Sumber ilustrasi: Pixabay
12 Februari 2026 13.50 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [12.02.2026] Kerja sama antara manusia dan hewan liar merupakan fenomena yang sangat jarang ditemukan di alam. Dalam kebanyakan kasus, interaksi manusia dengan satwa liar cenderung bersifat sepihak atau bahkan merugikan salah satu pihak. Akan tetapi, di Mozambik utara, sebuah hubungan unik telah lama berkembang antara pemburu madu dan burung liar, yang menunjukkan bentuk kolaborasi aktif dan saling menguntungkan.
Diketahui sebelumnya bahwa masyarakat adat di beberapa wilayah Afrika memang memanfaatkan burung pemandu madu untuk menemukan sarang lebah liar. Burung tersebut dikenal mampu menuntun manusia menuju lokasi sarang lebah, sehingga manusia dapat memperoleh madu dengan lebih efisien. Sebagai imbalannya, burung mendapatkan sisa lilin dan larva lebah yang tertinggal setelah sarang dibuka.
Penelitian terbaru mengungkap bahwa kerja sama ini tidak hanya bergantung pada insting, tetapi juga melibatkan sebuah sistem komunikasi yang menyerupai bahasa. Lebih jauh lagi, bahasa tersebut memiliki variasi dialek yang berbeda antarwilayah, bahkan dalam satu kawasan geografis yang relatif sempit.
Temuan ini membuka pemahaman baru tentang bagaimana budaya manusia dan perilaku hewan liar dapat saling memengaruhi dan berkembang bersama selama ratusan hingga ribuan tahun.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal People and Nature dilakukan di Cagar Alam Khusus Niassa, Mozambik utara, wilayah tempat masyarakat Yao menggantungkan hidup pada madu liar. Di kawasan ini, burung pemandu madu besar (Indicator indicator) menjadi mitra penting dalam aktivitas berburu madu.
Burung pemandu madu besar merupakan burung kecil berwarna cokelat yang tersebar luas di Afrika bagian selatan. Spesies ini terkenal karena kemampuannya memandu manusia menuju sarang lebah liar, sebuah perilaku yang jarang ditemukan pada burung lain.
Dalam praktiknya, pemburu madu memulai interaksi dengan mengeluarkan panggilan suara tertentu. Burung kemudian merespons dengan sinyal khas dan terbang dari satu titik ke titik lain hingga mencapai sarang lebah. Setelah sarang ditemukan, manusia menggunakan api untuk menenangkan lebah dan membuka sarang, sementara burung menunggu untuk memakan sisa lilin dan larva.
Tim peneliti internasional merekam panggilan dari 131 pemburu madu di 13 desa berbeda di kawasan Niassa. Hasil rekaman menunjukkan bahwa suara berupa getaran, dengusan, teriakan, dan siulan berbeda-beda antar desa, meskipun kondisi habitat relatif serupa.
Perbedaan ini menunjukkan keberadaan dialek lokal dalam komunikasi antara manusia dan burung. Dialek tersebut tidak dipengaruhi oleh lingkungan fisik, melainkan oleh faktor budaya dan jarak sosial antar komunitas.
Menariknya, pemburu madu yang berpindah ke desa lain cenderung menyesuaikan diri dengan dialek lokal. Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa komunikasi dengan burung tidak bersifat individual, melainkan diwariskan secara sosial dalam komunitas manusia.
Peneliti utama dari Universitas Cape Town menjelaskan bahwa sistem ini menyerupai satu bahasa dengan variasi pengucapan yang berbeda. Dengan kata lain, terdapat satu kerangka komunikasi umum yang dipahami oleh burung, namun diwujudkan dalam dialek yang beragam oleh manusia.
Para ilmuwan juga mencatat bahwa burung pemandu madu kemungkinan berperan aktif dalam mempertahankan dialek tersebut. Burung diduga lebih responsif terhadap panggilan yang familiar, sehingga secara tidak langsung mendorong manusia untuk mempertahankan pola suara lokal.
Pendapat serupa disampaikan oleh peneliti perilaku hewan dari Prancis, yang menyatakan bahwa preferensi burung terhadap sinyal lokal dapat menciptakan tekanan seleksi budaya. Tekanan ini membuat dialek tetap stabil dan membatasi perubahan suara secara acak.
Ahli ekologi perilaku dari Spanyol yang tidak terlibat dalam penelitian ini menilai temuan tersebut mengejutkan, terutama karena variasi panggilan tidak dipengaruhi oleh perbedaan habitat. Dari sudut pandang manusia, kemampuan pendatang untuk mempelajari cara berinteraksi dengan burung lokal menunjukkan fleksibilitas budaya yang tinggi.
Fakta lain yang menarik adalah bahwa burung pemandu madu tidak mempelajari perilaku ini dari induknya. Spesies ini merupakan parasit induk, yang bertelur di sarang burung lain. Hal tersebut memperkuat dugaan bahwa perilaku memandu manusia dipelajari melalui interaksi sosial antarburung.
Para peneliti menduga bahwa proses belajar ini berlangsung melalui pengamatan burung muda terhadap burung dewasa yang telah terbiasa berinteraksi dengan manusia. Dengan demikian, budaya tidak hanya berkembang pada manusia, tetapi juga pada burung.
Kerja sama antara manusia dan burung ini diperkirakan telah berlangsung selama ratusan hingga ribuan tahun. Selama periode tersebut, kedua spesies saling menyesuaikan perilaku dan komunikasi demi keuntungan bersama.
Penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan antara pemburu madu di Mozambik dan burung pemandu madu merupakan contoh langka kerja sama lintas spesies yang melibatkan sistem komunikasi kompleks. Bahasa bersama dengan dialek regional membuktikan bahwa budaya manusia dapat berkembang bahkan dalam interaksi dengan hewan liar yang tidak dilatih.
Secara keseluruhan, temuan ini memperluas pemahaman tentang peran budaya dalam evolusi perilaku, baik pada manusia maupun hewan. Studi ini juga menegaskan bahwa komunikasi, pembelajaran sosial, dan adaptasi bersama dapat membentuk hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan di alam liar.
Diolah dari artikel:
“In the search for bees, Mozambique honey hunters and birds share a language with distinct, regional dialects” oleh Sarah Wild
Note:
This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.