“CV”

Sumber ilustrasi: Freepik
26 Desember 2025 18.50 WIB – Akar
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Dalam suatu percakapan, muncul pertanyaan ringan, namun cukup menggelitik pikiran: apa itu “cv”? Pertanyaan ini meluncur begitu saja, lantaran berita tentang kesulitan mencari kerja telah makin intens bersliweran. Mulai dari berita media mainstream, media sosial, hingga curhatan personal. Salah satu soal pemicu pertanyaan adalah ketika ada yang mengatakan: mungkin “cv”nya kurang tebal sehingga tidak diterima bekerja. Ungkapan tersebut segera mendapatkan respon, bagi mereka yang baru saja “lulus kuliah” (atau “lulus sekolah”), apa yang hendak dituliskan pada lembaran “cv”, sehingga dapat mempertebal jumlah halamannya? Lantas: apakah ketebalan “cv” dengan sendirinya memberikan gambaran “nyata” tentang diri dari “dia” yang menuliskan “cv”? Bagaimana dengan kasus-kasus yang ternyata bahwa tidak semua yang termuat dalam “cv” mencerminkan kenyataan yang sebenarnya dan bahkan bisa saja sebaliknya?

Ulasan ini tentu tidak hendak masuk dalam kerumitan administatif dan formalitas yang menjadi basis adanya “cv”. Apa yang hendak ditelusuri, atau apa yang hendak menjadi bahan refleksi adalah keberadaan “cv” itu sendiri. Sebenarnya apa, dan apa sebenarnya yang hendak dikisahkan dengan “cv” tersebut? Berikut ini adalah catatannya:

Kendati “cv” (curriculum vitae), mungkin, pada awalnya adalah bagian dari kelengkapan administrasi, namun menyusunnya tentu bukan sekedar tindakan administrasi. Naskah menjadi dokumen administrasi, karena menjadi lampiran dari suatu surat tertentu – tidak jarang sebagai lampiran surat melamar pekerjaan. Atau, ketika seorang yang diundang menjadi narasumber, lazimnya diminta “cv” untuk dibacakan sebagai perkenalan. Dalam momen yang terakhir ini, mungkin dapat diangkat sebagai titik awal refleksi, yakni ketika menyaksikan momen “cv” dibacakan, sementara yang bersangkutan ada di sebelah yang membaca. Suatu adegan lazim, namun jika ditelaah lebih jauh, mungkin didalamnya terdapat pesan tersendiri.

Apa yang dimaksud? Yakni bahwa menyusun “cv” pada dasarnya adalah suatu tindakan naratif, bukan sekadar tindakan administratif. Format “cv” mengharuskan seseorang yang sedang menyusun, akan memilih, mengurutkan, dan memberi penekanan pada bagian-bagian tertentu dari hidupnya, sambil menyingkirkan bagian lain yang dianggap tidak relevan, tidak produktif, atau tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa institusi atau ke dalam maksud dari “tempat” yang hendak ditujunya. Dalam proses ini, hidup tidak ditampilkan (sepenuhnya) sebagaimana “dialami”, melainkan sebagaimana dapat diceritakan secara ringkas, koheren, dan dapat dinilai oleh pihak luar.

Narasi yang dibentuk dalam “cv” selalu bekerja secara retrospektif. Peristiwa-peristiwa masa lalu ditata seolah-olah sejak awal mengarah pada posisi atau peran yang sedang dituju sekarang. Kebetulan, keraguan, keterputusan, dan perubahan arah yang nyata dalam hidup disusun ulang agar tampak sebagai langkah-langkah logis dalam satu garis perkembangan. Dengan demikian, “cv” menciptakan ilusi kesinambungan yang sering kali tidak pernah dialami secara sadar oleh subyek itu sendiri.

Dalam arti ini, “cv” tidak merekam kehidupan, tetapi membingkainya. Secara sederhana dapat dikatakan: mengubah proses menjadi hasil, dan perubahan menjadi pencapaian. Apa yang sedang mengalami dipaksa menjadi pengalaman yang telah selesai dan dapat diklaim. Subyek yang masih hidup dan berkembang, direpresentasikan seolah-olah telah selesai, dapat diukur, dan dapat dibandingkan dengan subyek lain dalam format sama.

Logika “cv” juga mengandaikan bahwa hidup memiliki arah yang dapat diprediksi dan dinilai secara objektif. Ada asumsi implisit bahwa semakin panjang daftar pengalaman tertentu, semakin “baik” kualitas subyek tersebut. Asumsi ini menyingkirkan dimensi hidup yang tidak mudah dikonversi menjadi prestasi: perawatan, kegagalan, pencarian makna, kerja tak terlihat, dan proses pembelajaran yang tidak menghasilkan sertifikat atau jabatan.

Karena itu, “cv” bukan hanya alat presentasi diri, tetapi juga alat normalisasi. Format baku mendorong subyek untuk menyesuaikan cara dia memahami hidupnya sendiri dengan kategori yang disediakan dalam format penulisan “cv”. Hidup mulai dibaca dari luar ke dalam: bukan “apa yang sungguh dijalani”, melainkan “apa yang dapat saya tunjukkan agar diterima”. Di titik ini, narasi “cv” berpotensi menjauhkan seseorang dari pengalaman hidupnya sendiri.

Dengan sangat hati-hati hendak dikatakan bahwa potensi manipulasi muncul bukan terutama karena kebohongan eksplisit, melainkan karena tuntutan bentuk. Bahkan ketika semua yang ditulis benar secara faktual, kebenaran itu telah dipilih, dipangkas, dan disusun sedemikian rupa sehingga menghasilkan makna tertentu. “CV” memungkinkan seseorang tampil seolah-olah stabil, konsisten, dan selalu meningkat, meskipun hidupnya sebenarnya penuh ketegangan dan ketidakpastian.

Relasi kuasa hadir secara diam-diam dalam proses ini. Pihak yang membaca “cv” memegang otoritas untuk menilai, sementara penulis “cv” menyesuaikan narasinya agar sesuai dengan horizon penilaian tersebut. Apa yang dianggap bernilai ditentukan dari luar, dan subyek belajar untuk menginternalisasi nilai itu ke dalam cerita tentang dirinya sendiri. Dengan cara ini, “cv” berfungsi sebagai mekanisme penyelarasan diri dengan logika eksternal, yang seringkali institusional.

Di tingkat sosial, praktik “cv” memperkuat pandangan bahwa hidup adalah proyek individual yang harus terus-menerus dibuktikan melalui jejak formal. Kontribusi yang bersifat kolektif, relasional, atau kontekstual mudah terhapus karena tidak cocok dengan format narasi personal yang kompetitif. Hidup bersama direduksi menjadi akumulasi prestasi individual yang dapat dibandingkan satu sama lain.

Hal ini tidak berarti bahwa “cv” harus ditolak sepenuhnya. Mengapa? Karena tentu “cv” tidak dipungkiri memiliki fungsi praktis dalam sistem tertentu. Namun, masalah muncul ketika “cv” dianggap sebagai representasi sahih tentang manusia itu sendiri. Ketika narasi “cv” menggantikan pemahaman tentang subyek yang hidup, maka yang dinilai bukan lagi manusia, melainkan kepiawaian menyusun cerita yang sesuai dengan ekspektasi.

Pada akhirnya, menyadari bahwa “cv” adalah narasi memungkinkan jarak kritis terhadapnya. “CV” dapat dipahami sebagai alat, bukan cermin. Harus disadarai bahwa “cv” mampu mengatakan lebih banyak tentang apa yang ingin dilihat oleh sistem daripada tentang kenyataan hidup yang sedang dijalani oleh seseorang. Kesadaran ini penting agar manusia tidak sepenuhnya tereduksi menjadi cerita tentang dirinya sendiri demi dapat diterima oleh “system” atau “pihak” tertentu.

Bagaimana menurut anda? [desanomia – 261225 – dja]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *