Sumber ilustrasi: Freepik
18 Februari 2026 09.25 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [18.02.2026] Dalam beberapa dekade terakhir, kemajuan analisis DNA purba telah mengubah cara ilmuwan memahami sejarah kehidupan di Bumi. Salah satu temuan paling menarik adalah keberadaan apa yang disebut sebagai “garis keturunan hantu” — populasi kuno yang telah punah tanpa meninggalkan fosil yang jelas, tetapi masih meninggalkan jejak genetik pada makhluk hidup saat ini.
Istilah ini mungkin terdengar seperti konsep fiksi ilmiah, namun dalam genetika evolusi, garis keturunan hantu merujuk pada kelompok purba yang sempat menyumbangkan materi genetik kepada populasi lain sebelum akhirnya lenyap. Jejak tersebut tetap terdeteksi dalam genom manusia modern, primata lain, serta berbagai spesies hewan.
Konsep ini semakin mendapat perhatian setelah rekonstruksi individu Denisovan seperti Homo longi yang didasarkan pada tengkorak Harbin di Tiongkok. Analisis genetik menunjukkan bahwa Denisovan pernah berinteraksi dan melakukan kawin silang dengan populasi manusia superarkais yang tidak diketahui melalui fosil, tetapi terlacak melalui DNA.
Kajian mengenai garis keturunan hantu tidak hanya terbatas pada manusia. Penelitian DNA purba terhadap hewan zaman es, termasuk mamut dan yak Pleistosen, juga mengungkap keberadaan populasi kuno yang sebelumnya tidak teridentifikasi. Temuan tersebut sebagian besar muncul secara tidak terduga saat ilmuwan mempelajari evolusi spesies yang telah punah.
Love Dalén dari Stockholm University menjelaskan kepada Live Science bahwa banyak penemuan garis keturunan hantu terjadi secara kebetulan ketika timnya meneliti evolusi mamut, bovidae, dan lemming. Analisis genetik kemudian memperlihatkan adanya populasi tersembunyi yang hanya dapat dikenali melalui variasi DNA.
Data tersebut menunjukkan bahwa keragaman genetik pada zaman es terakhir jauh lebih tinggi dibandingkan saat ini. Banyak spesies Arktik modern ternyata memiliki latar belakang genetik yang lebih kaya di masa lalu, mengindikasikan bahwa perubahan iklim purba berperan besar dalam membentuk pola keanekaragaman hayati saat ini.
Karena itu, pendekatan DNA purba dinilai semakin penting untuk memahami perubahan biodiversitas secara menyeluruh. Tanpa analisis genetik, banyak populasi kuno mungkin tidak pernah terdeteksi dalam catatan evolusi.
Dalam konteks evolusi manusia, garis keturunan hantu memberikan gambaran yang jauh lebih kompleks dibandingkan model evolusi linier yang dulu diterima luas. Selama bertahun-tahun, banyak ilmuwan beranggapan bahwa evolusi manusia berjalan bertahap hingga kemunculan Homo sapiens di Afrika sekitar 300.000 tahun lalu, yang kemudian menggantikan kelompok manusia purba lain dengan sedikit percampuran genetik.
Namun, analisis genom selama dua dekade terakhir menunjukkan bahwa sejarah tersebut tidak sesederhana itu. Jejak genetik dari populasi yang tidak dikenal secara fosil ditemukan dalam DNA manusia modern maupun dalam genom Neanderthal dan Denisovan. Hal ini menandakan adanya kelompok purba yang hidup ratusan ribu hingga jutaan tahun tanpa meninggalkan bukti fisik yang jelas.
Michael Petraglia dari Griffith University menjelaskan kepada Live Science bahwa model evolusi manusia kini berubah dari pola linier menjadi lebih menyerupai struktur bercabang rapat. Pohon evolusi tidak lagi sederhana, melainkan tampak seperti aliran sungai dengan banyak percabangan yang saling berinteraksi.
Salah satu fokus penelitian adalah kelompok hominin “superarkais” yang hanya diketahui dari jejak genetiknya. Populasi ini diperkirakan berpisah dari garis keturunan manusia modern, Neanderthal, dan Denisovan antara 2 juta hingga 1,8 juta tahun lalu, pada masa ketika Homo erectus menjadi spesies dominan di Afrika.
Tidak ada fosil yang secara pasti diidentifikasi sebagai bagian dari kelompok superarkais tersebut. Keberadaannya disimpulkan dari analisis genom yang menunjukkan adanya gen asing dalam DNA Neanderthal, Denisovan, dan sebagian populasi manusia modern.
Situasi menjadi semakin kompleks karena adanya bukti kawin silang berulang antar kelompok manusia purba. Data genetik menunjukkan bahwa nenek moyang Denisovan, Neanderthal, dan manusia modern beberapa kali bertemu dan bertukar gen. Bahkan terdapat indikasi bahwa Denisovan melakukan kawin silang setidaknya dua kali dengan populasi superarkais, menghasilkan proporsi gen hantu yang cukup signifikan dalam genom mereka dan pada manusia modern yang memiliki keturunan Denisovan.
Penemuan ini memicu perdebatan mengenai siapa nenek moyang bersama terakhir manusia serta bagaimana garis keturunan berkembang dan bercampur selama jutaan tahun. Proses “mengungkap hantu” melalui penemuan fosil yang cocok dengan data genetik kini menjadi salah satu bidang penelitian yang berkembang pesat dalam paleoantropologi.
Keberadaan garis keturunan hantu menunjukkan bahwa sejarah evolusi, baik pada hewan maupun manusia, jauh lebih kompleks daripada yang diperkirakan sebelumnya. DNA purba mengungkap populasi yang tidak tercatat dalam fosil tetapi tetap meninggalkan warisan genetik yang bertahan hingga sekarang. Bukti ini menegaskan bahwa perubahan iklim, migrasi, dan interaksi antar populasi memainkan peran besar dalam membentuk keanekaragaman genetik masa kini.
Dalam evolusi manusia khususnya, temuan ini mengubah pemahaman tentang asal-usul manusia modern. Alih-alih berkembang secara linier, sejarah manusia ternyata dipenuhi percampuran genetik antar berbagai kelompok purba. Garis keturunan hantu menjadi pengingat bahwa banyak bagian masa lalu masih tersembunyi dalam genom, menunggu untuk diungkap melalui teknologi genetika yang semakin maju.
Diolah dari artikel:
“What are ghost lineages, remnants of the past that still exist in our DNA today?” oleh Tom Metcalfe.
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.