Sumber ilustrasi: Unsplash
10 Maret 2026 12.55 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [10.03.2026] Dalam beberapa dekade terakhir, para ilmuwan semakin menyadari bahwa hewan tidak selalu berperilaku sama meskipun berasal dari spesies yang sama. Banyak penelitian menunjukkan bahwa individu hewan dapat memiliki sifat perilaku yang berbeda, seperti tingkat keberanian, kecenderungan bersosialisasi, atau kebiasaan menjelajah. Variasi ini sering disebut sebagai kepribadian hewan. Perbedaan perilaku tersebut dapat memengaruhi cara hewan mencari makan, menghadapi predator, dan berinteraksi dengan anggota kelompoknya.
Banyak ilmuwan pada awalnya beranggapan bahwa evolusi akan mendorong semua individu dalam satu spesies untuk berperilaku dengan cara yang hampir sama. Logika yang digunakan adalah bahwa jika ada satu strategi perilaku yang paling efektif untuk bertahan hidup, maka individu yang menggunakan strategi tersebut akan lebih berhasil berkembang biak. Seiring waktu, perbedaan perilaku dianggap akan menghilang dari populasi.
Akan tetapi, pandangan tersebut mulai berubah setelah sejumlah penelitian pada awal tahun 2000-an menunjukkan bahwa variasi perilaku justru dapat memberikan keuntungan bagi suatu spesies. Studi-studi yang melibatkan berbagai kelompok hewan, mulai dari mamalia hingga moluska, menunjukkan bahwa evolusi dapat menghasilkan perbedaan perilaku yang konsisten antarindividu. Dengan kata lain, adanya kepribadian bukan hanya fenomena yang terjadi pada manusia, namun juga muncul secara luas di dunia hewan.
Perkembangan pemahaman ini mendorong para ilmuwan untuk mempertimbangkan faktor perilaku dalam upaya konservasi. Dalam banyak program pelepasan hewan ke alam liar, sifat individu ternyata dapat memengaruhi keberhasilan adaptasi terhadap lingkungan alami.
Salah satu contoh penelitian mengenai peran kepribadian hewan dilakukan pada white-lipped peccary, mamalia mirip babi yang hidup di Amerika Selatan. Spesies ini termasuk dalam kategori rentan menurut organisasi konservasi internasional, karena populasi dan wilayah persebarannya terus menurun. Di Brasil, wilayah historis spesies tersebut telah menyusut sekitar 60 persen hingga tahun 2020.
Dalam sebuah proyek konservasi di Brasil, para peneliti mempelajari kelompok berisi 17 peccary (mamalia berkuku seperti babi) yang dibesarkan di penangkaran sebelum dilepaskan ke alam liar. Setiap individu direkam selama menjalani aktivitas sehari-hari. Dari rekaman tersebut, peneliti menilai berbagai perilaku seperti agresivitas, interaksi sosial, serta kecenderungan menjelajah lingkungan. Penilaian tersebut kemudian digunakan untuk menentukan sifat individu, misalnya tingkat keberanian atau keramahan.
Salah satu peccary yang menarik perhatian peneliti adalah pejantan muda bernama Naruto. Hewan tersebut menunjukkan perilaku yang lebih menyendiri dibandingkan anggota kelompok lainnya. Pengamatan peneliti menunjukkan bahwa Naruto sering makan paling terakhir dan memiliki tubuh lebih kurus dibandingkan individu lain, sehingga perilaku tersebut dianggap mencerminkan sifat yang lebih pemalu dan kurang sosial.
Setelah dilepaskan ke alam liar, perilaku menyendiri tersebut tetap terlihat. Pergerakan Naruto yang lebih jauh dari kelompok sempat membantu penyebaran anggota kelompok ke area yang lebih luas. Namun kurang dari satu tahun kemudian, peneliti menemukan hewan tersebut mengalami luka gigitan serius yang kemungkinan berasal dari predator besar seperti jaguar atau puma. Naruto meninggal beberapa hari setelah ditemukan.
Sebaliknya, anggota kelompok lain yang tetap bergerak bersama menunjukkan tingkat kelangsungan hidup yang lebih baik. Sekitar dua tahun setelah pelepasan, kelompok tersebut bahkan telah menghasilkan sepuluh anak baru. Berdasarkan pengamatan tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa keberhasilan hidup di alam liar kemungkinan membutuhkan kombinasi berbagai tipe perilaku dalam satu kelompok, termasuk individu yang suka menjelajah dan individu yang lebih sosial.
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa sifat perilaku tertentu dapat memberikan keuntungan atau kerugian tergantung pada kondisi lingkungan. Studi terhadap dua spesies rubah menemukan bahwa individu yang lebih berani memiliki risiko lebih tinggi terhadap predator di lingkungan yang berbahaya. Namun pada populasi yang tidak memiliki predator alami, sifat berani justru berkaitan dengan keberhasilan reproduksi yang lebih tinggi.
Variasi hasil juga terlihat pada spesies lain seperti penyu, setan Tasmania, dan burung nuri. Pada beberapa spesies, individu yang lebih berani bertahan hidup lebih lama, sementara pada spesies lain justru individu yang lebih pemalu memiliki peluang hidup lebih tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa tidak ada satu tipe kepribadian yang selalu paling menguntungkan dalam semua situasi.
Konsep kepribadian hewan juga mulai diterapkan dalam berbagai program konservasi. Penelitian pada burung black-fronted piping guan di Amerika Selatan misalnya menggunakan metode penilaian perilaku untuk menentukan individu mana yang lebih cocok dilepaskan ke alam liar. Burung dinilai berdasarkan sifat seperti tingkat agresivitas, kemampuan menerima makanan baru, dan kecenderungan berada di tanah atau di pepohonan. Perilaku terlalu sering berada di tanah dianggap berisiko karena meningkatkan kemungkinan serangan predator.
Pendekatan serupa juga diterapkan dalam penelitian terhadap monyet golden lion tamarin di Brasil. Perubahan habitat akibat pembangunan infrastruktur membuat para peneliti membangun jembatan khusus di hutan agar monyet dapat menyeberangi area terbuka dengan lebih aman. Pengamatan menunjukkan bahwa beberapa kelompok monyet menggunakan jembatan tersebut dengan mudah, sementara kelompok lain lebih ragu. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan sifat individu dapat memengaruhi cara hewan merespons perubahan lingkungan.
Dalam beberapa program konservasi, pengujian kepribadian secara rinci tidak selalu memungkinkan. Misalnya dalam proyek pemindahan serigala dari Oregon ke Colorado di Amerika Serikat. Proses pemindahan dilakukan dengan cepat menggunakan helikopter dan peralatan penenang. Dalam situasi seperti ini, peneliti sering hanya memiliki informasi terbatas mengenai sifat individu.
Meskipun demikian, semakin banyak pengelola satwa liar yang mulai menyadari pentingnya faktor perilaku dalam upaya konservasi. Beberapa strategi pengelolaan bahkan dirancang dengan mempertimbangkan perbedaan sifat individu. Sebagai contoh, alat penghalang yang dikenal sebagai fladry digunakan untuk mencegah serigala mendekati ternak. Alat tersebut berupa tali dengan bendera berwarna yang berkibar di sepanjang pagar. Serigala yang lebih pemalu cenderung takut terhadap benda yang bergerak tersebut, sedangkan individu yang lebih berani mungkin tidak terpengaruh.
Penelitian mengenai kepribadian hewan menunjukkan bahwa perbedaan perilaku antarindividu dapat memainkan peran penting dalam kelangsungan hidup suatu spesies. Sifat seperti keberanian, kecenderungan bersosialisasi, dan pola pergerakan dapat memengaruhi kemampuan hewan beradaptasi dengan lingkungan baru, menghadapi predator, serta membentuk kelompok yang stabil di alam liar. Temuan dari berbagai spesies menunjukkan bahwa tidak ada satu tipe kepribadian yang selalu paling menguntungkan dalam semua situasi.
Pemahaman mengenai kepribadian hewan kini semakin dipertimbangkan dalam strategi konservasi modern. Dengan mengenali sifat perilaku individu, para ilmuwan dan pengelola satwa liar dapat menentukan metode pelepasan, pengelolaan habitat, serta strategi perlindungan yang lebih efektif. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan peluang keberhasilan dalam upaya penyelamatan spesies yang terancam punah di berbagai belahan dunia.
Diolah dari artikel:
“Animals’ personalities can affect a species’ survival” oleh Darren Incorvaia. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.snexplores.org/article/animal-personality-conservation-survival