Ampas Kopi Bisa Perkuat Beton hingga 30 Persen Lebih Kuat?

Sumber ilustrasi: Freepik

7 Juli 2025 16.05 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [07.07.2025] Setiap tahun sekitar 10 miliar kilogram limbah ampas kopi dihasilkan di seluruh dunia dimana sebagian besar berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Di sisi lain industri konstruksi global menghadapi tantangan serius dalam menjaga pasokan pasir alam untuk produksi beton, akibat eksploitasi yang tak berkelanjutan. Kedua masalah ini tidak hanya membebani lingkungan, namun juga memperparah emisi gas rumah kaca dan kerusakan ekosistem sungai.

Dari peneliti terbaru dari RMIT University di Australia mengusulkan pendekatan inovatif berbasis ekonomi sirkular: memanfaatkan ampas kopi sebagai bahan tambahan dalam produksi beton. Hasilnya, bukan hanya limbah kopi dapat digunakan kembali, tapi juga menghasilkan beton yang 30 persen lebih kuat dibandingkan campuran konvensional.

Menggabungkan ampas kopi secara langsung ke dalam beton ternyata tidak efektif, karena senyawa kimia alami yang terkandung dalam ampas bisa melemahkan struktur material. Oleh karena itu, tim peneliti menggunakan metode pirolisis, yakni proses pemanasan tanpa oksigen, untuk mengubah limbah kopi menjadi biochar, sejenis arang berpori yang kaya karbon.

Dalam penelitian ini ampas kopi dipanaskan pada suhu sekitar 350 °C, yang terbukti menghasilkan partikel biochar paling optimal untuk penguatan beton. Ketika suhu pirolisis dinaikkan ke 500 °C, biochar yang dihasilkan justru memiliki kekuatan mekanis yang lebih rendah, menunjukkan bahwa temperatur proses sangat menentukan efektivitasnya.

Mikroskop elektron digunakan untuk menganalisis struktur permukaan biochar. Hasilnya menunjukkan bahwa tekstur pori dan sifat ikatannya memungkinkan biochar menyatu dengan matriks semen, meningkatkan kekuatan dan kestabilan beton secara signifikan.

Selain itu tim peneliti ini juga sedang mengembangkan biochar dari limbah organik lain seperti kayu, sisa makanan, dan limbah pertanian, guna memperluas potensi aplikasi teknologi ini.

Meski hasil awal menjanjikan, peneliti mengakui bahwa uji ketahanan jangka panjang masih diperlukan. Beton berbasis biochar masih harus melalui berbagai simulasi kondisi ekstrem seperti siklus beku-cair, penyerapan air, abrasi, dan tekanan beban dalam waktu panjang. Uji ini penting untuk mengetahui seberapa layak dan tahan lama material ini digunakan dalam skala konstruksi nyata.

Mereka juga membangun model berbasis machine learning untuk mengidentifikasi jenis biochar yang paling sesuai dari segi struktur dan komposisi. Pendekatan ini memberikan peluang untuk mengoptimalkan pemilihan bahan dari berbagai jenis limbah organik di masa depan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa limbah sehari-hari seperti ampas kopi memiliki potensi besar dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, jika diolah dengan pendekatan ilmiah yang tepat. Dengan mengubah limbah kopi menjadi biochar melalui pirolisis, para ilmuwan tak hanya mengurangi sampah organik dan emisi gas rumah kaca, tapi juga menciptakan alternatif beton yang lebih kuat dan ramah lingkungan.

Menurut insinyur RMIT, Shannon Kilmartin-Lynch, penelitian ini juga terinspirasi dari nilai-nilai budaya masyarakat adat Australia, yaitu prinsip Caring for Country, atau menjaga keseimbangan dan siklus alam.

Inovasi ini masih berada dalam tahap awal, namun memberikan gambaran konkret bagaimana teknologi rendah emisi dan pemikiran sirkular bisa menyelesaikan beberapa persoalan sekaligus. Dari dapur ke konstruksi, dari limbah ke kekuatan, ampas kopi kini bukan hanya sisa minuman, namun dapat juga menjadi fondasi masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan. (NJD)

Diolah dari artikel:
“Scientists Discovered This Amazing Practical Use For Leftover Coffee Grounds” oleh Tessa Koumoundouros

Link: https://www.sciencealert.com/scientists-discovered-this-amazing-practical-use-for-leftover-coffee-grounds

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *