Apakah Dampak dari Mengurangi Kalori Saat Puasa?

Sumber ilustrasi: Pixabay
8 Maret 2026 12.05 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [08.03.2026] Puasa intermiten, khususnya metode time-restricted eating (TRE), telah populer sebagai strategi sederhana untuk meningkatkan kesehatan metabolik dan mendukung pengelolaan berat badan. TRE membatasi konsumsi makanan dalam jendela waktu tertentu yang biasanya tidak lebih dari sepuluh jam dan diikuti periode puasa minimal 14 jam. Penelitian sebelumnya pada hewan menunjukkan bahwa TRE dapat melindungi tikus dari obesitas terkait pola makan dan masalah metabolik. Studi pada manusia sebelumnya melaporkan beberapa manfaat, termasuk peningkatan sensitivitas insulin, kadar gula darah dan kolesterol yang lebih sehat, serta penurunan ringan pada berat badan dan lemak tubuh.

Meski populer, bukti ilmiah mengenai manfaat TRE pada manusia masih beragam. Banyak penelitian sebelumnya tidak mampu memastikan apakah perbaikan kesehatan yang diamati berasal dari jendela makan yang lebih singkat, pengurangan kalori yang tidak disengaja, atau kombinasi keduanya. Selain itu, sebagian besar uji coba sebelumnya tidak memantau asupan kalori secara ketat maupun mengendalikan faktor lain yang memengaruhi metabolisme.

Penelitian terbaru yang dikenal sebagai ChronoFast, yang dipimpin oleh Prof. Olga Ramich dari German Institute of Human Nutrition Potsdam-Rehbruecke (DIfE) dan Charité – Universitätsmedizin Berlin, bertujuan untuk menguji apakah jendela makan delapan jam dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan parameter metabolik lain ketika asupan kalori dijaga tetap sama. Studi ini dipublikasikan di jurnal Science Translational Medicine.

Studi ChronoFast menggunakan desain randomized crossover dan melibatkan 31 perempuan dengan kelebihan berat badan atau obesitas. Setiap peserta mengikuti dua jadwal makan berbeda selama dua minggu. Jadwal pertama adalah early time-restricted eating (eTRE) dari pukul 08.00 hingga 16.00, sedangkan jadwal kedua adalah late time-restricted eating (lTRE) dari pukul 13.00 hingga 21.00. Selama kedua fase, peserta mengonsumsi makanan hampir identik dengan jumlah kalori dan kandungan nutrisi yang sama.

Peneliti mengumpulkan sampel darah selama empat kunjungan klinis dan melakukan tes toleransi glukosa oral untuk menilai metabolisme gula dan lemak. Pemantauan glukosa 24 jam dan sensor gerak digunakan untuk mencatat kadar gula darah dan aktivitas fisik peserta. Bersama Prof. Achim Kramer, tim juga memeriksa perubahan jam biologis tubuh melalui sel darah yang diisolasi.

Jam biologis manusia mengikuti ritme sirkadian yang mengatur hampir semua proses fisiologis, termasuk tidur dan metabolisme. Hampir semua sel tubuh memiliki jam biologis internal yang dapat dipengaruhi oleh cahaya, aktivitas fisik, dan waktu makan. Dalam studi ini, metode BodyTime assay dikembangkan untuk mengukur fase sirkadian individu hanya dengan satu sampel darah, sehingga dapat memberikan gambaran objektif tentang waktu biologis internal peserta.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jendela makan delapan jam tanpa pengurangan kalori tidak menimbulkan perubahan signifikan pada sensitivitas insulin, kadar gula darah, profil lipid, maupun penanda inflamasi setelah intervensi dua minggu. Temuan ini menunjukkan bahwa manfaat kesehatan yang dilaporkan dalam studi sebelumnya kemungkinan besar berasal dari pengurangan kalori yang tidak disengaja, bukan dari pemendekan jendela makan itu sendiri.

Meski parameter metabolik tidak berubah, waktu makan tetap memengaruhi ritme sirkadian. Analisis sel darah menunjukkan bahwa jam biologis tubuh bergeser rata-rata 40 menit pada jadwal makan malam dibandingkan jadwal makan lebih awal. Peserta yang mengikuti jadwal makan lebih malam cenderung tidur dan bangun lebih lambat. Hal ini mengindikasikan bahwa waktu makan dapat bertindak sebagai sinyal bagi ritme biologis tubuh, mirip dengan pengaruh cahaya.

Temuan ini memperlihatkan pentingnya keseimbangan kalori dalam mencapai manfaat kesehatan dari puasa intermiten. Individu yang ingin menurunkan berat badan atau memperbaiki metabolisme disarankan untuk memperhatikan tidak hanya waktu makan, tetapi juga keseimbangan energi keseluruhan. Penelitian di masa depan diharapkan dapat mengeksplorasi apakah kombinasi antara pembatasan waktu makan dan pengurangan kalori akan menghasilkan manfaat yang lebih kuat, serta memahami bagaimana faktor individu seperti kronotipe dan genetika memengaruhi respons terhadap jadwal makan.

Penelitian ChronoFast menunjukkan bahwa pembatasan waktu makan delapan jam tanpa pengurangan kalori tidak memberikan peningkatan metabolik atau kardiovaskular yang signifikan. Penemuan ini menunjukkan bahwa manfaat kesehatan yang sebelumnya dikaitkan dengan TRE kemungkinan besar bersumber dari pengurangan kalori yang tidak disengaja, bukan jendela makan itu sendiri. Waktu makan memang memengaruhi ritme sirkadian, tetapi dampaknya pada parameter metabolik utama terbatas tanpa pengendalian kalori.

Hasil studi juga menunjukkan pentingnya memperhatikan keseimbangan energi secara keseluruhan dalam strategi puasa intermiten. Kombinasi antara pengaturan waktu makan dan pengurangan kalori, serta pertimbangan faktor individu seperti kronotipe dan genetika, mungkin diperlukan untuk mencapai manfaat metabolik yang lebih nyata. Temuan ini memberikan wawasan baru bagi ilmuwan dan praktisi kesehatan dalam merancang intervensi nutrisi berbasis puasa intermiten.

Diolah dari artikel:
“Scientists tested intermittent fasting without eating less and found no metabolic benefit” oleh Deutsches Zentrum fuer Diabetesforschung DZD. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2025/12/251228020018.htm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *