Sumber ilustrasi: freepik
21 Mei 2025 10.40 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [21.5.2025] Sebuah penelitian terbaru berhasil merekam jejak medan magnet Bumi selama 150.000 tahun terakhir melalui analisis inti batuan dan sedimen yang diambil dari Danau Chala, sebuah danau kawah yang terletak di perbatasan Tanzania dan Kenya. Penemuan ini tidak hanya mencatat fluktuasi medan magnet, tetapi juga menyimpan informasi penting tentang kondisi iklim masa lalu, khususnya saat manusia modern pertama kali bermigrasi keluar dari Afrika menuju Eurasia.
Penelitian yang dipublikasikan bulan April di jurnal Geochemistry, Geophysics, Geosystems ini menunjukkan bahwa inti sedimen dari Danau Chala mengandung data penting yang membantu merekonstruksi iklim di masa lalu. Informasi ini sangat relevan untuk memahami faktor-faktor lingkungan yang mungkin mendorong migrasi awal manusia ke luar Afrika menuju wilayah seperti Semenanjung Arab, Eropa, dan Asia.
Anita Di Chiara, paleomagnetis dari Institut Nasional Geofisika dan Vulkanologi Italia di Roma, mengungkapkan bahwa penelitian ini merupakan bagian dari upaya ilmiah global untuk memahami kondisi lingkungan yang menjadi pendorong migrasi manusia purba dan menyampaikan bahwa untuk menyusun ulang catatan iklim purba dari sedimen, para peneliti sangat membutuhkan data penanggalan yang akurat.
Dalam hal ini, variasi dalam medan magnet Bumi menjadi alat penting. Ketika batuan terbentuk, mereka menyimpan arah dan kekuatan medan magnet pada saat itu melalui kristal magnetik kecil. Selama ini, sebagian besar catatan medan magnet berasal dari wilayah kutub karena sinyalnya lebih kuat. Karena itu, menurut Di Chiara, mendapatkan catatan medan magnet dari wilayah ekuator seperti Danau Chala merupakan temuan yang langka dan penting.
Metode yang digunakan para ilmuwan termasuk membandingkan pola perubahan medan magnet dari Danau Chala dengan lapisan batuan dari wilayah lain yang sudah memiliki penanggalan pasti. Selain itu, lapisan abu vulkanik dari letusan supervulkan Toba di Indonesia 74.000 tahun lalu yang ditemukan dalam inti sedimen turut menjadi penanda waktu penting untuk kalibrasi data.
Danau Chala sendiri memiliki karakteristik unik yang membuatnya ideal untuk penelitian geologis jangka panjang. Danau ini tidak dialiri oleh sungai besar, melainkan hanya menerima limpasan air hujan dan air dari hutan sekitarnya. Hal ini membuat lapisan sedimen di dasarnya tidak terganggu oleh peristiwa ekstrem seperti banjir, sehingga tersusun secara konsisten dari musim ke musim.
Dalam rekaman 150.000 tahun tersebut, para peneliti menemukan enam magnetic excursions atau fluktuasi medan magnet yang bersifat sementara dan lokal. Salah satu dari anomali tersebut bahkan belum pernah ditemukan dalam catatan batuan lain. Di Chiara menjelaskan bahwa fenomena ini bisa saja disebabkan oleh sirkulasi tidak stabil di inti dalam Bumi atau interaksi antara inti dalam padat dan inti luar yang cair.
Fluktuasi ini tidak hanya penting untuk penanggalan sedimen, tetapi juga memberikan informasi mengenai dinamika dalam Bumi yang belum sepenuhnya dipahami. Hubungan antara pergeseran medan magnet dan kondisi iklim global menjadi salah satu fokus penting dalam penelitian ini.
Buah Pikiran
Penelitian ini merupakan langkah besar dalam menjembatani ilmu geologi dan antropologi. Dengan memahami dinamika medan magnet Bumi dan menggunakannya sebagai kerangka waktu, para ilmuwan mampu membuka kembali sejarah perubahan iklim yang mungkin memengaruhi perilaku dan migrasi manusia purba. Temuan dari Danau Chala menunjukkan bahwa proses geologis ternyata menyimpan catatan penting yang berkaitan erat dengan sejarah evolusi manusia.
Dengan adanya pendekatan interdisipliner yang digunakan dalam studi ini, kita mendapatkan contoh bagaimana sinergi antara ilmu kebumian dan ilmu kehidupan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang asal-usul dan penyebaran manusia. Dalam konteks perubahan iklim global saat ini, pemahaman mendalam terhadap sejarah iklim masa lalu menjadi semakin relevan, baik untuk ilmu pengetahuan maupun untuk perencanaan masa depan umat manusia. (NJD)
Sumber: Livescience