Sumber ilustrasi: Freepik
18 Desember 2025 09.10 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [18.12.2025] Kura-kura dikenal luas sebagai hewan yang memiliki tempurung keras dan kemampuan untuk menarik kepala ke dalamnya ketika menghadapi ancaman. Gambaran ini telah lama melekat dalam pemahaman masyarakat umum dan sering dianggap sebagai ciri universal seluruh kura-kura. Tempurung pun kerap dipandang sebagai perisai biologis yang berevolusi khusus untuk pertahanan diri.
Akan tetapi, pengetahuan ilmiah menunjukkan bahwa kemampuan tersebut tidak dimiliki oleh semua jenis kura-kura. Perbedaan habitat, bentuk tubuh, serta sejarah evolusi menyebabkan variasi besar dalam cara kura-kura melindungi diri. Sebagian spesies memang dapat menyembunyikan kepala sepenuhnya, sementara spesies lain sama sekali tidak memiliki kemampuan tersebut.
Selain itu, meskipun tempurung saat ini berfungsi sebagai alat perlindungan, para peneliti menemukan bahwa fungsi tersebut bukanlah alasan awal terbentuknya tempurung kura-kura. Bukti fosil menunjukkan bahwa evolusi tempurung merupakan proses panjang yang dipengaruhi oleh berbagai tekanan lingkungan, bukan semata-mata ancaman predator.
Kura-kura darat, atau tortoise, merupakan kelompok yang paling dikenal karena kemampuannya menarik kepala ke dalam tempurung. Kelompok ini muncul sekitar 50 juta tahun lalu dan hidup sepenuhnya di daratan. Karena pergerakannya relatif lambat, kura-kura darat sangat bergantung pada tempurung sebagai alat perlindungan pasif. Bentuk tempurung yang melengkung dan berongga memberikan ruang yang cukup untuk menyembunyikan kepala dan anggota tubuh.
Beberapa spesies kura-kura semiakuatik, yang menghabiskan waktu di darat dan air, juga menunjukkan kemampuan serupa. Pada kelompok ini, terdapat dua mekanisme utama untuk menyembunyikan kepala. Kura-kura berleher samping melipat leher dan kepala ke arah samping, menyelipkannya di bawah tepi tempurung dan melewati salah satu kaki depan. Sementara itu, kura-kura berleher S atau berleher ular melengkungkan leher membentuk huruf S, lalu menariknya masuk ke dalam struktur bahu.
Contoh ekstrem dari adaptasi ini ditemukan pada kura-kura kotak timur. Spesies ini memiliki plastron, atau tempurung bagian bawah, yang dilengkapi engsel. Struktur ini memungkinkan tempurung tertutup rapat sepenuhnya, sehingga hampir tidak ada bagian tubuh yang terekspos saat menghadapi ancaman.
Berbeda dengan kelompok darat, kura-kura laut tidak memiliki kemampuan menarik kepala ke dalam tempurung. Tempurung kura-kura laut bersifat lebih tipis, ramping, dan ringan, serta tidak menyediakan ruang internal untuk menyimpan kepala. Adaptasi ini berkaitan erat dengan gaya hidup akuatik, di mana kecepatan berenang menjadi kunci utama untuk menghindari predator. Tempurung yang ringan membantu mengurangi hambatan dan meningkatkan efisiensi gerak di air.
Untuk memahami mengapa hanya sebagian kura-kura memiliki kemampuan tersebut, para peneliti menelusuri asal-usul evolusi tempurung hingga hampir 300 juta tahun lalu. Tempurung kura-kura merupakan struktur kompleks yang terdiri atas lebih dari 50 tulang dan merupakan bagian integral dari kerangka tubuh, bukan lapisan luar terpisah.
Bukti paling awal menunjukkan bahwa evolusi tempurung dimulai dari pelebaran tulang rusuk pada spesies purba seperti Eunotosaurus africanus, yang hidup sekitar 260 juta tahun lalu. Pelebaran tulang rusuk ini diduga membantu menopang otot yang lebih besar, memungkinkan hewan tersebut menggali tanah untuk berlindung dari panas ekstrem.
Tahap berikutnya terlihat pada fosil Pappochelys berusia 240 juta tahun, yang menunjukkan kombinasi tulang rusuk atas yang melebar dan gastralia, atau tulang rusuk perut, yang menebal. Sekitar 220 juta tahun lalu, spesies air Odontochelys telah mengembangkan plastron yang menyatu sepenuhnya, kemungkinan berfungsi sebagai pemberat untuk menyelam lebih dalam atau sebagai perlindungan dari predator bawah air.
Bukti pertama tempurung kura-kura yang sepenuhnya tertutup berasal dari fosil Proganochelys berusia sekitar 210 juta tahun. Pada tahap ini, tulang rusuk atas telah menyatu dengan tulang dermal, membentuk karapas yang terhubung dengan plastron. Struktur bahu membentuk celah bagi kepala, menandai bentuk dasar tempurung kura-kura modern.
Meskipun makhluk-makhluk ini diyakini sebagai nenek moyang kura-kura modern, penelitian menunjukkan bahwa ciri-ciri serupa juga muncul secara independen pada kelompok hewan lain. Hal ini menjadikan evolusi tempurung sebagai bidang penelitian yang terus berkembang dengan temuan-temuan baru.
Kemampuan kura-kura untuk menarik kepala ke dalam tempurung ternyata tidak bersifat universal, melainkan bergantung pada kelompok dan lingkungan hidupnya. Kura-kura darat dan beberapa spesies semiakuatik mengandalkan tempurung sebagai perlindungan utama, sementara kura-kura laut mengorbankan kemampuan tersebut demi kecepatan dan kelincahan di air.
Evolusi tempurung kura-kura menunjukkan bahwa fungsi biologis suatu struktur dapat berubah seiring waktu. Tempurung yang awalnya berkembang untuk mendukung aktivitas seperti menggali atau berenang, kini menjadi simbol ketahanan dan pertahanan diri, membantu kura-kura bertahan melewati ratusan juta tahun sejarah Bumi dan berbagai peristiwa kepunahan massal.
Diolah dari artikel:
“Can a turtle tuck its head all the way inside its shell?” oleh Emma Bryce.
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.livescience.com/animals/can-a-turtle-tuck-its-head-all-the-way-inside-its-shell