Sumber ilustrasi: Pixabay
24 Juli 2025 08.30 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [24.07.2025] China resmi memulai pembangunan bendungan tenaga air terbesar di dunia di wilayah Tibet timur, menandai proyek infrastruktur paling ambisius negara itu sejak Bendungan Tiga Ngarai. Proyek senilai sedikitnya $170 miliar ini diumumkan oleh Perdana Menteri Li Qiang, dan langsung memicu euforia di pasar modal domestik.
Terletak di wilayah hilir Sungai Yarlung Zangbo, proyek ini tidak hanya akan menjadi pusat pembangkit listrik tenaga air berskala masif, tetapi juga simbol dorongan baru China terhadap pertumbuhan ekonomi melalui investasi publik. Namun, di balik besarnya potensi energi dan keuntungan ekonomi, proyek ini menimbulkan kekhawatiran regional dan ekologis yang kian mencuat.
Bendungan baru tersebut terdiri dari lima stasiun pembangkit beruntun (cascade hydropower stations) yang mampu menghasilkan sekitar 300 miliar kilowatt-jam per tahun yang setara dengan seluruh konsumsi listrik Inggris selama satu tahun.
Berlokasi di area Sungai Yarlung Zangbo yang menurun sekitar 2.000 meter dalam jarak 50 km, proyek ini memanfaatkan kontur geografis ekstrem di kawasan Tibet untuk menghasilkan energi dalam jumlah luar biasa. Pemerintah China menyatakan bahwa proyek ini akan mendukung kebutuhan energi Tibet dan bagian lain negara tersebut, serta meminimalkan ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Meski demikian, kekhawatiran langsung muncul dari negara-negara tetangga seperti India dan Bangladesh, yang berada di hilir sungai. Kedua negara telah menyuarakan keprihatinan akan dampak proyek terhadap pasokan air, pertanian, serta keberlangsungan jutaan warga yang menggantungkan hidup pada aliran Sungai Brahmaputra yang merupakan nama sungai yang sama saat melintasi perbatasan ke India.
Bagi pasar modal, proyek ini dilihat sebagai langkah konkret stimulus ekonomi. Indeks Konstruksi dan Teknik CSI China melonjak hingga 4% ke level tertinggi dalam tujuh bulan. Beberapa perusahaan konstruksi besar seperti Power Construction Corporation of China dan Arcplus Group PLC langsung mencapai batas atas perdagangan harian mereka (naik 10%).
Saham perusahaan peralatan konstruksi seperti Hunan Wuxin Tunnel Intelligent Equipment Co dan Geokang Technologies melonjak 30%. Produsen semen Xizang Tianlu dan pembuat bahan peledak industri Tibet GaoZheng Explosive Co juga mencatatkan lonjakan maksimum. Menurut Huatai Securities, proyek ini akan mendorong permintaan besar untuk bahan bangunan dan alat berat selama dekade mendatang.
Dari sisi kebijakan fiskal, para analis menilai proyek ini sebagai bagian dari strategi peningkatan belanja negara. Citi memperkirakan bahwa proyek ini bisa menyumbang sekitar 120 miliar yuan ($16,7 miliar) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tahunan China jika konstruksi berjalan selama 10 tahun. Obligasi pemerintah ikut terdampak dengan penurunan harga kontrak berjangka 30 tahun, menandakan investor mengantisipasi peningkatan belanja publik.
Namun demikian, di luar keuntungan ekonomi, tantangan ekologis dan geopolitik tidak bisa diabaikan. Wilayah pembangunan berada di zona seismik aktif, yang meningkatkan risiko longsor atau kerusakan struktural. Selain itu, LSM lingkungan menegaskan bahwa proyek ini dapat menghancurkan secara permanen ekosistem Dataran Tinggi Tibet, yang merupakan salah satu kawasan paling kaya keanekaragaman hayatinya di dunia.
Pemerintah belum memberikan estimasi resmi terkait jumlah lapangan kerja yang akan tercipta. Sebagai perbandingan, pembangunan Bendungan Tiga Ngarai menyerap hampir satu juta pekerja, namun juga menggusur jumlah orang yang hampir setara. Belum jelas pula berapa banyak penduduk lokal yang akan terdampak atau direlokasi akibat proyek di Yarlung Zangbo ini.
Proyek bendungan di Yarlung Zangbo adalah simbol kekuatan finansial, teknologis, dan politik China dalam menghadapi perlambatan ekonomi. Dengan investasi besar, pemerintah berharap dapat menggairahkan industri domestik, menyediakan energi bersih, dan menunjukkan komitmen terhadap pembangunan jangka panjang.
Akan tetapi proyek ini juga menunjukkan bahwa adanya ambisi besar datang dengan tanggung jawab besar. Tanpa kajian lingkungan dan diplomasi regional yang transparan dan menyeluruh, proyek ini bisa menimbulkan krisis lintas batas yang membayangi keberhasilannya sendiri. India dan Bangladesh, sebagai negara hilir, layak mendapatkan jaminan bahwa hak air dan kelestarian lingkungan mereka tidak akan dikorbankan demi kepentingan ekonomi satu negara saja. Jika proyek ini berhasil dimana secara bersamaan dapat menjaga keseimbangan ekologis dan sosial, maka China memberikan suatu tolok ukur baru dalam rekayasa besar yang berkelanjutan di dunia. (NJD)
Diolah dari artikel:
“China embarks on world’s largest hydropower dam, capital markets cheer” oleh Farah Master dan Samuel Shen.