Sumber ilustrasi: Unsplash
8 April 2026 16.05 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [08.04.2026] Eksplorasi manusia terhadap bulan memasuki babak baru melalui misi Artemis II, yang dirancang untuk memperluas pemahaman tentang lingkungan luar angkasa dan mempersiapkan misi berawak di masa depan. Setelah lebih dari lima dekade sejak era Apollo, manusia kembali melakukan perjalanan mendalam ke sekitar bulan dengan teknologi yang lebih canggih.
Dalam misi ini, wahana Orion membawa empat astronaut dalam perjalanan selama 10 hari mengelilingi bulan. Misi ini tidak hanya berfokus pada perjalanan, tetapi juga pada pengumpulan data ilmiah dari wilayah bulan yang jarang diamati secara langsung oleh manusia, khususnya sisi jauh bulan yang selama ini lebih banyak dipelajari melalui wahana tanpa awak.
Sisi dekat bulan merupakan bagian yang selalu menghadap Bumi dan telah menjadi lokasi pendaratan seluruh misi Apollo. Sebaliknya, sisi jauh bulan memiliki karakteristik yang berbeda yang diantaranya termasuk jumlah kawah yang lebih banyak serta komposisi geologi yang unik, sehingga menjadi objek penelitian yang penting dalam ilmu planet.
Perjalanan menuju sisi jauh bulan memberikan kesempatan langka untuk mengamati permukaan bulan secara langsung. Meskipun citra bulan telah banyak dihasilkan oleh instrumen robotik, pengamatan manusia tetap memberikan nilai tambah dalam hal persepsi warna, tekstur, dan detail visual yang tidak sepenuhnya tertangkap kamera.
Kru misi terdiri dari astronaut dari NASA, yaitu Christina Koch, Victor Glover, dan Reid Wiseman, serta Jeremy Hansen dari Canadian Space Agency. Keberagaman kru ini mencerminkan kolaborasi internasional dalam eksplorasi luar angkasa modern.
Lintasan mengelilingi sisi jauh bulan yang berlangsung selama beberapa jam menjadi inti dari misi ini. Selama periode tersebut, kru melakukan pengamatan intensif dan pengumpulan data ilmiah. Mereka mencatat perbedaan visual yang signifikan, termasuk variasi warna permukaan bulan yang tidak sepenuhnya terlihat dalam citra digital.
Salah satu aspek penting dari pengamatan ini adalah kemampuan manusia dalam mengenali detail halus, seperti perbedaan warna cokelat dan hijau di permukaan bulan, serta kontras terang pada kawah-kawah baru. Fenomena ini menunjukkan bahwa kehadiran manusia dalam eksplorasi luar angkasa masih memiliki keunggulan dibandingkan sistem otomatis dalam konteks tertentu.
Selain itu, pengamatan terhadap garis terminator, yang merupakan batas antara sisi terang dan gelap bulan, memberikan gambaran dramatis mengenai topografi bulan. Area tertentu tampak seperti “pulau” yang dikelilingi kegelapan, sementara formasi kawah tertentu menunjukkan struktur unik yang memperkaya pemahaman tentang geologi bulan.
Selama misi, kapsul Orion juga mengalami periode tanpa komunikasi saat berada di balik bulan. Kondisi ini merupakan konsekuensi alami dari posisi geometris bulan yang menghalangi transmisi sinyal ke Bumi. Dalam fase ini, wahana mencapai jarak terdekat dengan permukaan bulan sekaligus mencatat rekor sebagai titik terjauh yang pernah dicapai manusia dari Bumi, melampaui pencapaian Apollo 13.
Fenomena lain yang diamati adalah gerhana matahari total dari perspektif luar angkasa dekat bulan. Dengan memposisikan wahana sehingga bulan menutupi matahari, kru dapat mengamati korona matahari secara langsung. Selain itu, pantulan cahaya dari Bumi atau earthshine memungkinkan bagian gelap bulan tetap terlihat, menciptakan kondisi visual yang jarang terjadi.
Pengamatan selama gerhana juga mencakup deteksi kilatan cahaya akibat tumbukan meteorit di permukaan bulan. Meskipun sebelumnya belum dipastikan dapat diamati secara langsung oleh manusia, kru berhasil mengidentifikasi beberapa kejadian, memberikan peluang baru untuk mempelajari aktivitas meteorit di bulan.
Data yang dikumpulkan selama misi ini menjadi sumber penting bagi penelitian ilmiah lanjutan. Analisis terhadap data tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman tentang lingkungan bulan, termasuk komposisi permukaan dan dinamika tumbukan benda langit.
Selain aspek ilmiah, pengalaman langsung mengamati bulan dari jarak dekat juga memberikan dampak psikologis dan perspektif baru bagi kru. Pengamatan tersebut memperkuat pemahaman bahwa bulan merupakan objek nyata dengan karakteristik unik, sekaligus menyoroti keistimewaan Bumi sebagai satu-satunya tempat yang diketahui mampu mendukung kehidupan.
Misi Artemis II menandai pencapaian penting dalam eksplorasi luar angkasa dengan keberhasilan mengelilingi sisi jauh bulan, mencatat rekor jarak manusia dari Bumi, serta menghasilkan pengamatan ilmiah dan visual yang belum pernah diperoleh sebelumnya. Data yang dikumpulkan dan pengalaman kru tidak hanya memperkaya pengetahuan tentang bulan, tetapi juga memperkuat dasar bagi misi eksplorasi manusia di masa depan.
Diolah dari artikel:
“Artemis II just made a historic loop around the moon” oleh Lisa Grossman. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.snexplores.org/article/artemis-orion-loop-farside-moon