Harapan

sumber ilustrasi: unsplash

14 Apr 2025 20.40 WIB – Akar
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Apa itu harapan? Masing-masing kita mungkin punya pengertian atau definisi tersendiri. Barangkali baik, jika kita mulai dengan bertanya pada kamus Bahasa. Kamus mengatakan bahwa harapan adalah (1) sesuatu yang (dapat) diharapkan; (2) keinginan supaya menjadi kenyataan; (3) orang yang diharapkan atau dipercaya. Pengertian ini, nampaknya ingin mengatakan bahwa harapan adalah tentang “mendapatkan sesuatu”? Apakah pasti? Tentu demikian bagi yang berharap.

Satu-satunya misteri dalam nalar ini adalah “waktu”. Yakni kapan “sesuatu itu didapatkan”. Harapan dengan begitu, mirip dengan “menunggu”. Bisa pasif, bisa aktif. Bagi yang ingin segera mendapatkan apa yang diharapkan, maka harapan tersebut akan disongsong atau dilakukan tindakan untuk segera didapatkan apa yang diharapkan. Sederhananya, yang berharap akan melakukan upaya tertentu, atau jika telah melakukan, yang berharap akan meningkatkan usahanya. Jadi, harapan dalam pengertian ini dapat menjadi motivasi bagi yang punya harapan.

Soal yang ingin diangkat dalam refleksi ini, bukan hanya tentang waktu, melainkan tentang “tempat”. Yakni dimana harapan tersebut berada? Atau, dimana harapan tersebut “tinggal”? Apa “di sana”, atau “di sini”? Selama ini, tanpa disadari atau bahkan mungkin dipahami dengan penuh kesadaran, suatu harapan adalah tentang sesuatu “di sana”. Sesuatu yang dipandang atau diyakini, melampaui kenyataan “di sini”. Sesuatu yang dianggap akan memberikan lebih dan lebih. Sesuatu yang lebih bermakna, dan akan membuat subyek menjadi pribadi luar biasa, jika dibandingkan dengan pribadi-pribadi yang kini ada di sekitarnya.

Apa yang sesungguhnya yang sedang terjadi ketika keinginan melampui realitas “di sini”? Kita berpandangan bahwa harapan dimaksud, hanya mungkin dihadirkan atau hadir dalam kesadaran subyek, jika dan hanya jika, subyek mampu “menyingkirkan” realitas “di sini”, atau membuat realitas “di sini” tidak lagi berharga, terutama jika dibandingkan dengan apa yang ada di sana. Harapan, dalam kerangka ini adalah tentang pengabaian yang ada “di sini”.

Apabila nalar itu yang sepenuhnya bekerja dalam diri subyek, maka keadaan pra-harapan, dapat dikatakan sebagai keadaan dimana subyek mengeluarkan dirinya dari realitas “di sini”, dan dengan itu, subyek mengambil jarak dan sekaligus menangguhkan keterlibatannya dengan realitas “di sini”. Dapat dikatakan bahwa meskipun secara faktual subyek tinggal dalam realitas tersebut, namun diri subyek sesungguhnya telah tidak berada di”lokasi” tersebut. Subyek seperti tengah berada di “halte bus”, yang sedang menunggu bus yang dapat mengantarkannya ke lokasi, yang dianggapnya merupakan lokasi dimana harapan berada.

Artinya, sebelum harapan menghuni diri subyek, telah terjadi peristiwa dimana subyek mengeluarkan “kedisinian”, atau mungkin mendestruksi “kedisinian” dan kemudian mengeksklusinya. Ketika harapan telah bertahta pada diri subyek, maka kemampuan subyek untuk menegasi, merendahkan atau menghina realitas “di sini”, semakin meningkat. Hanya dengan menempatkan yang “di sini” sebagai masa lalu yang tidak layak untuk dipertahankan, maka yang “di sana” akan dapat mengisi ruang subyek dan menguasai subyek, dan dengan itu, harapan akan memotivasi subyek untuk mencapainya atau mewujudkannya.

Perbandingan

Mengapa subyek merasa perlu mengeluarkan realitas “kedisinian” dan kemudian mengambil jarak daripadanya? Apakah peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang sepenuhnya internal, ataukah ada faktor eksternal? Jika sepenuhnya internal, pertanyaannya: mengapa hal tersebut dimungkinkan? Bagaimana subyek mengalami keadaan sedemikian sehingga dia merasa bahwa realitas di sini, telah tidak lagi memadai, dan karena itu, dia merasa perlu mengeksklusinya dan mengambil jarak?

