Sumber ilustrasi: Freepik
9 Februari 2026 09.20 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [09.02.2026] Flu biasa merupakan salah satu infeksi virus paling umum pada manusia dan hampir setiap orang pernah mengalaminya. Penyakit ini umumnya disebabkan oleh rhinovirus dan sering dianggap ringan, dengan gejala seperti hidung meler, sakit tenggorokan, dan batuk ringan. Akan tetapi, tingkat keparahan flu biasa dapat sangat bervariasi antarindividu.
Diketahui sebelumnya bahwa sebagian besar orang dapat pulih dengan cepat tanpa perawatan medis khusus. Sebaliknya, kelompok tertentu, seperti perokok, penderita asma, dan individu dengan gangguan pernapasan kronis, berisiko mengalami komplikasi serius akibat infeksi yang sama.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan ilmiah yang telah lama menjadi perhatian para peneliti, yakni mengapa virus yang sama dapat menimbulkan respons kesehatan yang sangat berbeda. Variasi genetik, kondisi kesehatan, dan faktor lingkungan diduga berperan, tetapi mekanisme biologis yang mendasarinya belum sepenuhnya dipahami.
Kemajuan teknologi laboratorium kini memungkinkan para ilmuwan meneliti respons imun manusia secara lebih rinci. Dengan memanfaatkan model jaringan manusia di luar tubuh, para peneliti mulai mengungkap peran penting respons imun lokal di hidung dalam menentukan tingkat keparahan flu biasa.
Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Cell Press Blue menggunakan pendekatan eksperimental dengan menumbuhkan model miniatur saluran hidung manusia di laboratorium, yang dikenal sebagai “Nose-in-a-dish”. Model ini dikembangkan dari sel epitel hidung, yaitu sel yang menjadi target utama infeksi rhinovirus.
Sel epitel hidung berfungsi sebagai garis pertahanan pertama terhadap virus pernapasan. Ketika terinfeksi, sel-sel ini mengirimkan sinyal ke sistem imun bawaan, yang bertugas memberikan respons cepat dan nonspesifik terhadap patogen. Salah satu komponen utama sistem ini adalah interferon, molekul yang berperan penting dalam menghambat replikasi virus.
Meskipun peran interferon dalam melawan infeksi virus telah lama diketahui, detail cara kerja interferon pada tingkat seluler masih sulit dipahami. Penelitian ini mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan menggunakan teknik sekuensing RNA sel tunggal, yang memungkinkan pengamatan aktivitas gen pada setiap sel epitel hidung secara individual.
Tim peneliti yang dipimpin oleh profesor madya kedokteran laboratorium dan imunobiologi dari Universitas Yale menumbuhkan sel epitel hidung dalam kondisi yang meniru lingkungan alami di dalam tubuh manusia. Setelah jaringan tersebut berkembang, rhinovirus diperkenalkan untuk mengamati respons seluler terhadap infeksi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sel hidung memiliki kemampuan yang kuat untuk melawan infeksi ketika respons interferon berfungsi secara optimal. Dalam kondisi ini, hanya sebagian kecil sel yang terinfeksi, dan proses pemulihan terjadi dalam waktu relatif singkat.
Sebaliknya, ketika sinyal interferon secara eksperimental ditekan, pertahanan sel hidung melemah secara signifikan. Persentase sel yang terinfeksi meningkat tajam, dan respons imun berubah menjadi jauh lebih agresif.
Peningkatan respons tersebut ditandai dengan lonjakan molekul proinflamasi, termasuk sitokin, serta produksi lendir yang berlebihan. Kondisi ini mencerminkan gejala yang sering ditemukan pada kasus flu biasa yang berat, terutama pada pasien dengan gangguan pernapasan.
Dalam keadaan minim interferon, protein pengatur yang dikenal sebagai nuclear factor kappa B (NF-κB) muncul sebagai pengendali utama respons imun yang berlebihan. Aktivasi NF-κB yang tidak terkendali mendorong peradangan intens, yang dapat memperburuk kondisi jaringan hidung dan saluran napas.
Ahli imunologi pernapasan dari Imperial College London yang tidak terlibat dalam penelitian ini menilai bahwa pendekatan menggunakan organoid multiseluler dan teknologi resolusi tinggi memberikan wawasan baru tentang bagaimana berbagai jenis sel hidung bereaksi terhadap infeksi virus.
Penelitian ini juga menguatkan dugaan bahwa individu yang mengalami flu biasa dengan gejala berat mungkin memiliki gangguan dalam produksi atau regulasi interferon. Beberapa kelainan genetik diketahui dapat memengaruhi kemampuan tubuh dalam menghasilkan respons interferon yang seimbang.
Selain memahami mekanisme penyakit, penelitian ini juga mengevaluasi potensi pengobatan. Beberapa antivirus diuji pada model nose-in-a-dish, termasuk rupintrivir, obat eksperimental yang menargetkan protein virus.
Meskipun sebelumnya gagal menunjukkan efektivitas dalam uji klinis, rupintrivir terbukti mampu menekan respons imun yang terlalu aktif dalam model laboratorium. Temuan ini membuka kemungkinan pemanfaatan ulang obat tersebut untuk meredam peradangan berlebihan pada kelompok pasien rentan, seperti penderita penyakit paru obstruktif kronis.
Namun demikian, para ahli menekankan bahwa pengembangan terapi berbasis modulasi sistem imun harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Sistem imun memerlukan keseimbangan yang tepat, karena peradangan berlebihan berbahaya, tetapi respons yang terlalu lemah juga tidak efektif dalam melawan infeksi.
Studi ini menunjukkan bahwa perbedaan keparahan flu biasa sangat dipengaruhi oleh respons imun lokal di jaringan hidung, khususnya peran interferon dalam mengendalikan infeksi rhinovirus. Model nose-in-a-dish memungkinkan pengamatan mendalam terhadap dinamika seluler yang sebelumnya sulit diteliti pada manusia.
Secara keseluruhan, temuan ini memberikan pemahaman baru tentang mengapa flu biasa dapat berdampak ringan pada sebagian orang namun menjadi serius pada kelompok lain. Pengetahuan ini diharapkan dapat membuka jalan bagi pengembangan terapi yang lebih tepat sasaran untuk mengendalikan infeksi virus pernapasan di masa depan.
Diolah dari artikel:
“‘Nose-in-a-dish’ reveals why the common cold hits some people hard, while others recover easily” oleh RJ Mackenzie
Note:
This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.