Apakah Kunci untuk Menghindari Menitikkan Air Mata Saat Memotong Bawang Bombai?

Sumber ilustrasi: Freepik
22 Januari 2026 10.50 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [22.01.2026] Menangis saat memotong bawang bombai merupakan pengalaman umum di dapur dan telah lama dianggap sebagai konsekuensi tak terhindarkan dari aktivitas memasak. Selama ini, banyak orang mengetahui bahwa bawang bombai mengandung zat kimia yang memicu iritasi mata, tetapi sedikit yang memahami bagaimana cara memotong bawang bombai dapat memperparah atau justru mengurangi efek tersebut.

Bawang bombai diketahui mengandung senyawa yang, ketika sel-selnya rusak akibat pemotongan, akan bereaksi membentuk gas propanethial S-oksida. Gas inilah yang bertanggung jawab atas rasa perih dan keluarnya air mata ketika mencapai mata. Fenomena ini telah lama dijelaskan dalam ilmu kimia dasar, namun aspek fisika dari penyebaran cairan Bawang bombai ke udara belum banyak diteliti secara mendalam.

Dalam praktik sehari-hari, berbagai cara populer digunakan untuk mengurangi air mata, mulai dari mendinginkan bawang, menggunakan kacamata pelindung, hingga memotong di bawah aliran air. Meski demikian, efektivitas metode-metode tersebut sering kali tidak konsisten dan belum sepenuhnya didukung oleh data ilmiah yang rinci.

Sebuah penelitian terbaru memberikan sudut pandang baru dengan menunjukkan bahwa teknik memotong, khususnya ketajaman pisau dan kecepatan gerakan, memiliki peran penting dalam menentukan seberapa banyak zat penyebab air mata yang tersebar ke udara.

Penelitian ini dilakukan oleh tim ilmuwan yang tertarik pada interaksi antara cairan, gaya mekanis, dan penyebaran partikel di udara. Ketertarikan tersebut berawal dari pengamatan sederhana saat memotong bawang, ketika tetesan cairan bawang bombai terlihat menyembur dan menempel pada kulit.

Untuk memahami fenomena tersebut secara ilmiah, para peneliti membawa bawang bombai dalam jumlah besar ke laboratorium dan menggunakan kamera berkecepatan tinggi untuk merekam proses pemotongan. Alat khusus menyerupai guillotine mini dirancang agar pisau dengan tingkat ketajaman berbeda dapat digunakan secara konsisten.

Selain kamera, sensor dipasang untuk mengukur gaya dan kecepatan setiap potongan. Dengan pendekatan ini, tim peneliti dapat mengamati hubungan antara tekanan yang diberikan pisau dan jumlah cairan Bawang Bombaiyang terlempar ke udara.

Struktur bawang bombai terdiri dari lapisan-lapisan sel yang kaya cairan. Ketika pisau menekan dan menembus lapisan tersebut, sel-sel akan pecah dan cairan di dalamnya terdorong keluar. Jika tekanan yang diberikan terlalu besar, cairan tersebut tidak hanya keluar, tetapi juga menyembur dan terpecah menjadi tetesan-tetesan kecil.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pisau tumpul memerlukan gaya yang jauh lebih besar untuk menembus kulit bawang. Gaya ini menyebabkan lebih banyak sel hancur secara bersamaan, sehingga cairan yang dilepaskan menjadi lebih banyak dan terlontar dengan kecepatan tinggi.

Dalam kondisi tertentu, potongan cepat menggunakan pisau tumpul bahkan mampu melontarkan tetesan cairan bawang bombai hingga puluhan meter ke udara. Jarak ini jauh melampaui ketinggian kepala manusia, sehingga meningkatkan kemungkinan tetesan tersebut mencapai mata.

Sebaliknya, penggunaan pisau yang sangat tajam memungkinkan pemotongan terjadi dengan tekanan minimal. Ketika dipadukan dengan gerakan yang lambat dan stabil, jumlah cairan yang tersembur ke udara berkurang drastis. Dalam pengujian, tetesan yang dihasilkan tidak mencapai ketinggian mata, sehingga risiko iritasi mata menjadi jauh lebih kecil.

Fenomena ini dianalogikan dengan perbedaan antara menusuk balon air menggunakan jarum dibandingkan menekannya dengan tangan. Tekanan yang besar akan menyebabkan semburan cairan yang lebih kuat dan menyebar lebih jauh.

Lebih jauh lagi, rekaman kamera menunjukkan bagaimana tetesan cairan bawang bombai dapat pecah di udara dan bergerak semakin jauh akibat gaya awal yang besar. Pola penyebaran ini menarik perhatian peneliti karena memiliki kemiripan dengan cara partikel lain, termasuk mikroorganisme, dapat tersebar melalui udara.

Penelitian ini menunjukkan bahwa air mata saat memotong bawang bombai bukan semata-mata disebabkan oleh kandungan kimia bawang, tetapi juga oleh cara bawang bombai tersebut dipotong. Ketajaman pisau dan kecepatan gerakan terbukti memengaruhi seberapa banyak cairan bawang bombai yang terlempar ke udara dan berpotensi mengenai mata.

Dengan menggunakan pisau tajam dan memotong secara perlahan serta terkendali, jumlah tetesan penyebab iritasi dapat ditekan secara signifikan. Temuan ini tidak hanya bermanfaat bagi kegiatan memasak sehari-hari, tetapi juga memberikan wawasan ilmiah yang lebih luas tentang mekanisme penyebaran partikel cair di udara.

Diolah dari artikel:
“Chopping an onion? Sharp knives can keep its juice out of your eyes” oleh Carly Kay.

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.snexplores.org/article/slow-sharp-cuts-onion-crying

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *