Sumber ilustrasi: Pixabay
12 April 2026 19.25 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [12.04.2026] Pengamatan satelit dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa permukaan Bumi pada malam hari semakin terang secara keseluruhan. Fenomena ini berkaitan dengan meningkatnya penggunaan pencahayaan buatan yang dipicu oleh pertumbuhan kota, perkembangan teknologi, serta perubahan pola konsumsi energi di berbagai negara. Meskipun demikian, peningkatan tersebut tidak terjadi secara seragam di seluruh wilayah dunia.
Data dari instrumen VIIRS Day/Night Band (DNB) yang dipasang pada satelit pengamat Bumi menunjukkan bahwa intensitas cahaya malam mengalami peningkatan rata-rata sekitar dua persen per tahun dalam periode 2014 hingga 2022. Namun, distribusi perubahan ini sangat bervariasi, dengan beberapa wilayah mengalami peningkatan tajam sementara wilayah lain justru mengalami penurunan.
Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Ruhr University Bochum menegaskan bahwa tren global peningkatan cahaya malam tidak dapat disimpulkan hanya dari rata-rata global, karena perubahan lokal menunjukkan pola yang jauh lebih kompleks.
Hasil analisis data satelit menunjukkan bahwa secara keseluruhan terjadi peningkatan emisi cahaya malam global sekitar 16 persen selama periode penelitian. Akan tetapi wilayah yang mengalami peningkatan cahaya mencatat kenaikan hingga 34 persen, sementara wilayah yang mengalami penurunan menyumbang pengurangan sekitar 18 persen, menunjukkan adanya ketidakseimbangan perubahan di berbagai wilayah.
Negara-negara dengan pertumbuhan urbanisasi cepat seperti China dan India mengalami peningkatan signifikan dalam intensitas cahaya malam akibat ekspansi kota dan aktivitas ekonomi. Sebaliknya, beberapa negara maju menunjukkan penurunan emisi cahaya yang berkaitan dengan penggunaan teknologi pencahayaan hemat energi seperti LED serta kebijakan pengurangan polusi cahaya.
Perubahan intensitas cahaya malam juga dipengaruhi oleh faktor non-ekonomi. Ukraina mengalami penurunan drastis akibat konflik bersenjata, sementara Prancis mencatat penurunan hingga 33 persen karena kebijakan penghematan energi dengan mematikan lampu jalan pada jam tertentu di malam hari.
Di Jerman, tingkat cahaya malam secara keseluruhan relatif stabil, meskipun terdapat variasi regional yang signifikan. Wilayah tertentu mengalami peningkatan emisi cahaya, sementara wilayah lain mengalami penurunan, sehingga perubahan tersebut saling menyeimbangkan pada skala nasional.
Secara keseluruhan di Eropa, data satelit menunjukkan adanya penurunan sekitar empat persen dalam emisi cahaya malam. Namun, hasil ini tidak selalu sejalan dengan persepsi manusia di permukaan, karena sensor satelit mendeteksi cahaya dengan karakteristik berbeda dari penglihatan manusia.
Penelitian ini juga memanfaatkan data resolusi tinggi yang memungkinkan pengamatan perubahan cahaya malam secara lebih detail dan cepat. Metode ini dianggap lebih akurat dibandingkan pendekatan sebelumnya yang hanya menggunakan rata-rata bulanan atau tahunan, karena mampu menangkap perubahan lokal yang lebih dinamis.
Analisis juga memperhitungkan sudut pandang satelit terhadap permukaan Bumi. Faktor ini penting karena area perkotaan dan permukiman dapat tampak berbeda tingkat kecerahannya tergantung sudut pengamatan, sehingga integrasi faktor ini meningkatkan akurasi interpretasi data.
Data yang digunakan berasal dari satelit seperti Suomi NPP, NOAA-20, dan NOAA-21 yang dilengkapi instrumen VIIRS DNB. Satelit ini memantau hampir seluruh permukaan Bumi setiap malam dan hanya merekam cahaya buatan, sementara fenomena alami seperti aurora dan kebakaran hutan disaring dari analisis.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya pengembangan satelit generasi baru di Eropa untuk pemantauan cahaya malam dengan resolusi lebih tinggi. Hal ini dianggap penting karena cahaya buatan merupakan salah satu konsumen energi terbesar di malam hari serta berkontribusi terhadap polusi cahaya yang berdampak pada ekosistem.
Bumi ditunjukkan mengalami peningkatan cahaya malam secara global, tetapi perubahan tersebut sangat tidak merata antara satu wilayah dengan wilayah lain. Urbanisasi, kebijakan energi, teknologi pencahayaan, serta konflik menjadi faktor utama yang membentuk pola terang dan gelap di berbagai belahan dunia, sehingga tren global tidak selalu mencerminkan kondisi lokal secara akurat.
Diolah dari artikel:
“The world is getting brighter at night but some places are going dark” oleh Ruhr-University Bochum. (njd)
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/04/260409101057.htm