Sumber ilustrasi: Pixabay
5 April 2026 10.55 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [05.04.2026] Selama ini, dampak iklim yang paling merusak, sebagai contoh kebakaran hutan besar, kekeringan berkepanjangan, dan banjir ekstrem, umumnya diasosiasikan dengan skenario pemanasan global yang tinggi. Akan tetapi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa peristiwa-peristiwa tersebut dapat terjadi bahkan dalam kondisi pemanasan moderat, yaitu sekitar 2 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri. Temuan ini menantang asumsi umum bahwa risiko paling ekstrem hanya muncul pada skenario pemanasan yang lebih tinggi.
Studi tersebut mengungkap bahwa bahkan jika suhu global berhasil dibatasi pada tingkat yang sering dianggap sebagai ambang “relatif aman”, berbagai sektor penting tetap berpotensi mengalami dampak iklim yang parah. Hal ini terutama berlaku bagi wilayah berpenduduk padat, kawasan penghasil pangan utama, dan ekosistem hutan yang rentan terhadap perubahan kondisi lingkungan.
Penelitian ini menggunakan 50 model iklim yang juga digunakan oleh Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC). Berbeda dari pendekatan umum yang mengandalkan rata-rata hasil model, para peneliti menganalisis setiap model secara terpisah untuk menangkap variasi kemungkinan dampak dalam skenario pemanasan 2°C. Pendekatan ini memungkinkan identifikasi rentang hasil yang lebih luas, termasuk kemungkinan terjadinya kondisi ekstrem yang sebelumnya kurang diperhatikan.
Dalam sektor wilayah berpenduduk padat, hasil penelitian menunjukkan peningkatan curah hujan antara 4% hingga 15% dibandingkan kondisi pra-industri. Peningkatan ini berpotensi memperburuk risiko banjir di kawasan perkotaan yang memiliki kapasitas drainase terbatas. Dalam beberapa model, intensitas hujan bahkan melampaui ekspektasi pada skenario pemanasan yang lebih tinggi, terutama di wilayah seperti India dan Afrika barat-tengah.
Di sektor pertanian, ketidakpastian menjadi lebih mencolok. Beberapa model memperkirakan dampak kekeringan yang relatif terbatas, tetapi sekitar seperempat model menunjukkan potensi kekeringan yang sama parah atau bahkan lebih buruk dibandingkan skenario pemanasan 4°C. Wilayah yang paling rentan meliputi Asia Selatan, Asia Timur, Amerika Selatan bagian tenggara, Australia bagian tenggara, serta Amerika Utara bagian tengah.
Sementara itu, pada ekosistem hutan, terdapat kemungkinan signifikan bahwa kondisi pemicu kebakaran dapat menjadi lebih intens bahkan pada pemanasan moderat. Sekitar satu dari lima model menunjukkan bahwa risiko kebakaran dapat menyamai atau melampaui skenario pemanasan yang lebih tinggi. Wilayah seperti Kanada, Afrika Tengah, dan sebagian Rusia termasuk yang paling berisiko dalam proyeksi terburuk.
Peneliti utama studi tersebut menekankan bahwa temuan ini tidak berarti pemanasan 2°C setara dengan skenario pemanasan ekstrem secara keseluruhan. Namun, dampak ekstrem tetap dapat terjadi di sektor-sektor yang sangat rentan atau memiliki kepentingan sosial tinggi. Selain itu, fokus berlebihan pada nilai rata-rata model dapat menciptakan rasa aman yang menyesatkan, karena mengabaikan kemungkinan hasil ekstrem yang tetap masuk akal secara ilmiah.
Ahli lain yang tidak terlibat dalam penelitian ini juga menilai bahwa hasil tersebut memperkuat urgensi untuk menekan laju pemanasan global secepat mungkin. Di sisi lain, terdapat pengakuan bahwa model iklim mungkin belum sepenuhnya menangkap kompleksitas dunia nyata, sehingga potensi kejutan yang lebih buruk tetap terbuka.
Penelitian ini menunjukkan bahwa pemanasan global moderat sekalipun tidak menjamin terhindarnya dunia dari dampak iklim ekstrem, karena variasi hasil model mengindikasikan kemungkinan terjadinya peristiwa yang sama parahnya dengan skenario pemanasan tinggi, sehingga diperlukan kewaspadaan, kebijakan adaptasi yang lebih baik, dan upaya mitigasi yang lebih cepat untuk mengurangi risiko yang tidak pasti namun berpotensi besar.
Diolah dari artikel:
“Extreme wildfires, droughts and storms could happen even under moderate global warming, study finds” oleh Sascha Pare. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.