Video di Akun Media Sosial Trump Tuai Kecaman

Sumber ilustrasi: Wikimedia Commons
8 Februari 2026 08.20 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [08.02.2026] Dalam sepekan pertama Februari 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kontroversi nasional setelah sebuah video bernuansa rasis diunggah melalui akun media sosial pribadinya, Truth Social. Video tersebut memuat cuplikan yang menggambarkan mantan Presiden Barack Obama dan mantan ibu negara Michelle Obama sebagai primata, sebuah citra yang memiliki sejarah panjang dalam praktik rasisme terhadap warga kulit hitam di Amerika Serikat.

Video berdurasi sekitar satu menit itu awalnya berisi klaim kecurangan pemilu presiden 2020 yang telah berulang kali dibantah oleh pengadilan dan lembaga pemilu. Cuplikan bermasalah muncul di bagian akhir video, dengan wajah Barack dan Michelle Obama ditempelkan pada tubuh kera di latar hutan, diiringi lagu The Lion Sleeps Tonight. Unggahan tersebut kemudian dihapus setelah memicu kecaman luas, termasuk dari sejumlah tokoh Partai Republik sendiri.

Meski demikian, Trump menolak untuk meminta maaf dan menyatakan tidak melakukan kesalahan, sekaligus mengakui bahwa unggahan video tersebut dilakukan atas arahannya, meskipun diklaim tidak mengetahui isi cuplikan rasis di bagian akhir video.

Kontroversi ini bermula dari rangkaian unggahan larut malam di akun Truth Social Trump, yang dalam beberapa waktu terakhir semakin sering digunakan untuk menyebarkan narasi konspiratif terkait pemilu 2020. Video tersebut diketahui merupakan unggahan ulang dari konten pihak ketiga yang beredar di kalangan pembuat meme konservatif, dengan label situs Patriot News Outlet, sebuah platform yang dikenal mendukung Trump.

Pada tahap awal, Gedung Putih melalui sekretaris pers Karoline Leavitt membela video tersebut dengan menyebutnya sebagai meme internet yang bersifat humor politik, serta menuding kritik publik sebagai bentuk kepanikan palsu. Akan tetapi, seiring meningkatnya tekanan politik dan kecaman lintas partai, posisi tersebut berubah. Unggahan dihapus, dan tanggung jawab dialihkan kepada seorang staf yang disebut melakukan kesalahan.

Penjelasan ini justru memunculkan pertanyaan serius mengenai mekanisme kendali dan verifikasi akun media sosial presiden, mengingat platform tersebut kerap digunakan untuk pengumuman kebijakan strategis, ancaman tarif, hingga pernyataan terkait keamanan nasional. Laporan media menyebutkan bahwa salah satu ajudan Trump, Natalie Harp, memiliki akses langsung ke akun tersebut, menambah sorotan terhadap tata kelola komunikasi kepresidenan.

Reaksi politik terhadap video tersebut memperlihatkan perbedaan sikap di dalam Partai Republik dan antara Partai Republik serta Partai Demokrat. Dari kubu Republik, hanya sejumlah tokoh yang menyampaikan kecaman terbuka, sementara pimpinan utama partai di Kongres tidak mengeluarkan pernyataan resmi. Senator Tim Scott, satu-satunya senator Republik kulit hitam, menilai unggahan tersebut sebagai tindakan rasis yang serius dan menyerukan agar unggahan segera dihapus. Anggota Representatif Republik dari New York, Mike Lawler, menyatakan bahwa unggahan tersebut keliru dan sangat ofensif, baik dilakukan secara sengaja maupun akibat kekeliruan, serta seharusnya disertai permintaan maaf.

Dari kubu Partai Demokrat, kecaman disampaikan oleh sejumlah tokoh pimpinan di tingkat legislatif dan eksekutif negara bagian. Pemimpin Minoritas Hakeem Jeffries menyebut insiden tersebut sebagai cerminan kebusukan moral dan ekstremisme yang membahayakan, sementara Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer menyoroti sikap diam pimpinan Republik dan menilai peristiwa tersebut merendahkan martabat nasional. Kecaman serupa juga disampaikan oleh Gubernur California Gavin Newsom dan Gubernur Illinois JB Pritzker, yang secara terbuka mengecam unggahan tersebut sebagai perilaku yang tidak dapat diterima dari seorang presiden.

Kecaman turut datang dari organisasi hak sipil. Presiden NAACP, Derrick Johnson, menilai video tersebut sebagai bentuk rasisme terang-terangan dan menyebutnya sebagai upaya pengalihan perhatian dari isu ekonomi dan berkas kasus Jeffrey Epstein. Narasi ini menegaskan bahwa penggunaan citra dehumanisasi terhadap warga kulit hitam bukanlah fenomena baru, melainkan bagian dari sejarah panjang rasisme struktural di Amerika Serikat.

Penggambaran warga kulit hitam sebagai hewan telah digunakan sejak abad ke-18 untuk membenarkan perbudakan, segregasi, dan diskriminasi. Barack Obama sendiri, baik sebagai kandidat maupun presiden, kerap menjadi sasaran simbol-simbol semacam ini. Kontroversi terbaru ini memperlihatkan kesinambungan pola tersebut, kini diperkuat oleh ekosistem media sosial dan politik identitas yang semakin ekstrem.

Kasus video rasis di media sosial Trump ini menunjukkan bahwa isu rasisme masih menjadi elemen laten dalam politik Amerika Serikat, sekaligus menunjukkan batas toleransi publik dan internal partai terhadap praktik tersebut. Respons yang terfragmentasi dari Partai Republik dan kecaman terkoordinasi dari kelompok hak sipil serta oposisi menandai bahwa kontroversi ini bukan sekadar insiden media sosial, melainkan refleksi dari konflik moral dan institusional yang lebih dalam.

Sumber:
“Trump’s racist post about Obamas is deleted after backlash despite White House earlier defending it” oleh Bill Barrow dan Josh Boak (Associated Press);
“Trump removes video with racist clip depicting Obamas as apes” oleh Bernd Debusmann Jr (BBC);
“Trump refuses to apologize for video with racist imagery of Obamas posted on his social media” oleh Richard Luscombe, Shrai Popat, dan Robert Mackey (The Guardian).

Link:
https://apnews.com/article/trump-obama-racist-video-a48a6b8884a88f9ec30cd4913e352b51
https://www.bbc.com/news/articles/ce8r8y78g10o
https://www.theguardian.com/us-news/2026/feb/06/trump-racist-video-barack-michelle-obama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *