Sumber ilustrasi: Unsplash
5 April 2026 12.45 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [05.04.2026] Alergi menjadi salah satu masalah kesehatan yang semakin umum, dengan jutaan orang di seluruh dunia mengalaminya dan jumlahnya terus meningkat. Muncul pertanyaan mendasar mengenai asal-usul alergi: apakah kondisi ini diwariskan secara genetik, atau lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan? Pemahaman awal menunjukkan bahwa alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh salah mengenali zat yang sebenarnya tidak berbahaya sebagai ancaman, sehingga memicu respons pertahanan yang berulang setiap kali terpapar.
Berbagai jenis alergi telah diidentifikasi, mulai dari yang memengaruhi kulit seperti dermatitis, sistem pernapasan seperti asma dan rinitis alergi, hingga alergi makanan yang dapat berdampak sistemik. Menariknya, individu yang memiliki satu jenis alergi cenderung memiliki jenis alergi lainnya, menunjukkan adanya mekanisme dasar yang saling terkait dalam sistem imun.
Penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik memiliki peran penting dalam menentukan kerentanan seseorang terhadap alergi. Studi pada kembar identik dan tidak identik memperlihatkan bahwa kesamaan alergi jauh lebih tinggi pada kembar identik, yang memiliki susunan genetik sama. Hal ini menunjukkan bahwa warisan genetik berkontribusi dalam membentuk respons imun terhadap alergen.
Akan tetapi hubungan ini tidak sederhana. Alergi tidak ditentukan oleh satu gen tunggal, melainkan melibatkan ratusan gen. Salah satu gen yang banyak diteliti adalah filaggrin (FLG), yang berfungsi menjaga integritas lapisan pelindung kulit. Mutasi pada gen ini dapat menyebabkan gangguan pada fungsi pelindung kulit, sehingga meningkatkan risiko paparan alergen dan perkembangan kondisi seperti eksim dan alergi lainnya.
Ketika lapisan kulit tidak berfungsi optimal, zat asing seperti partikel makanan atau alergen lingkungan dapat lebih mudah masuk ke dalam tubuh. Dalam kondisi ini, sistem imun dapat menjadi sensitif secara tidak tepat terhadap zat tersebut, yang kemudian memicu respons alergi. Proses ini menunjukkan bagaimana faktor biologis dapat berinteraksi dengan paparan lingkungan dalam membentuk alergi.
Selain faktor genetik, lingkungan memainkan peran yang sangat besar. Paparan terhadap alergen sejak dini, metode kelahiran, penggunaan antibiotik pada masa awal kehidupan, serta waktu pengenalan makanan padat semuanya berkontribusi terhadap risiko alergi. Faktor-faktor ini memengaruhi bagaimana sistem imun berkembang dan belajar membedakan antara zat berbahaya dan tidak berbahaya.
Paparan yang konsisten terhadap alergen tertentu dapat membantu sistem imun mengembangkan toleransi, sementara paparan yang tidak teratur justru dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya reaksi alergi. Ini menjadi dasar bagi beberapa pendekatan terapi modern yang mencoba melatih sistem imun melalui paparan bertahap.
Mikrobioma juga menjadi faktor kunci dalam perkembangan alergi. Paparan terhadap berbagai mikroorganisme sejak dini membantu membentuk sistem imun yang lebih seimbang dan toleran. Sebaliknya, lingkungan yang terlalu steril dapat mengurangi keragaman mikroba, sehingga meningkatkan risiko gangguan imun seperti alergi.
Selain itu, berkurangnya paparan terhadap parasit dan mikroorganisme dalam kehidupan modern diduga turut berkontribusi terhadap meningkatnya kasus alergi. Dalam kondisi ini, sistem imun yang kurang memiliki “target” dapat menjadi terlalu reaktif terhadap zat yang sebenarnya tidak berbahaya.
Penelitian terbaru juga menekankan bahwa meskipun seseorang memiliki kecenderungan genetik terhadap alergi, jenis alergi yang berkembang tidak selalu sama dengan yang dialami orang tua mereka. Keadaan ini menunjukkan bahwa pengalaman dan lingkungan memiliki peran besar dalam menentukan bentuk spesifik alergi yang muncul.
Alergi merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor genetik dan lingkungan, di mana predisposisi bawaan dapat meningkatkan kerentanan, tetapi paparan, pengalaman awal kehidupan, dan kondisi lingkungan memainkan peran penting dalam menentukan apakah dan bagaimana alergi berkembang. Juga pelu diperhatikan artikel ini disusun semata-mata untuk tujuan informasi serta tidak dimaksudkan sebagai saran medis.
Diolah dari artikel:
“Are allergies genetic?” oleh Katherine Irving. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.livescience.com/health/genetics/are-allergies-genetic