Sumber ilustrasi: Unsplash
17 Desember 2025 09.15 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [17.12.2025] Hutan hujan Amazon dikenal sebagai salah satu ekosistem paling penting di Bumi, berperan besar dalam menyimpan karbon, mengatur iklim global, dan menopang keanekaragaman hayati. Selama ribuan tahun, kawasan ini beradaptasi dengan iklim tropis yang relatif stabil, ditandai oleh curah hujan tinggi dan periode kering yang singkat. Kondisi tersebut memungkinkan pepohonan tumbuh lebat dan berfungsi sebagai penyerap karbon dalam jumlah besar.
Namun, perubahan iklim global mulai menggeser keseimbangan ini. Dalam beberapa dekade terakhir, Amazon semakin sering mengalami gelombang panas dan kekeringan yang lebih panjang dari biasanya. Fenomena ini memunculkan kekhawatiran bahwa sistem iklim Amazon sedang bergerak menuju kondisi baru yang jauh lebih ekstrem dibandingkan iklim tropis modern.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa Amazon berpotensi memasuki rezim iklim yang disebut “hipertropis”, sebuah kondisi panas dan kering yang belum pernah terjadi di Bumi selama setidaknya 10 juta tahun. Peralihan ini diperkirakan akan membawa konsekuensi serius bagi kelangsungan hidup pepohonan dan stabilitas ekosistem hutan hujan secara keseluruhan.
Iklim hipertropis diperkirakan pernah ada pada periode Eosen hingga Miosen, sekitar 40 juta hingga 10 juta tahun lalu, ketika suhu rata-rata global jauh lebih tinggi dibandingkan saat ini. Pada masa tersebut, suhu global dapat mencapai sekitar 28 derajat Celsius, jauh melampaui rata-rata modern. Bukti geologis menunjukkan bahwa hutan di wilayah khatulistiwa saat itu memiliki komposisi vegetasi yang berbeda, dengan lebih sedikit pohon hijau abadi dan mangrove.
Saat ini, Amazon hanya mengalami kondisi kekeringan panas selama beberapa hari atau minggu setiap tahun. Namun, pemanasan global telah memperpanjang musim kering yang biasanya berlangsung dari Juli hingga September. Selain itu, jumlah hari dengan suhu di atas normal meningkat secara signifikan, menciptakan tekanan tambahan bagi vegetasi hutan.
Untuk memahami dampak perubahan ini, para peneliti menganalisis data iklim selama 30 tahun dari kawasan hutan di utara Manaus, Brasil. Data tersebut mencakup suhu, kelembapan udara, kelembapan tanah, dan intensitas cahaya matahari. Penelitian ini juga memanfaatkan sensor khusus yang dipasang pada batang pohon untuk mengukur aliran air dan getah, sehingga respons fisiologis pepohonan terhadap kekeringan dapat diamati secara langsung.
Hasil analisis menunjukkan bahwa selama kekeringan panas, pepohonan mengalami kesulitan serius dalam memperoleh air dari tanah. Peningkatan penguapan menyebabkan kelembapan tanah menurun drastis. Sebagai mekanisme perlindungan, pepohonan menutup stomata, yaitu pori-pori daun yang mengatur pertukaran air dan gas dengan atmosfer. Langkah ini membantu mengurangi kehilangan air, tetapi secara bersamaan menghentikan penyerapan karbon dioksida yang dibutuhkan untuk fotosintesis.
Ketika penyerapan karbon dioksida terhenti, pertumbuhan dan perbaikan jaringan tanaman ikut terganggu. Dalam kondisi kekeringan ekstrem, sejumlah pepohonan mati akibat kelaparan karbon. Selain itu, penurunan kelembapan tanah hingga di bawah ambang 33 persen memicu terbentuknya gelembung udara di dalam jaringan xilem, saluran utama pengangkut air pada tanaman. Gelembung ini menghambat sirkulasi cairan, mirip dengan penyumbatan pada pembuluh darah, dan dapat menyebabkan kegagalan fungsi internal pohon.
Ambang batas kelembapan tanah yang memicu kerusakan fatal ini ternyata konsisten, bahkan ketika dibandingkan antara dua tahun El Niño yang berbeda, yaitu 2015 dan 2023, serta dengan lokasi penelitian lain di Amazon. Konsistensi ini menunjukkan bahwa batas toleransi fisiologis pepohonan Amazon terhadap kekeringan cukup universal.
Saat ini, tingkat kematian tahunan pohon di Amazon sedikit di atas 1 persen. Namun demikian, proyeksi menunjukkan angka ini dapat meningkat menjadi sekitar 1,55 persen pada tahun 2100. Meskipun tampak kecil, peningkatan tersebut berpotensi menghilangkan jutaan pohon di seluruh bentang hutan Amazon, sehingga melemahkan fungsi ekosistem secara keseluruhan.
Penelitian juga menemukan bahwa pohon yang tumbuh cepat lebih rentan terhadap kekeringan panas dibandingkan pohon yang tumbuh lambat. Pertumbuhan cepat membutuhkan pasokan air dan karbon dioksida yang besar, sehingga spesies ini lebih mudah terdampak saat sumber daya tersebut terbatas. Sebaliknya, pohon yang tumbuh lambat, seperti ipê kuning dan Shihuahuaco, menunjukkan ketahanan yang lebih tinggi terhadap stres kekeringan, meskipun kemampuan adaptasi jangka panjang masih bergantung pada laju perubahan iklim.
Implikasi temuan ini tidak hanya terbatas pada Amazon. Hutan hujan tropis di wilayah lain, seperti Afrika Barat dan Asia Tenggara, diperkirakan menghadapi tekanan iklim serupa dan berpotensi bergerak menuju kondisi hipertropis. Perubahan ini dapat mengganggu siklus karbon global, mengingat hutan hujan merupakan salah satu penyerap karbon terbesar di planet ini.
Penelitian ini menunjukkan bahwa hutan hujan Amazon berada di ambang transisi menuju iklim hipertropis yang lebih panas dan lebih kering dibandingkan kondisi tropis saat ini. Perubahan tersebut meningkatkan frekuensi dan intensitas kekeringan, melemahkan kemampuan pepohonan untuk bertahan hidup, serta meningkatkan risiko kematian massal vegetasi dalam beberapa dekade mendatang.
Jika emisi gas rumah kaca terus meningkat tanpa pengendalian berarti, tekanan iklim ini berpotensi mengubah Amazon dari penyerap karbon menjadi sumber emisi karbon. Masa depan hutan hujan terbesar di dunia sangat bergantung pada keputusan manusia saat ini dalam membatasi pemanasan global dan menjaga stabilitas iklim Bumi.
Diolah dari artikel:
“Amazon rainforest is transitioning to a ‘hypertropical’ climate — and trees won’t survive that for long” oleh Sascha Pare.
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.