Sumber ilustrasi: Pixabay
4 Februari 2026 09.10 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [04.02.2026] Wilayah Afrika Timur dikenal sebagai salah satu kawasan paling aktif secara geologis di dunia karena berada di Zona Retakan Afrika Timur. Kawasan ini perlahan meregang akibat pergerakan lempeng tektonik dan diperkirakan suatu hari akan terbelah menjadi dua benua terpisah. Selama ini, proses tersebut dipahami terutama sebagai fenomena geologi jangka panjang yang dipicu oleh dinamika di dalam bumi.
Akan tetapi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa perubahan iklim juga memainkan peran penting dalam mempercepat proses tersebut. Dalam kurun waktu sekitar 5.000 tahun terakhir, Afrika Timur mengalami perubahan iklim besar dari kondisi lembap menuju iklim yang jauh lebih kering. Perubahan ini tidak hanya berdampak pada lingkungan dan ekosistem, tetapi juga pada struktur geologi di bawah permukaan bumi.
Penurunan volume air di danau-danau besar Afrika Timur ternyata berkaitan dengan meningkatnya aktivitas patahan. Temuan ini menambah pemahaman baru tentang hubungan timbal balik antara sistem iklim dan tektonik lempeng, yang sebelumnya sering dianggap berjalan satu arah.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports meneliti pergerakan patahan di sekitar Danau Turkana, Kenya. Danau ini merupakan salah satu danau besar dan dalam yang terbentuk akibat proses peretakan benua Afrika. Saat ini, Danau Turkana memiliki panjang sekitar 250 kilometer dan kedalaman maksimum sekitar 120 meter. Namun deminikian, ribuan tahun lalu, permukaan air danau ini jauh lebih tinggi.
Lebih dari 5.000 tahun yang lalu, Danau Turkana berada pada masa Periode Lembap Afrika, ketika curah hujan di sebagian besar Afrika jauh lebih tinggi dibandingkan sekarang. Pada periode tersebut, permukaan air danau diperkirakan mencapai kedalaman hingga 150 meter lebih tinggi dari kondisi saat ini. Sejak berakhirnya periode tersebut, iklim kering mulai mendominasi Afrika Timur.
Para peneliti menganalisis sedimen dasar danau untuk merekonstruksi perubahan ketinggian air dan aliran sedimen purba. Dalam sedimen tersebut ditemukan banyak patahan kecil serta jejak aktivitas gempa bumi masa lalu. Bukti ini menunjukkan bahwa sistem patahan di wilayah tersebut telah aktif sejak lama, namun tingkat aktivitasnya berubah seiring waktu.
Hasil analisis menunjukkan bahwa setelah iklim berubah menjadi lebih kering dan volume air danau menurun, patahan-patahan di sekitar Danau Turkana mulai bergerak lebih cepat. Rata-rata percepatan tambahan pergerakan patahan tercatat sekitar 0,17 milimeter per tahun. Angka ini tampak kecil, tetapi signifikan dalam skala geologi.
Secara umum, benua Afrika saat ini terbelah dengan kecepatan sekitar 6,35 milimeter per tahun. Percepatan lokal akibat perubahan iklim ini menunjukkan bahwa faktor permukaan bumi, seperti air, dapat memengaruhi dinamika jauh di dalam kerak bumi. Air dalam jumlah besar memberikan tekanan pada kerak, dan ketika tekanan tersebut berkurang, kerak menjadi lebih bebas untuk bergerak.
Simulasi komputer yang dilakukan dalam penelitian ini mengungkap dua mekanisme utama di balik percepatan tersebut. Mekanisme pertama berkaitan langsung dengan berkurangnya beban air di permukaan. Ketika danau-danau menyusut, tekanan pada kerak bumi berkurang, sehingga patahan dapat bergerak lebih leluasa.
Mekanisme kedua bersifat lebih kompleks dan melibatkan aktivitas vulkanik. Di wilayah selatan Danau Turkana terdapat sebuah gunung api dengan dapur magma yang masih aktif. Berkurangnya tekanan air setelah berakhirnya Periode Lembap Afrika menyebabkan dekompresi mantel di bawah gunung api tersebut, sehingga meningkatkan proses peleburan batuan.
Lelehan magma yang meningkat kemudian mengisi dapur magma dan menyebabkan pengembangannya. Proses ini memicu peningkatan tekanan di sekitar patahan-patahan terdekat, yang pada akhirnya mendorong aktivitas tektonik dan meningkatkan potensi gempa bumi di wilayah tersebut.
Temuan ini memperkuat gagasan bahwa hubungan antara iklim dan tektonik bersifat dua arah. Selama ini, perubahan bentang alam akibat aktivitas geologi sering dianggap sebagai penyebab perubahan iklim. Penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan iklim juga dapat menjadi pemicu perubahan geologi yang signifikan.
Penelitian di Danau Turkana menunjukkan bahwa pengeringan iklim Afrika Timur selama ribuan tahun terakhir berkontribusi pada percepatan pergerakan patahan di Zona Retakan Afrika Timur. Penurunan volume air danau mengurangi tekanan pada kerak bumi serta memicu aktivitas magmatik, yang bersama-sama mempercepat proses pemisahan benua Afrika.
Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan bahwa iklim bukan hanya faktor lingkungan di permukaan, tetapi juga komponen penting dalam dinamika internal bumi. Pemahaman tentang keterkaitan antara perubahan iklim dan tektonik lempeng memberikan perspektif baru dalam mempelajari evolusi benua serta potensi risiko geologis di masa depan.
Diolah dari artikel:
“A drying climate is making East Africa pull apart faster” oleh Stephanie Pappas.
Note:
This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.livescience.com/planet-earth/a-drying-climate-is-making-east-africa-pull-apart-faster