Bukankah hal tersebut hanya mungkin jika subyek memiliki rujukan lain, yang membuatnya punya kesempatan untuk “menoleh” tidak kepada yang “di sini”, melainkan sesuatu yang berada di luar. Disinilah kita menduga cara berpikir “perbandingan” atau “membandingkan”, telah bekerja dalam diri subyek. Dengan cara berpikir tersebut, subyek dimungkinkan melakukan perbandingan antara yang “di sini” dan yang di luar.

Masalah segera muncul. Peristiwa membandingkan bukan peristiwa netral. Setiap perbandingan membutuhkan standar ukuran. Sesuatu dikatakan lebih baik atau lebih buruk, mengacu kepada standar. Soalnya, siapa yang menentukan standar? Dan bagaimana standar diterima dan kemudian digunakan? Dalam kasus ketika subyek memiliki kesempatan untuk membandingkan antara kenyataan di sini dan kenyataan di sana, maka subyek akan mengatakan bahwa realitas “di sini”, lebih buruk atau lebih tidak menjanjikan, ketimbang realitas di sana?

Apakah pada diri subyek telah menerima (begitu saja) suatu standar, yang membuatnya tidak membanggakan realitas di sini, dan bahkan sebaliknya, sehingga subyek bersedia mengambil jarak atau bahkan meninggalkannya? Pertanyaan besarnya adalah darimana subyek menerima standar tersebut? Bagaimana standar tersebut masuk ke dalam kesadaran subyek? Melalui jalur apa? (eleborasi dengan seksama dan analitik).

Pertanyaan “melalui jalur apa standar itu masuk?” sangat penting. Sebagian kalangan mungkin akan mengatakan bahwa standar masuk ke dalam kesadaran subyek melalui representasi nilai. Representasi ini bisa berbentuk bahasa, cerita, gambar, simbol, bahkan mimpi kolektif. Beberapa contoh bisa diajukan: (1) Ketika sebuah tempat lain digambarkan sebagai tempat yang lebih maju; (2) Ketika pekerjaan tertentu dilekatkan dengan status sosial yang lebih tinggi; (3) Ketika gaya hidup tertentu dijadikan tolok ukur keberhasilan hidup. Ketiga contoh sederhana tersebut memperlihatkan kinerja dari representasi: yang “di sana” mulai mendapat citra positif, sementara yang “di sini” perlahan kehilangan keunggulannya.

Subyek, yang terus-menerus terpapar pada representasi ini, mulai membaca kenyataan sekitarnya melalui lensa pembanding tersebut. Standar tidak masuk sebagai paksaan, melainkan sebagai pengalaman yang terus-menerus dibentuk dan dikukuhkan—hingga akhirnya terasa sebagai “pemahaman diri sendiri”. Pemahaman akan makin kokoh, ketika subyek makin tidak mampu menemukan kebaikan, potensi, celah kemungkinan, kecukupan dan harapan pada realitas di sini. Subyek akan makin terdorong untuk benar-benar meninggalkan realitas “di sini”.

Pendidikan

Apa peran sesungguhnya dari dunia ilmu? Apakah secara nyata dunia ilmu mengembangkan “ilmu menetap”, ataukah dunia ilmu sebenarnya berfokus mengembangkan “ilmu pergi”? Beberapa aspek bisa ditinjau dengan lebih kritis. Tentu saja pembahasan tidak diarahkan untuk menegasi peran strategis dari dunia ilmu. Yang perlu menjadi bahan perhatian dari refleksi adalah apa yang benar-benar dikembangkan oleh dunia ilmu. Harapannya adalah ilmu menetap. Namun jika nyatanya adalah “ilmu pergi”, mengapa hal tersebut yang terjadi?

Jika mengacu pada pemikiran Ki Hadjar Dewantara, akan kita dapatkan pernyataan berikut: “Pengajaran nasional itulah pengajaran yang selaras dengan penghidupan bangsa (maatschappelijk) dan kehidupan bangsa (cultureel). Kalau pengajaran bagi anak-anak kita tidak berdasarkan kenasionalan, sudah tentu anak-anak kita tak akan mengetahui keperluan kita, lahir maupun batin; lagi pula tak mungkin anak-anak itu mempunyai rasa cinta bangsa dan makin lama makin terpisah dari bangsanya, sehingga kemudian barangkali menjadi lawan kita.” (Buku Karya K.H Dewantara Bagian  Pertama: Pendidikan – p.4).

