Sumber ilustrasi: Freepik
14 Januari 2026 11.35 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [14.01.2026] Selama beberapa dekade, Bulan dipahami sebagai benda langit yang pasif dan hampir sepenuhnya terpisah dari dinamika atmosfer Bumi. Persepsi ini diperkuat oleh ketiadaan atmosfer tebal di Bulan serta kondisi permukaannya yang tampak beku dan tak banyak berubah sejak miliaran tahun lalu. Namun demikian, penelitian terbaru menunjukkan bahwa hubungan Bumi dan Bulan jauh lebih dinamis daripada yang selama ini diperkirakan.
Sejak misi Apollo NASA pada awal 1970-an mengembalikan sampel tanah Bulan ke Bumi, para ilmuwan menemukan keberadaan zat volatil dalam regolit Bulan. Zat-zat ini mencakup air, nitrogen, karbon dioksida, helium, dan argon, yang merupakan unsur-unsur umumnya diasosiasikan dengan atmosfer. Temuan tersebut memunculkan pertanyaan mendasar mengenai asal-usul material tersebut.
Penelitian sebelumnya menyimpulkan bahwa sebagian zat volatil, terutama ion nitrogen, kemungkinan berasal dari atmosfer atas Bumi dan terdorong menuju Bulan oleh hembusan angin Matahari. Namun, teori dominan yang berkembang sejak pertengahan 2000-an menyatakan bahwa proses tersebut hanya mungkin terjadi sebelum Bumi membentuk medan magnet global, atau magnetosfer.
Medan magnet Bumi dipahami sebagai perisai tak kasatmata yang melindungi atmosfer dari terpaan angin Matahari. Dalam kerangka teori lama, keberadaan magnetosfer dianggap justru mencegah partikel atmosfer terlepas dan mencapai Bulan. Studi terbaru menantang asumsi ini dan menawarkan gambaran baru mengenai interaksi jangka panjang antara Bumi, Bulan, dan angin Matahari.
Dalam penelitian yang dipublikasikan pada Desember 2025 di jurnal Communications Earth & Environment, para ilmuwan menggabungkan analisis sampel Bulan dari era Apollo dengan pemodelan komputer tentang evolusi magnetosfer Bumi. Pendekatan ini memungkinkan rekonstruksi jalur perpindahan partikel atmosfer selama miliaran tahun.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa medan magnet Bumi tidak selalu bertindak sebagai penghalang. Pada kondisi tertentu, magnetosfer justru memfasilitasi perpindahan ion atmosfer menuju Bulan. Mekanisme utama yang terlibat adalah ekor magnet Bumi, bagian terluas dari magnetosfer yang memanjang ke arah berlawanan dari Matahari.
Setiap bulan, ketika Bumi berada di antara Matahari dan Bulan, sekitar fase purnama, Bulan melintasi ekor magnet tersebut. Dalam fase ini, garis-garis medan magnet berfungsi seperti jalur transportasi bagi partikel bermuatan. Ion-ion dari atmosfer Bumi, yang sebelumnya terdorong oleh angin Matahari, diarahkan sepanjang jalur magnetik ini menuju Bulan.
Alih-alih terhalang, partikel-partikel tersebut justru dipandu dan akhirnya mengendap di permukaan Bulan, tertanam di dalam regolit. Model komputer menunjukkan bahwa proses ini berlangsung secara paling intens justru setelah magnetosfer Bumi terbentuk secara penuh, sekitar 3,7 miliar tahun lalu.
Temuan ini membalik asumsi lama bahwa hanya atmosfer awal Bumi yang terekam di permukaan Bulan. Regolit Bulan kini dipahami sebagai arsip jangka panjang yang menyimpan rekaman evolusi atmosfer dan medan magnet Bumi sepanjang sebagian besar sejarah planet ini.
Implikasi ilmiah dari temuan ini sangat luas. Sampel Bulan tidak lagi dipandang sekadar sebagai sisa pembentukan tata surya, melainkan sebagai kapsul waktu yang menyimpan informasi tentang kondisi lingkungan Bumi purba. Analisis isotop dan ion dalam regolit berpotensi mengungkap perubahan atmosfer yang tidak terekam dalam batuan Bumi akibat aktivitas tektonik dan erosi.
Penelitian ini juga relevan bagi misi eksplorasi Bulan yang akan datang. Program Artemis NASA, yang menargetkan pendaratan manusia di Bulan pada akhir dekade ini, serta misi-misi China yang telah berhasil membawa pulang sampel Bulan, membuka peluang baru untuk menguji hipotesis ini dengan data segar.
Selain itu, fenomena kehilangan materi akibat angin Matahari bukanlah sesuatu yang unik bagi Bumi. Merkurius diketahui memiliki ekor panjang mirip komet yang terbentuk dari partikel permukaannya sendiri. Bulan pun memiliki ekor ion natrium yang secara berkala dilintasi oleh Bumi, menunjukkan bahwa interaksi antar-benda langit di tata surya bersifat aktif dan berkelanjutan.
Pemahaman baru tentang bagaimana atmosfer Bumi berpindah ke Bulan juga membuka jalan untuk meninjau kembali sejarah planet lain. Mars, yang saat ini tidak memiliki medan magnet global, diyakini pernah memiliki magnetosfer pada masa awalnya. Proses serupa mungkin berperan dalam hilangnya atmosfer Mars dan penurunan kelayakhuniannya.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa Bulan secara perlahan telah menyerap fragmen atmosfer Bumi selama miliaran tahun melalui interaksi kompleks antara angin Matahari dan medan magnet Bumi. Proses ini terutama terjadi ketika Bulan melintasi ekor magnet Bumi, menjadikan magnetosfer bukan sekadar pelindung, tetapi juga jalur transportasi partikel atmosfer.
Temuan ini mengubah cara pandang terhadap hubungan Bumi–Bulan dan menempatkan regolit Bulan sebagai arsip penting sejarah atmosfer dan medan magnet Bumi. Dengan eksplorasi Bulan yang semakin intensif dalam waktu dekat, penelitian lanjutan berpotensi mengungkap detail baru tentang evolusi planet, baik di Bumi maupun di dunia lain dalam tata surya.
Diolah dari artikel:
“The moon has been secretly feasting on Earth’s atmosphere for billions of years” oleh Harry Baker
Note:
This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.