Sumber ilustrasi: Freepik
7 April 2026 18.48 WIB – Akar
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Diandaikan ada sebuah video pendek, berdurasi 30 detik. Yang tampak dalam video tersebut adalah seseorang tengah berlari, kencang sekali. Bagi yang menonton, apa yang terlihat hanyalah orang berlari. Tidak ada yang lain. Jika hendak dideskripsikan, maka deskripsi yang paling mungkin adalah gambar tentang seseorang yang bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Apabila ditarik dalam garis waktu, maka dapat dikatakan bahwa orang dalam video tersebut sedang bergerak dari “titik awal” ke “titik akhir”.
Sebenarnya tanpa ada deskripsi lain yang melengkapi, sangat sulit untuk mengatakan di mana sebenarnya titik awal dan titik akhir. Artinya, tidak ada informasi yang dapat memungkinkan bahwa titik akhir adalah tujuan yang hendak dicapainya. Sebaliknya, tidak ada informasi yang dapat mengatakan bahwa yang disebut titik awal adalah benar titik awal itu sendiri. Namun jika hendak diandaikan bahwa ada titik awal dan akhir, maka mungkin dapat dikatakan bahwa orang tersebut, katakan saja X adalah person yang sedang “menuju ke”.
Apakah kesimpulan itu benar adanya? Kita dapat membuat pengandaian lain, yakni memperluas horison peristiwa tersebut, dengan mengambil video kedua. Dalam video kedua, yang durasinya lebih panjang dari video pertama, sekitar hampir 45 detik. Apa yang tampak dalam video kedua, yakni bahwa X dikejar oleh seekor anjing, dan X berlari kejar menghindar dari anjing tersebut. Dari adegan tersebut sangat jelas bahwa X tengah menghindari anjing. X adalah person yang sedang “menghindar dari”.
Apa makna kedua video tersebut? Apakah kesimpulan yang dibuat atas masing-masing video bersifat “benar”, atau ada akibat terhadap makna yang telah ditarik pada video pertama ketika video kedua muncul? Bagaimana masalah ini dipahami?
Sejak awal harus disadari bahwa potongan video tersebut terlalu singkat untuk daripadanya dilakukan analisis yang lebih mendalam. Namun demikian, sebagian pihak sangat berkata lain. Bahwa sesuatu dikatakan singkat atau tidak, tentu bergantung pada “horison” yang digunakan. Pada masa lalu, jangka waktu satu menit, dapat dikatakan tidak punya banyak makna. Kini, ketika banyak orang mengakses internet, maka satu menit atau 60 detik punya makna yang berbeda.
Apa yang mungkin dapat dikatakan di sini adalah bahwa durasi waktu sebenarnya juga punya makna yang berbeda, bergantung pada horison yang ada. Atas dasar itulah, kita dapat membuat analisis lebih jauh untuk memahami dengan cara tersendiri makna dari masing-masing video, dan relasi makna antar keduanya. Makna yang ingin digali di sini adalah makna yang dikait dengan gerak ke arah tertentu. Baik disebut “menuju ke” atau “menghindar dari”.
Pada video pertama. Ketika suatu kesimpulan diambil dan dikatakan bahwa X adalah person yang “menuju ke” dalam video pertama, kita mungkin dapat sependapat dengan pendapat tersebut. Mengapa? Karena demikian itulah adanya, sebagaimana tampak dalam video. Artinya, pernyataan tersebut dapat dikatakan benar, sejauh horison yang tersedia. Suatu kebenaran (“menuju ke”) yang terbentuk dalam formasi yang terberi.
Namun, ketika horison diperluas melalui video kedua, muncul struktur makna yang berbeda. Kehadiran anjing sebagai elemen baru mengubah cara kita memahami gerak X. Kini, gerak tersebut tidak lagi tampil sebagai orientasi menuju sesuatu, melainkan sebagai respon terhadap sesuatu. Dengan kata lain, makna “menghindar dari” tidak muncul karena geraknya berubah, tetapi karena medan makna di mana gerak itu dipahami mengalami transformasi.
Apakah dengan hadirnya video kedua, maka kesimpulan pada video pertama hilang? Kita tidak ingin jatuh ke dalam pandangan sempit. Akan lebih menarik, jika kita mampu meletakkan kedua video tersebut tidak dalam posisi saling menegasi. “Menuju ke” dalam video pertama tidak serta-merta menjadi salah setelah kita mengetahui konteks video kedua. Sebaliknya, ia tetap sah dalam batas horisonnya sendiri. Ini menunjukkan bahwa kebenaran deskriptif tidak berdiri secara absolut, melainkan selalu terikat pada kondisi penyingkapan tertentu.
Di sini kita dapat melihat bahwa apa yang kita sebut sebagai “titik awal” dan “titik akhir” sebenarnya adalah konstruksi interpretatif. Dalam video pertama, kita mengandaikan adanya dua titik tersebut untuk memberi struktur pada gerak. Namun, asumsi itu tidak memiliki dasar empiris yang kuat. Ia lebih merupakan kebutuhan kognitif untuk menstabilkan pengalaman yang ambigu.
Ketika video kedua hadir, struktur titik tersebut mengalami reposisi. Titik yang sebelumnya kita bayangkan sebagai “awal” kini dapat dipahami sebagai titik kedekatan dengan ancaman, sementara “akhir” menjadi arah menjauh dari bahaya. Akan tetapi, bahkan dalam horison kedua, titik-titik itu tetap bukan fakta yang diberikan secara eksplisit, melainkan tetap merupakan hasil konstruksi pemahaman.
Dengan demikian, gerak X tidak pernah sepenuhnya transparan. Ia selalu hadir dalam medan ambiguitas yang hanya dapat dipahami melalui kerangka tertentu. Kerangka “menuju ke” dan “menghindar dari” adalah dua cara berbeda untuk menstrukturkan ambiguitas tersebut. Tidak ada satu pun yang sepenuhnya final, karena masing-masing bergantung pada horison yang mengkondisikannya.
Pendekatan ini mengingatkan kita bahwa pengalaman manusia tidak pernah bersifat netral. Bahkan dalam situasi paling sederhana sekalipun, seperti melihat seseorang berlari, kesadaran sudah bekerja secara aktif untuk mengorganisasi makna. Apa yang tampak sebagai deskripsi langsung sebenarnya sudah mengandung lapisan interpretasi yang tidak disadari.
Lebih jauh lagi, perluasan horison tidak hanya menambah informasi, tetapi juga mengubah kualitas pemahaman. Video kedua tidak sekadar melengkapi video pertama, melainkan membuka dimensi baru yang sebelumnya tidak terjangkau. Namun, pembukaan ini tidak bersifat retroaktif dalam arti menghapus makna sebelumnya, melainkan menempatkannya dalam jaringan makna yang lebih luas.
Dalam konteks ini, kita dapat mengatakan bahwa setiap pemahaman bersifat situasional dan terbuka. Tidak ada deskripsi yang sepenuhnya paripurna, karena selalu ada kemungkinan bahwa horison baru akan muncul dan mengungkap aspek yang sebelumnya tersembunyi. Kebenaran, dengan demikian, bukanlah sesuatu yang statis, melainkan sesuatu yang bergerak bersama dengan perluasan pengalaman dan horison.
Bagaimana menurut anda? [desanomia – 070426 – dja]