Ancaman Blokade Selat Hormuz

Sumber ilustrasi: Wikimedia Commons

24 Juni 2025 14.50 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [24.6.2025] Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memuncak setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke tiga fasilitas nuklir utama Iran. Aksi militer ini, yang disebut-sebut sebagai respons atas eskalasi konflik yang dipicu serangan udara Israel ke Iran sejak 13 Juni lalu dan memunculkan kekhawatiran serius akan pembalasan dari pihak Teheran, salah satunya dengan mengancam jalur pelayaran minyak global di Selat Hormuz.

Selat Hormuz yang merupakan selat sempit yang terletak di antara Iran dan Oman, menjadi pusat perhatian karena lebih dari 20% pasokan minyak dunia melewati jalur ini. Potensi gangguan terhadap distribusi energi dari kawasan tersebut langsung memicu lonjakan harga minyak mentah global, dengan Brent naik lebih dari 10% dan menyentuh angka di atas $77 per barel.

Walau hingga kini belum ada gangguan nyata terhadap arus pelayaran energi, sinyal potensi eskalasi tetap terlihat jelas. Infrastruktur energi menjadi target strategis dalam pertukaran serangan antara Iran dan Israel. Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengintensifkan aksi militer Amerika di konflik ini bisa memicu langkah ekstrem dari Iran, termasuk potensi blokade Selat Hormuz.

Seiring meningkatnya tekanan militer dan diplomatik, sejumlah analis menilai Iran mungkin akan mempertimbangkan opsi berisiko tinggi seperti penutupan jalur pelayaran atau bahkan aksi penyerangan terhadap kapal kargo. Garda Revolusi Iran memiliki riwayat melakukan penyitaan dan intimidasi terhadap kapal-kapal asing di sekitar Hormuz, serta kemampuan untuk menebar ranjau laut atau melakukan serangan cepat.

Meskipun Selat Hormuz belum pernah diblokade total, namun sejarah mencatat terdapat berbagai gangguan signifikan terhadap lalu lintas energi di kawasan ini. Pada era Perang Iran-Irak tahun 1980-an, serangan terhadap kapal tanker menyebabkan gangguan distribusi global yang cukup besar. AS sempat menanggapi dengan mengerahkan armada laut melalui Operasi Earnest Will pada tahun 1987–1988.

Pada April 2023, Iran bahkan menyita kapal tanker Advantage Sweet milik Chevron di Teluk Oman dan baru dibebaskan lebih dari setahun kemudian. Semua ini menunjukkan bahwa Iran memiliki kapabilitas untuk mengguncang arus distribusi energi dunia, meski dampaknya kemungkinan akan segera direspons oleh kekuatan militer AS atau sekutunya.

Akan tetapi seperti yang ditunjukkan dalam konflik energi sebelumnya, lonjakan harga akibat adanya gangguan sering kali hanya bersifat sementara. Sebagai contoh invasi Irak ke Kuwait pada 1990, Perang Irak 2003, hingga invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 menunjukkan pola serupa, yakni harga melonjak tajam, namun kembali stabil dalam waktu relatif singkat setelah pasar menyesuaikan.

Analis energi dari PVM, Tamas Varga, menekankan bahwa pasar memiliki daya adaptasi yang kuat. Faktor cadangan produksi global yang mencukupi dan penurunan permintaan akibat lonjakan harga umumnya meredam krisis berkepanjangan. Cadangan produksi OPEC+ yang saat ini mencapai 5,7 juta barel per hari menjadi tameng stabilisasi, dengan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menyumbang lebih dari dua pertiga kapasitas tersebut.

Lebih jauh lagi, Arab Saudi dan UEA telah mempersiapkan infrastruktur pipa alternatif untuk mengalihkan sebagian besar ekspor minyak mereka tanpa melewati Hormuz. Arab Saudi memiliki jalur dari Abqaiq ke pelabuhan Laut Merah di Yanbu, yang dapat menampung hingga 7 juta barel per hari. Sementara itu, UEA memiliki pipa 1,5 juta barel per hari menuju terminal di Fujairah.

Namun demikian tidak semua negara seberuntung itu. Irak, Kuwait, dan Qatar sangat tergantung pada jalur laut melalui Hormuz dan belum memiliki alternatif distribusi yang memadai. Ketergantungan ini menciptakan kerentanan besar jika terjadi krisis maritim berskala besar di kawasan.

Bagi Iran blokade total Hormuz juga bukan tanpa konsekuensi. Tindakan ini akan menutup akses mereka terhadap pasar ekspor minyak dan memperparah tekanan ekonomi domestik, serta memicu kemungkinan sanksi dan isolasi internasional yang lebih dalam. Dengan meningkatnya kehadiran militer AS, Iran mungkin akan memilih jalan diplomasi untuk meredam konflik dan kembali ke meja perundingan nuklir.

Selat Hormuz tetap menjadi titik krusial dalam arsitektur distribusi energi global. Ketegangan di kawasan ini menimbulkan dampak langsung bagi negara-negara pengimpor besar seperti India, Jepang, Korea Selatan, Indonesia, dan sejumlah negara Eropa. Bahkan gangguan kecil seperti penyitaan kapal atau ancaman militer dapat memicu lonjakan harga minyak mentah dan biaya logistik.

Ketergantungan dunia terhadap jalur ini menciptakan risiko laten yang terus menghantui pasar energi global. Meski kemungkinan blokade total kecil, potensi disrupsi tetap tinggi selama konflik belum berakhir. Negara-negara yang mengandalkan pasokan dari Teluk harus bersiap menghadapi fluktuasi pasokan dan meningkatnya biaya energi.

Selama eskalasi ini belum mereda, pasar minyak internasional akan terus berada dalam mode waspada. Setiap ancaman terhadap Selat Hormuz, baik nyata maupun simbolik, berisiko memicu gejolak harga dan mengganggu kestabilan energi dunia. Strategi antisipatif, baik dari sisi logistik maupun diplomasi, menjadi kunci dalam meredam dampak dari ketegangan geopolitik yang terus berkembang di kawasan ini. (NJD)

Diolah dari artikel:
Iran oil doomsday in Hormuz may be more fear than reality” oleh Ron Bouso

Link: https://www.reuters.com/markets/commodities/iran-oil-doomsday-hormuz-may-be-more-fear-than-reality-bousso-2025-06-22/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *