Sumber ilustrasi: Pixabay
5 Agustus 2025 12.35 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [05.08.2025] Penelitian terbaru menunjukkan bahwa manusia memiliki gen yang mirip dengan gen yang digunakan oleh mamalia untuk berhibernasi. Gen-gen ini berperan dalam mengatur metabolisme selama masa hibernasi, dan para ilmuwan kini tengah mengeksplorasi kemungkinan pemanfaatannya untuk mengatasi berbagai kondisi medis. Meski manusia tidak bisa mengalami hibernasi secara alami, kemiripan genetik dengan hewan yang bisa melakukannya menimbulkan pertanyaan tentang potensi tersembunyi dalam tubuh manusia.
Penemuan ini membuka peluang baru dalam bidang genetika dan pengobatan, termasuk kemungkinan perlindungan otak dari kerusakan akibat aliran darah yang tiba-tiba serta pengelolaan resistensi insulin seperti yang terjadi pada penderita diabetes tipe 2. Studi ini juga memperkuat pandangan bahwa hibernasi bukan hanya proses biologis musiman, tetapi mungkin terkait dengan sistem genetik yang lebih luas dan bisa dimodifikasi secara ilmiah.
Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Science pada 31 Juli, tim peneliti dari Universitas Utah, yang dipimpin oleh ahli genetika manusia Christopher Gregg, mengidentifikasi sejumlah elemen pengatur (conserved noncoding cis elements atau CREs) yang berada di sekitar lokus genetik bernama FTO (fat mass and obesity-related locus). Lokus ini diketahui memainkan peran penting dalam metabolisme, berat badan, dan pengeluaran energi, baik pada hewan maupun manusia.
Melalui teknik penyuntingan gen CRISPR, para peneliti menonaktifkan lima CRE pada tikus laboratorium. Meskipun tikus tidak mengalami hibernasi, mereka mampu memasuki keadaan torpor, yaitu kondisi metabolisme rendah yang mirip hibernasi dalam skala singkat. Ini menjadikan tikus model ideal untuk menguji efek penghapusan gen-gen tersebut.
Hasilnya menunjukkan bahwa penghapusan CRE tertentu dapat mengubah berat badan, tingkat metabolisme, dan perilaku mencari makan tikus. Sebagai contoh, tikus betina dengan penghapusan elemen E1 mengalami kenaikan berat badan lebih besar ketika diberi makanan tinggi lemak dibandingkan tikus dengan DNA utuh. Penghapusan elemen lain, E3, memengaruhi perilaku pencarian makanan pada tikus jantan dan betina, terutama dalam cara mereka menelusuri arena untuk menemukan makanan tersembunyi.
CRE yang diteliti ditemukan memiliki kesamaan struktur genetik dengan manusia, dan varian di lokus FTO telah lama dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas. Dengan demikian, manipulasi terhadap elemen-elemen ini memberikan wawasan baru mengenai bagaimana tubuh dapat mengatur proses metabolisme secara genetik.
Para peneliti menyimpulkan bahwa perbedaan utama antara hewan yang mampu hibernasi dan manusia bukan terletak pada gen yang dimiliki, melainkan pada cara gen-gen tersebut diaktifkan dan dinonaktifkan dalam kondisi dan waktu tertentu. Temuan ini menunjukkan bahwa potensi biologis yang sama mungkin dimiliki oleh manusia, meski belum secara alami dimanfaatkan.
Akan tetapi, sejumlah peneliti dari luar studi menekankan bahwa torpor pada tikus berbeda dari hibernasi sejati. Torpor dipicu oleh puasa, sementara hibernasi melibatkan faktor hormonal, musim, dan jam biologis. Oleh karena itu, CRE yang ditemukan kemungkinan besar merupakan bagian dari perangkat metabolik tubuh untuk menghadapi kekurangan energi, tetapi belum tentu menjadi pengendali utama hibernasi.
Penggunaan tikus sebagai model juga memiliki keterbatasan. Manusia, misalnya, tidak dapat memasuki torpor hanya karena berpuasa, sehingga hasil studi belum dapat langsung diterapkan pada manusia. Meski demikian, penemuan ini dinilai sebagai arah baru yang menjanjikan dalam riset biologi hibernasi dan metabolisme.
Para peneliti merencanakan studi lanjutan untuk mengeksplorasi dampak penghapusan lebih dari satu CRE secara bersamaan dan ingin mengetahui lebih lanjut mengenai perbedaan efek antara tikus jantan dan betina. Rencana jangka panjang mencakup pengembangan obat-obatan yang dapat meniru efek gen hibernasi tanpa perlu membuat pasien benar-benar mengalami kondisi hibernasi.
Penelitian ini menyoroti kemungkinan bahwa gen yang terkait dengan hibernasi, meskipun tidak aktif secara alami pada manusia, dapat dimodifikasi untuk menghasilkan manfaat medis. Gen-gen ini, yang juga ditemukan pada manusia, berpotensi mengatur metabolisme, melindungi otak dari kerusakan, dan membantu mengatasi obesitas serta diabetes. Pemanfaatan teknologi genetik seperti CRISPR membuka jalan bagi eksperimen lebih lanjut untuk mengungkap fungsi tersembunyi dari gen-gen tersebut.
Meskipun masih dibutuhkan banyak penelitian tambahan dan konfirmasi dari model hewan lain yang tidak mampu mengalami torpor, temuan ini dianggap sebagai langkah penting menuju pemahaman lebih dalam mengenai kontrol genetik terhadap metabolisme dan perlindungan saraf. Jika berhasil diterjemahkan ke dalam pengobatan manusia, pendekatan ini bisa merevolusi cara kita menangani berbagai penyakit kronis dan degeneratif.
Diolah dari artikel:
“Humans may have untapped ‘superpowers’ from genes related to hibernation, scientists claim” oleh Christoph Schwaiger.