan dasar dan menengah. Survei yang dilakukan Oxford University Press terhadap pelajar di Inggris menunjukkan bahwa enam dari sepuluh siswa merasa penggunaan AI berdampak negatif pada keterampilan akademik mereka. Dampak tersebut terutama dirasakan dalam konteks pemahaman materi dan kemandirian belajar. Meski demikian, survei yang sama juga mencatat bahwa sebagian besar siswa mengakui AI membantu mengembangkan keterampilan tertentu, seperti kreativitas dan revisi pelajaran.

Temuan ini menunjukkan adanya paradoks dalam penggunaan AI di dunia pendidikan. Di satu sisi, AI dapat menjadi alat bantu yang efektif. Di sisi lain, penggunaan tanpa panduan berisiko membuat proses belajar menjadi terlalu mudah dan kurang menantang. Spesialis AI generatif di Oxford University Press yang terlibat dalam studi tersebut menekankan bahwa hasil penelitian menggambarkan kondisi yang bernuansa, bukan hitam-putih.

Kekhawatiran yang lebih luas disampaikan oleh peneliti pendidikan dari University College London yang menyoroti kurangnya bukti independen berskala besar mengenai efektivitas dan keamanan AI dalam pendidikan. Menurut pandangan akademis tersebut, dorongan penggunaan AI di sekolah dan universitas terlalu cepat dibandingkan dengan kecepatan riset yang mengevaluasi dampaknya terhadap pembelajaran jangka panjang.

Isu ini juga dikaitkan dengan konsep atrofi kognitif, yaitu penurunan kemampuan mental akibat terlalu sering bergantung pada alat bantu. Dalam dunia medis, penelitian terhadap radiolog menunjukkan bahwa penggunaan AI untuk membaca hasil rontgen memang meningkatkan kinerja sebagian dokter, tetapi justru menurunkan kemampuan klinis dokter lain. Studi dari Harvard Medical School menekankan bahwa interaksi manusia dengan AI perlu dirancang secara hati-hati agar teknologi tersebut benar-benar meningkatkan, bukan mengurangi, performa manusia.

Kekhawatiran serupa muncul dalam konteks pendidikan tinggi. Ketika esai mahasiswa mendapatkan nilai lebih baik berkat bantuan AI, muncul pertanyaan mendasar tentang apakah pemahaman konseptual mahasiswa justru menurun. Peneliti pendidikan menilai bahwa kualitas output yang meningkat tidak selalu sejalan dengan kualitas pembelajaran yang terjadi.

Dari sisi industri, OpenAI menyatakan kesadaran terhadap perdebatan ini. Perusahaan tersebut menegaskan bahwa ChatGPT tidak dimaksudkan untuk menggantikan proses berpikir manusia, melainkan berperan sebagai tutor yang membantu pengguna memahami permasalahan secara bertahap. Pendekatan ini dianggap lebih relevan, terutama dalam situasi ketika akses terhadap pendidik manusia terbatas.

Meski demikian, para akademisi tetap menekankan pentingnya literasi AI. Setiap pengguna, khususnya pelajar, perlu memahami cara kerja penalaran AI, keterbatasannya, serta bagaimana data diproses oleh perusahaan penyedia teknologi. Evaluasi dan verifikasi hasil AI dipandang sebagai langkah krusial agar pengguna tidak menerima informasi secara pasif.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan AI generatif membawa manfaat sekaligus risiko bagi kemampuan kognitif manusia. AI terbukti dapat meningkatkan efisiensi, kualitas hasil kerja, dan akses terhadap bantuan belajar. Namun, ketergantungan yang berlebihan berpotensi menurunkan keterlibatan mental, kemampuan berpikir kritis, serta kedalaman pemahaman, baik di lingkungan kerja maupun pendidikan.

Tantangan utama ke depan bukanlah menolak kehadiran AI, melainkan memastikan penggunaannya dilakukan secara sadar, terarah, dan kritis. Dengan pemahaman yang memadai serta panduan yang tepat, AI berpotensi menjadi alat yang memperkuat kemampuan manusia, bukan alat untuk menggantikannya.

Diolah dari artikel:
“Are these AI prompts damaging your thinking skills?” oleh George Sandeman

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.bbc.com/news/articles/cd6xz12j6pzo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *