Sumber ilustrasi: Pixabay
26 Januari 2026 09.05 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [26.01.2026] Delta sungai terbesar di dunia, termasuk Nil, Amazon, dan Ganges, sedang tenggelam lebih cepat daripada kenaikan permukaan laut global, menurut penelitian terbaru. Fenomena ini meningkatkan risiko banjir pesisir, intrusi air asin, dan hilangnya lahan, sehingga memperburuk kerentanan bagi jutaan orang yang tinggal di wilayah delta.
Para peneliti menemukan bahwa penyebab utama tenggelamnya delta adalah ekstraksi air tanah, sementara faktor tambahan seperti ekspansi kota dan penurunan jumlah sedimen sungai turut mempercepat subsiden. Delta sungai menghadapi “beban ganda” karena kombinasi tanah yang tenggelam dan permukaan laut yang naik, yang meningkatkan risiko bencana bagi masyarakat di kota-kota besar dunia.
Penelitian ini menggunakan data satelit Sentinel-1 untuk memantau 40 delta sungai terbesar di dunia antara 2014 dan 2023. Data menunjukkan perubahan elevasi tanah akibat subsiden, sedimen yang menumpuk, dan erosi. Dari 40 delta tersebut, 18 delta memiliki laju tenggelam rata-rata tahunan lebih tinggi dari kenaikan permukaan laut global, yang saat ini sekitar 0,16 inci (4 mm) per tahun.
Hampir semua delta yang dianalisis menunjukkan beberapa area tenggelam lebih cepat daripada laju kenaikan permukaan laut, kecuali Delta Rio Grande. Di 38 delta, lebih dari 50% wilayah delta mengalami subsiden, dan di 19 delta, termasuk Mississippi, Nil, dan Ganges-Brahmaputra, lebih dari 90% wilayah telah tenggelam. Delta yang paling parah meliputi Chao Phraya di Thailand, Brantas di Indonesia, dan Delta Sungai Kuning di Cina, dengan laju tenggelam rata-rata sekitar 0,3 inci (8 mm) per tahun, yaitu dua kali lipat laju kenaikan permukaan laut global.
Subsiden ini sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia. Pertumbuhan kota menambah berat di atas tanah dan meningkatkan kebutuhan air, sehingga memacu pengambilan air tanah dan memampatkan tanah. Selain itu, pengurangan sedimen akibat bendungan dan pengendalian sungai juga memperburuk subsiden, karena sedimen alami yang seharusnya mengimbangi tenggelamnya tanah berkurang. Misalnya, Delta Mississippi telah kehilangan sekitar 5.000 km² sejak 1932 karena kombinasi bendungan, tanggul, dan erosi.
Penelitian ini menegaskan bahwa penyebab utama tenggelamnya delta sungai saat ini bersifat antropogenik dan bahkan lebih dominan daripada kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim. Subsiden yang cepat meningkatkan risiko banjir pesisir, intrusi air asin, dan kehilangan lahan, terutama bagi populasi besar yang tinggal di delta dan kota megacity.
Namun, karena faktor penyebabnya sebagian besar terkait aktivitas manusia, subsiden dapat dikelola. Langkah-langkah seperti mengurangi ekstraksi air tanah, mengisi kembali akuifer dengan air banjir atau limbah yang diolah, mengatur sedimentasi, dan membatasi pembangunan berat di wilayah rawan subsiden dapat membantu mengurangi risiko jangka panjang ketika digabungkan dengan perlindungan banjir dan adaptasi iklim.
Diolah dari artikel:
“18 of Earth’s biggest river deltas — including the Nile and Amazon — are sinking faster than global sea levels are rising” oleh Sascha Pare.
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.