Sumber ilustrasi: Freepik
27 Januari 2026 09.25 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [27.01.2026] Pengganti gula buatan telah dikembangkan untuk membuat makanan dan minuman manis lebih sehat, namun beberapa pemanis nol kalori populer saat ini menimbulkan kekhawatiran baru terkait kesehatan. Kini, sebuah alternatif alami sedang muncul yang berpotensi diproduksi dalam skala besar menggunakan enzim dari jamur lendir.
Gula alami ini dikenal sebagai tagatose, yang memiliki rasa manis sekitar 92% dari sukrosa (gula meja) tetapi hanya mengandung sepertiga kalori. Tagatose tidak meningkatkan kadar insulin seperti sukrosa atau pemanis buatan berkadar tinggi, sehingga menjadikannya opsi menarik bagi mereka yang memiliki diabetes atau masalah glukosa darah.
Peneliti di Universitas Tufts bekerja sama dengan perusahaan bioteknologi Manus Bio (AS) dan Kcat Enzymatic (India) berhasil melakukan studi bukti-prinsip yang menunjukkan bahwa tagatose dapat diproduksi secara berkelanjutan dan efisien. Tagatose adalah pemanis alami yang jarang ditemukan, hanya terdapat dalam jumlah kecil di beberapa produk susu dan buah, dan menawarkan alternatif lebih sehat dibanding sukrosa maupun pemanis buatan yang dapat memicu lonjakan insulin.
Salah satu alasan tagatose tidak meningkatkan insulin secara signifikan adalah karena sebagian besar tagatose difermentasi di usus besar, sehingga hanya sebagian kecil yang diserap ke dalam aliran darah melalui usus kecil. Di dalam usus, tagatose dimetabolisme mirip dengan fruktosa pada buah, sehingga individu dengan intoleransi fruktosa disarankan berhati-hati. Namun, tagatose umumnya diakui aman oleh FDA dan WHO.
Selain itu, tagatose dianggap “ramah gigi” dan memiliki potensi efek prebiotik bagi mikrobioma mulut. Tidak seperti sukrosa yang memberi makan bakteri tertentu penyebab kerusakan gigi, penelitian awal menunjukkan tagatose membatasi pertumbuhan mikroba oral berbahaya. Tagatose juga dapat digunakan dalam proses pemanggangan, berbeda dengan banyak pemanis berkadar tinggi lainnya.
Hingga kini, produksi tagatose masih terbatas karena metode yang ada sebelumnya tidak efisien dan mahal. Tim peneliti Tufts mengembangkan cara baru dengan merekayasa bakteri Escherichia coli sebagai “pabrik kecil” yang dilengkapi enzim tepat untuk mengubah glukosa menjadi tagatose. Enzim baru yang ditemukan dari jamur lendir, galactose-1-phosphate-selective phosphatase (Gal1P), digunakan untuk mengubah glukosa menjadi galaktosa, yang kemudian dikonversi menjadi tagatose oleh enzim kedua.
Dengan pendekatan ini, hasil produksi tagatose dapat mencapai hingga 95%, jauh lebih tinggi dibandingkan kisaran 40–77% yang biasanya tercapai. Inovasi ini membalik jalur metabolisme alami galaktosa menjadi glukosa, sehingga memungkinkan produksi galaktosa dari glukosa yang diberikan sebagai bahan baku, membuka peluang untuk sintesis tagatose dan gula langka lainnya.
Penelitian ini menunjukkan bahwa tagatose adalah pemanis alami yang manis, rendah kalori, dan tidak memicu lonjakan insulin, sehingga berpotensi menjadi alternatif yang aman bagi penderita diabetes dan mereka yang ingin mengontrol gula darah. Selain itu, tagatose memiliki manfaat tambahan bagi kesehatan mulut dan dapat digunakan dalam pemanggangan, memperluas aplikasi kulinernya.
Inovasi produksi menggunakan enzim dari jamur lendir dalam bakteri E. coli meningkatkan efisiensi sintesis tagatose secara signifikan, membuka jalan bagi produksi gula langka dalam skala besar. Penelitian ini memberikan dasar yang menjanjikan untuk pengembangan pasar tagatose, yang diperkirakan bisa mencapai nilai sekitar US$250 juta pada 2032.
Diolah dari artikel:
“Scientists Found a Sugar That’s Sweet, Low-Calorie, And Doesn’t Spike Insulin” oleh Carly Cassella.
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.