Hewan Mana yang Juga Tertipu Ilusi Optik? (Bagian 2)

Sumber ilustrasi: Freepik

26 November 2025 09.35 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Santacà menilai bahwa hewan memanfaatkan kecenderungan sistem visual ini untuk keunggulan adaptif. Mereka dapat terlihat lebih besar di mata lawan atau lebih kecil di mata predator, tergantung pada situasi yang menguntungkan. Dengan kata lain, dalam dunia alami, persepsi lebih penting daripada kenyataan visual yang sebenarnya.

Ilusi juga tidak selalu pasif; beberapa hewan aktif menciptakannya. Burung jantan dari spesies great bowerbird, misalnya, menyusun batu kerikil dari ukuran kecil hingga besar di sekitar area kawin untuk menciptakan efek perspektif paksa. Bagi betina, trik ini membuat sarang tampak lebih pendek dan jantan terlihat lebih besar, meningkatkan peluang kawin bagi pembuatnya.

Fenomena ilusi juga ditemukan pada hewan dengan sistem saraf yang jauh berbeda dari manusia. Eksperimen pada gurita menunjukkan bahwa mereka dapat tertipu oleh versi “ilusi tangan karet”. Saat peneliti menyentuh salah satu lengan gurita yang disembunyikan sambil menyentuh lengan palsu yang terlihat, gurita bereaksi seolah lengan palsu itu miliknya. Ketika lengan tiruan dijepit, gurita berubah warna atau menarik diri, menunjukkan bahwa otaknya mengaitkan sensasi sentuhan dengan bagian tubuh yang salah. Penelitian serupa pada tikus menghasilkan reaksi yang sama, menandakan bahwa kemampuan untuk tertipu oleh ilusi mungkin berkembang secara independen di berbagai cabang kehidupan.

(Sumber: Freepik)

Di alam liar, kamuflase adalah bentuk ilusi yang paling umum. Hewan dengan pola warna disruptif menciptakan batas palsu yang membingungkan predator, sementara countershading—warna gelap di atas dan terang di bawah—membantu hewan menyatu dengan lingkungan. Pola ini ditemukan pada ikan, reptil, dan mamalia karena cahaya alami datang dari atas, menjadikan bagian bawah tubuh yang terang sulit terlihat dari bawah.

Penelitian pada 2013 menunjukkan bahwa bagian punggung yang lebih gelap juga membantu hewan berbaur dengan lingkungan gelap di dasar laut atau tanah. Menurut Kelley, penyebaran luas countershading menandakan bahwa strategi ini merupakan solusi alami terhadap tantangan deteksi cahaya di alam terbuka.

Selain itu, lingkungan juga dapat mengubah persepsi warna dan kecerahan. Sebuah area abu-abu dapat tampak lebih gelap jika dikelilingi latar terang, fenomena yang dikenal sebagai kontras kecerahan simultan. Efek serupa terjadi pada persepsi warna dan telah diamati pada serangga, ikan, dan burung. Ilusi semacam ini membantu hewan tampil lebih mencolok di mata pasangan atau lebih samar di mata predator, tergantung pada tujuan biologisnya.

Fenomena ilusi optik di dunia hewan menunjukkan bahwa persepsi bukanlah refleksi sempurna dari kenyataan, melainkan hasil dari strategi adaptif yang berkembang demi kelangsungan hidup. Dari ikan guppy yang salah menilai jumlah makanan hingga kepiting biola yang menipu calon pasangan dengan konteks sosial, semua contoh ini menunjukkan bahwa otak makhluk hidup memproses dunia dengan cara yang efisien, bukan selalu akurat.

Ilusi, baik yang terjadi secara tidak sengaja maupun sengaja diciptakan, menjadi bukti bahwa evolusi tidak hanya membentuk tubuh, tetapi juga persepsi. Dalam ruang antara realitas dan cara makhluk melihatnya, evolusi menemukan tempat terbaik untuk berinovasi, menjadikan ilusi optik bukan sekadar fenomena visual, melainkan kisah panjang tentang kreativitas alam dalam mempertahankan kehidupan.

Diolah dari artikel:
“Which Animals Are Tricked by Optical Illusions?” oleh Kit Yates.

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.livescience.com/animals/which-animals-are-tricked-by-optical-illusions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *