Capung Bisa Melihat Warna di Luar Batas Manusia?

Sumber ilustrasi: Pixabay
11 April 2026 11.55 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [11.04.2026] Penelitian terbaru mengungkap bahwa kemampuan penglihatan capung melampaui batas persepsi warna manusia. Sementara manusia hanya dapat melihat spektrum cahaya dari biru hingga merah tertentu, capung diketahui mampu mendeteksi cahaya merah yang sangat dalam hingga mendekati wilayah inframerah. Temuan ini berasal dari penelitian Osaka Metropolitan University yang menunjukkan adanya kesamaan mengejutkan antara sistem penglihatan capung dan mamalia, termasuk manusia.

Sistem penglihatan manusia bergantung pada protein opsin di retina yang memungkinkan persepsi warna melalui tiga jenis utama: biru, hijau, dan merah. Kombinasi ketiganya membentuk penglihatan warna penuh. Penelitian menunjukkan bahwa capung memiliki variasi opsin khusus yang memungkinkan mereka menangkap panjang gelombang cahaya yang lebih panjang dari batas penglihatan manusia.

Penemuan ini juga mengarah pada konsep evolusi paralel, di mana spesies yang tidak berhubungan dekat dapat mengembangkan mekanisme biologis yang serupa secara independen. Dalam kasus ini, capung dan mamalia ternyata memiliki pendekatan molekuler yang mirip dalam mendeteksi cahaya merah.

Peneliti menemukan bahwa capung memiliki opsin visual yang sangat sensitif terhadap cahaya dengan panjang gelombang sekitar 720 nanometer, yang berada di luar spektrum merah yang dapat dilihat manusia. Protein ini termasuk salah satu visual pigment paling sensitif terhadap cahaya merah yang pernah ditemukan pada serangga.

Fungsi biologis kemampuan ini diduga berkaitan dengan kebutuhan reproduksi. Pengukuran reflektansi cahaya pada capung menunjukkan adanya perbedaan pola pantulan antara jantan dan betina pada spektrum merah hingga inframerah. Perbedaan ini memungkinkan individu capung untuk mengenali pasangan secara cepat saat terbang.

Temuan penting lainnya adalah bahwa mekanisme molekuler yang digunakan capung untuk menangkap cahaya merah ternyata identik dengan mekanisme pada mamalia. Kesamaan ini menunjukkan bahwa evolusi dapat menghasilkan solusi biologis yang sama meskipun terjadi pada garis keturunan yang sangat berbeda.

Peneliti juga mengidentifikasi satu titik penting dalam struktur protein opsin yang menentukan sensitivitas terhadap panjang gelombang cahaya. Dengan mengubah bagian tersebut, sensitivitas protein dapat digeser lebih jauh ke arah panjang gelombang yang lebih panjang.

Eksperimen laboratorium menunjukkan bahwa modifikasi tersebut berhasil menghasilkan opsin yang merespons cahaya inframerah dekat, dan sel yang mengandung protein ini dapat diaktifkan menggunakan cahaya tersebut. Hasil ini membuka peluang baru dalam pengembangan teknologi berbasis cahaya di bidang biomedis.

Bidang optogenetika menjadi salah satu area yang paling berpotensi terdampak. Teknologi ini menggunakan protein sensitif cahaya untuk mengontrol aktivitas sel dalam jaringan hidup. Karena cahaya inframerah dapat menembus jaringan tubuh lebih dalam dibanding cahaya tampak, opsin yang dimodifikasi ini dapat memungkinkan manipulasi sel di lokasi yang sebelumnya sulit dijangkau.

Potensi lain dari temuan ini mencakup pengembangan teknologi medis non-invasif yang lebih presisi. Dengan kemampuan mengontrol sel melalui cahaya yang lebih dalam penetrasinya, berbagai prosedur diagnosis dan terapi dapat dilakukan dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi.

Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa capung memiliki kemampuan visual yang melampaui manusia dengan mendeteksi cahaya merah sangat dalam hingga mendekati inframerah melalui mekanisme opsin yang mirip dengan mamalia. Selain menjelaskan fenomena evolusi paralel dalam sistem penglihatan, temuan ini juga membuka peluang besar bagi pengembangan teknologi medis berbasis cahaya, terutama dalam bidang optogenetika dan terapi non-invasif yang mampu menjangkau jaringan tubuh lebih dalam.

Diolah dari artikel:
“Dragonflies can see a color humans can’t and it could change medicine” oleh Osaka Metropolitan University. (njd)

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.sciencedaily.com/releases/2026/04/260409101059.htm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *