Sumber ilustrasi: Pixabay
10 Mei 2026 13.35 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [10.05.2026] Hingga kini penyakit Alzheimer masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam dunia kesehatan modern, terutama pada populasi lanjut usia. Para ilmuwan selama beberapa dekade berusaha memahami faktor-faktor yang dapat meningkatkan maupun menurunkan risiko gangguan neurodegeneratif tersebut. Selain faktor genetik dan gaya hidup, pola makan kini semakin mendapat perhatian sebagai elemen penting yang dapat memengaruhi kesehatan otak dalam jangka panjang. Salah satu bahan pangan yang mulai banyak diteliti terkait fungsi kognitif adalah telur, yang dikenal kaya akan nutrisi penting bagi sistem saraf.
Sebuah penelitian terbaru dari Loma Linda University Health menemukan bahwa konsumsi telur secara rutin berhubungan dengan risiko Alzheimer yang lebih rendah pada orang dewasa berusia 65 tahun ke atas. Studi tersebut menunjukkan bahwa individu yang mengonsumsi setidaknya satu butir telur per hari selama lima hari atau lebih setiap minggu memiliki risiko hingga 27 persen lebih rendah untuk didiagnosis menderita Alzheimer dibandingkan mereka yang tidak pernah mengonsumsi telur.
Peneliti utama studi, Joan Sabaté, menjelaskan bahwa konsumsi minimal lima butir telur per minggu berkaitan dengan penurunan risiko Alzheimer yang cukup signifikan dibandingkan kelompok yang tidak mengonsumsi telur sama sekali. Penelitian juga menemukan bahwa manfaat tersebut tetap terlihat meskipun konsumsi telur berada pada tingkat yang lebih rendah. Individu yang mengonsumsi telur satu hingga tiga kali per bulan tercatat memiliki penurunan risiko sekitar 17 persen, sedangkan konsumsi dua hingga empat kali per minggu dikaitkan dengan penurunan risiko sekitar 20 persen.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Nutrition ini berjudul Egg intake and the incidence of Alzheimer’s disease in the Adventist Health Study-2 cohort linked with Medicare data. Para peneliti melakukan studi tersebut untuk memahami bagaimana faktor pola makan yang dapat diubah oleh manusia berpengaruh terhadap kemungkinan berkembangnya penyakit Alzheimer di usia lanjut.
Para ilmuwan menyoroti kandungan nutrisi telur yang memiliki kaitan erat dengan fungsi otak. Telur diketahui kaya akan kolin, yaitu zat yang digunakan tubuh untuk membentuk asetilkolin dan fosfatidilkolin, dua senyawa penting yang mendukung memori dan komunikasi antar sel saraf. Kandungan tersebut dianggap berperan dalam menjaga performa sistem saraf seiring bertambahnya usia.
Selain kolin, telur juga mengandung lutein dan zeaxanthin, dua jenis karotenoid yang dapat terakumulasi di jaringan otak. Sejumlah penelitian sebelumnya telah mengaitkan kedua senyawa tersebut dengan peningkatan performa kognitif serta penurunan stres oksidatif yang berkontribusi terhadap kerusakan sel. Kandungan asam lemak omega-3 dan fosfolipid yang tinggi pada kuning telur juga dinilai penting dalam mendukung fungsi reseptor neurotransmiter di otak.
Untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat, para peneliti tidak hanya menghitung konsumsi telur secara langsung seperti telur rebus, goreng, atau orak-arik, tetapi juga memperhitungkan telur yang terdapat pada produk makanan lain seperti roti, kue, dan makanan kemasan. Pendekatan tersebut memungkinkan peneliti memperoleh gambaran konsumsi telur yang lebih menyeluruh pada para peserta penelitian.
Studi ini melibatkan sekitar 40 ribu peserta dari Adventist Health Study-2 cohort dan menggunakan data diagnosis dokter yang tercatat dalam sistem Medicare untuk mengidentifikasi kasus Alzheimer. Para peserta dipantau selama rata-rata 15,3 tahun, sehingga memungkinkan peneliti mengamati hubungan jangka panjang antara pola konsumsi telur dan perkembangan penyakit neurodegeneratif.
Penulis utama studi, Jisoo Oh, menjelaskan bahwa telur sebaiknya dipahami sebagai bagian dari pola makan sehat secara keseluruhan, bukan sebagai satu-satunya faktor pelindung terhadap Alzheimer. Penelitian juga mencatat bahwa kelompok Seventh-day Adventists yang menjadi bagian dari studi cenderung memiliki pola makan lebih sehat dibandingkan populasi umum, sehingga gaya hidup secara keseluruhan tetap memainkan peran penting dalam menjaga kesehatan otak.
Temuan penelitian ini memperkuat pandangan bahwa pola makan memiliki kontribusi besar terhadap kesehatan otak dan risiko penyakit neurodegeneratif di usia lanjut. Konsumsi telur yang kaya kolin, lutein, zeaxanthin, omega-3, dan fosfolipid menunjukkan hubungan konsisten dengan penurunan risiko Alzheimer dalam berbagai tingkat konsumsi. Penelitian jangka panjang dengan puluhan ribu peserta juga memberikan gambaran bahwa kebiasaan makan sehari-hari dapat menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga fungsi kognitif pada usia lanjut.
Diolah dari artikel:
“Eating eggs could cut Alzheimer’s risk by 27%” oleh Loma Linda University Adventist Health Sciences Center. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/05/260506225214.htm