Dari pikiran jernih dari Ki Hadjar Dewantara, kita mendapatkan pesan bahwa pendidikan seharusnya bersifat emansipatif dan membuat anak didik mampu menetap dan merawat negerinya sendiri. Pendidikan yang tidak mampu berjalan dalam garis itu, bukan saja memisahkan anak didik dari tanahairnya sendiri, melainkan juga dapat menjadi “lawan” dari kepentingan negeri. Jangan heran jika ada muncul kebijakan yang justru bersifat destruktif terhadap kepentingan bangsa. Pendidikan dalam kerangka ini, dapat dikatakan lebih menghasilkan ilmu pergi ketimbang ilmu menetap.

Beberapa aspek bisa diperdalam: Satu, pendidikan, sebagaimana umumnya dirancang hari ini, barangkali lebih menampakkan posisinya dalam rute mobilitas vertikal dan spasial. Seorang anak yang belajar dengan baik dijanjikan masa depan yang “lebih baik”—yang sering kali berarti: a. pekerjaan di tempat lain, b. penghasilan di atas rata-rata lokal, c. kehidupan di luar wilayah tempat ia dilahirkan, dan d. bahkan identitas yang terlepas dari latar sosial dan kultural asalnya. Dalam kerangka ini, pendidikan mengandung janji keberhasilan yang merujuk pada “ilmu pergi” – baik secara status maupun secara geografis. Maka, sedari awal, pendidikan menjadi semacam ritus perpisahan yang berlangsung perlahan: perpisahan dari desa, dari bahasa ibu, dari kerja manual, dari komunitas, dari tanah kelahiran.

Dua, “ilmu pergi” yang dimaksud, bukan sekadar kemampuan untuk berpindah, tetapi juga terkait dengan cara berpikir yang menjadikan tempat asal sebagai “serba kekurangan”. Pendidikan mengajarkan untuk meninggalkan, karena yang “di sini” tidak cukup. Maka desa, kampung, atau lingkungan lokal hanya menjadi latar belakang nostalgia, bukan ruang masa depan. Nilainya hanya dikenang, bukan dihidupi. Dalam lagu Desaku: “ … selalu kurindukan, Desaku yang permai …”

Dalam batas tertentu, dapat dikatakan bahwa ilmu yang dikembangkan adalah ilmu yang tidak bertanya tentang bagaimana “hidup dengan”, tetapi bagaimana meninggalkan dan melampaui. Maka yang dipelajari adalah: bagaimana bersaing, bagaimana beradaptasi di tempat asing, bagaimana menyesuaikan diri dengan standar global. Sementara kebijaksanaan untuk bertahan, merawat, dan membangun dari dalam—nyaris tidak mendapat tempat.

Tiga, sebaliknya, ilmu menetap adalah pengetahuan yang bertumpu pada penghormatan terhadap tempat, pada penghayatan terhadap ritme hidup yang lambat namun dalam, pada kemampuan untuk hadir secara penuh dalam lingkungan yang sedang dijalani. Bukan ilmu yang menolak perubahan, tetapi menolak anggapan bahwa perubahan hanya bisa terjadi melalui perpindahan.

Ilmu menetap adalah kemampuan untuk membaca yang dekat sebagai sumber makna, untuk melihat bahwa tanah tempat kita berpijak memiliki sejarah, daya tumbuh, dan kemungkinan masa depan yang tak kalah bernilai. Tetapi pendidikan konvensional dengan logika keunggulan dan percepatannya, tidak menyukai yang menetap—karena yang menetap dianggap stagnan, malas, atau kalah dalam kompetisi.

Apa yang terasa kurang mendapatkan perhatian untuk menjadi bahan pembelajaran utama, antara lain dapat disebutkan: (1) bagaimana merawat tanah dan air; (2) bagaimana membangun relasi sosial yang berkeadilan; (3) bagaimana menghormati keterbatasan; (4) bagaimana mengenali tanda-tanda alam; (5) bagaimana hidup tidak dengan ambisi menguasai, tapi dengan komitmen menjaga. Kesemuanya itulah yang ingin dikatakan sebagai ilmu menetap: ilmu untuk hidup dalam dunia sebagaimana adanya, bukan ilmu untuk terus melampaui dunia. Karena tidak menjadi arus utama, maka pengetahuan tersebut bertahan dalam bentuk warisan diam-diam—dan lambat laun akan dilupakan.

Meskipun mungkin akan dituduh terlalu berlebihan, namun secara terbatas, dengan menggunakan kerangka pikiran ini, dikatakan bahwa pendidikan kekinian lebih mengembangkan ilmu yang justru melatih anak-anak untuk menjadi asing terhadap tempatnya sendiri, untuk menilai tanah kelahirannya dengan ukuran dari tempat lain, untuk melihat orangtuanya sebagai ketinggalan zaman, dan untuk membayangkan hidup bernilai hanya jika berada “di sana”.

Menetap

Dari kesemuanya itu, kita mungkin telah mendapatkan kejelasan mengapa harapan selalu tentang di sana dan bukan tentang di sini atau masa depan dalam realitas sosio-ekologi setempat. Atau, makin tergambar jelas mengapa desa tidak menjadi hari depan anak-anak desa sendiri, dan hari depannya adalah di luar desa. Keadaan yang demikian itu, hendak kita sebut sebagai keadaan dimana harapan telah kehilangan akar. Harapan tidak berada dalam realitas sosio-ekologi setempat. Beberapa pengertian berikut dapat menjadi titik krusial yang memungkinkan refleksi yang lebih mendalam, terutama jika dikaitkan dengan tantangan perubahan iklim dan kehidupan yang cenderung mengeksklusi ketimbang memberi tempat terhormat bagi manusia dan kemanusiaan.

Pertama, jika dipahami sebagai arah menuju masa depan: kita bergerak ke sana, ke sesuatu yang belum ada, belum jadi, belum sempurna, maka dapat dikatakan bahwa harapan merupakan pelarian dari “yang ada”, atau pengingkaran terhadap kenyataan. Sebaliknya, jika harapan berumah – tidak menjauh, melainkan menetap. Tumbuh dari realitas sosio-ekologi setempat – tidak lahir dari ketidakpuasan abstrak terhadap kekinian, melainkan dari pergulatan konkret dengan dunia sebagaimana adanya: dengan tanah yang retak atau subur, dengan hujan yang terlambat atau datang terlalu deras, dengan ladang yang memberi atau gagal. Harapan yang berumah adalah harapan yang mengerti cuaca, mengerti waktu tanam, mengerti makna berkumpul dan berbagi dalam keterbatasan. Desa bukan sekadar latar, tetapi tubuh dan jiwa harapan itu sendiri.

Kedua, dalam realitas desa, manusia tidak berdiri sendiri, tetapi bagian dari anyaman relasi: dengan tanah, dengan air, dengan binatang, dengan leluhur, dengan tetangga. Desa bukan tentang individu yang bebas mencipta masa depan tanpa batas, melainkan tentang hidup dalam jaringan yang saling menahan dan menopang. Harapan yang tumbuh tahu batas karena mengalami dan mengerti relasi. Karenanya, tentu tidak akan merusak – tidak membakar hutan demi masa depan yang “lebih baik”. Tidak menambang gunung demi mimpi kesejahteraan. Sangat menyadari bahwa merusak satu simpul, berarti merobek seluruh anyaman kehidupan.

Harapan dalam konteks ini adalah praktik merawat: bukan demi lompatan besar, tetapi demi kelangsungan hidup bersama. Harapan tidak selalu berupa rencana besar, tetapi keputusan untuk tetap tinggal, tetap menanam, tetap menyapa tetangga yang sama setiap pagi.

Ketiga, logika konvensional, menanamkan gagasan bahwa harapan adalah tentang menjadi lebih, mendapatkan lebih, melompat lebih jauh. Namun logika desa mengenal cukup: tidak sebagai kekurangan, tetapi sebagai ukuran yang bersumber dari kebijaksanaan hidup.

Maka harapan yang berumah dalam desa adalah harapan yang mengenal cukup. Harapan ini tidak didorong oleh ketakutan akan ketinggalan, tetapi oleh keyakinan bahwa hidup dapat dijalani bersama dengan kelestarian, kebersamaan, dan keberlanjutan. Harapan ini bukan ambisi, tetapi kesetiaan: kepada tanah, kepada musim, kepada kehidupan itu sendiri.

Dengan demikian desa bukan sekadar lokasi geografis, tetapi ruang ontologis: tempat makna, relasi, dan kehidupan berakar. Maka harapan yang berumah dalam desa bukan hanya harapan yang “berbasis lokal”, tetapi harapan yang mengakui bahwa dunia ini adalah rumah, bukan objek eksploitasi. Harapan tidak bisa hidup dalam ilusi kemajuan tanpa arah. Harapan hanya bisa hidup bila memiliki rumah: tempat ia dipelihara, dibatasi, dan ditumbuhkan secara berkelanjutan. Jadi, harapan yang tidak berakar dalam realitas sosio-ekologi setempat—yakni desa—adalah harapan yang kehilangan arah dan tubuhnya. Sebaliknya, harapan yang berumah dalam desa adalah harapan yang tahu bagaimana hidup ditopang: oleh tanah yang digarap, oleh komunitas yang berbagi, oleh sungai yang mengalir, dan oleh waktu yang tidak terburu-buru. Bukan pelarian dari dunia, tetapi keterlibatan penuh dalam dunia yang sedang berlangsung. [Desanomia – 14.4.25 – TM]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *