Sumber ilustrasi: unsplash
1 Juni 2025 11.10 WIB – Akar
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Siapa yang tidak mengenal jajan atau jajanan pasar? Jajanan pasar adalah aneka makanan ringan tradisional yang umumnya dibuat secara rumahan dan diperjualbelikan di pasar-pasar rakyat, terutama pasar tradisional, yang mencerminkan kekayaan kuliner lokal serta kearifan masyarakat setempat. Jajanan ini meliputi berbagai jenis kue basah, gorengan, kudapan manis, dan makanan berbahan dasar sederhana seperti tepung, kelapa, gula merah, dan pisang, yang diolah dengan teknik turun-temurun. Selain sebagai produk pangan, jajanan pasar juga merepresentasikan dinamika ekonomi rakyat yang bersifat padat karya, berbasis komunitas, dan berakar pada budaya lokal. Dengan harga yang terjangkau dan cita rasa yang akrab, jajanan pasar berperan penting dalam memenuhi kebutuhan konsumsi harian masyarakat serta menjaga keberlangsungan identitas kuliner dan ekonomi mikro tradisional.
Jajan pasarnya jumlahnya banyak. Jika dihimpun dari berbagai daerah, sangat mungkin berjumlah ratusan, Beberapa jajan pasar dapat disebutkan di sini, antara lain: kue ape, kue klepon (memiliki isian berupa gula merah dan luarnya digulingkan pada kelapa parut, kue putu (memiliki cara memasak yang unik, yaitu dicetak dengan potongan bambu kecil dan dikukus), kue pancong (bentuknya mirip dengan bulan sabit, bahan utama tepung beras dan kelapa, bubur sumsum (terbuat dari tepung beras dan santan.disajikan dengan kuah gula merah), getuk (terbuat dari singkong yang direbus kemudian ditumbuk, ditambah gula, dan dibentuk persegi atau yang lainnya), kue cenil (kenyal dan berukuran kecil), grontol jagung (jagung kering yang direbus hingga matang), onde-onde (terbuat dari tepung terigu atau tepung ketan yang direbus atau digoreng dan bagian luarnya dibalur dengan biji wijen), tempe mendoan, lumpia (isian dari lumpia adalah rebung, telur, sayuran, makanan laut, atau daging). dan lain-lain.
Apa yang perlu menjadi perhatian atas jajan pasar tersebut? Adalah bahwa jajan pasar merupakan kenyataan dalam hidup ekonomi rakyat. Memang, jika horizon ekonomi hanya membahas makro, investasi asing, dan pertumbuhan PDB, maka hampir dapat dipastikan bahwa kenyataan ekonomi tersebut akan luput dari perhatian, yakni dinamika ekonomi rakyat yang hidup dan berkembang dalam ruang-ruang kecil, seperti pasar tradisional. Jajan pasar dalam hal ini adalah bentuk konkret dari dinamika ekonomi riil. Yakni produk pangan lokal yang dibuat, diperjualbelikan, dan dikonsumsi oleh masyarakat dalam pola yang sangat sosial, kultural, dan berakar. Jajanan pasar bukan sekadar urusan rasa atau nostalgia, melainkan kesaksian nyata tentang geliat ekonomi rakyat, yang hidup bukan dari stimulus ekonomi besar, tetapi dari daya lenting komunitas dalam mengelola sumber daya terbatas menjadi kekuatan ekonomi yang nyata.
Produksi jajanan pasar pada dasarnya mencerminkan kemampuan rakyat untuk berkreasi secara produktif dalam batas ekonomi yang mereka miliki. Para produsen, umumnya perempuan di sektor rumah tangga atau pelaku usaha mikro, memanfaatkan bahan lokal yang mudah didapat, seperti tepung beras, singkong, kelapa, dan gula merah. Mereka mengolahnya menggunakan teknik yang diwariskan secara turun-temurun, tanpa tergantung pada teknologi industri atau modal besar. Proses produksinya bersifat padat karya dan berbasis komunitas, di mana hubungan antarindividu tidak dibentuk oleh kontrak impersonal, melainkan oleh kepercayaan dan tradisi. Dengan cara ini, mereka tidak hanya memproduksi makanan, tetapi juga merawat budaya, memperkuat jaringan sosial, dan menciptakan penghidupan.
Keberadaan jajanan pasar juga menjadi refleksi dari keberdayaan ekonomi rakyat untuk menciptakan barang yang bermutu dengan harga yang terjangkau. Dalam konteks inflasi pangan dan naik-turunnya daya beli masyarakat, jajanan pasar hadir sebagai solusi konsumsi yang rasional dan adaptif. Jajan pasat memberikan akses pangan bermutu bagi masyarakat berpendapatan rendah, tanpa mengorbankan selera atau nilai gizi. Hal ini menunjukkan bahwa pertimbangan konsumen dalam ekonomi rakyat bukanlah semata-mata soal keinginan (desire), tetapi soal kemampuan dan keadaan yang nyata. Pilihan untuk mengonsumsi jajanan pasar adalah bentuk dari kesadaran ekonomi yang tidak mudah dimanipulasi oleh gaya hidup konsumtif, iklan, atau citra status sosial. Dalam arti ini, jajanan pasar menjadi simbol dari kemandirian konsumsi, yaitu kemampuan untuk memilih secara sadar, sesuai kebutuhan dan kapasitas.
Lebih jauh, peredaran jajanan pasar memperlihatkan bentuk distribusi ekonomi yang inklusif dan desentralistik. Tidak ada satu aktor dominan yang menguasai rantai distribusi; yang ada adalah ribuan bahkan jutaan relasi ekonomi mikro yang berjalan secara otonom dan lentur. Produksi dilakukan di rumah, penjualan terjadi di pasar tradisional, dan konsumsi berlangsung di ruang-ruang informal masyarakat. Siklus ini berlangsung dengan efisiensi sosial yang tinggi, di mana nilai ekonomi tidak selalu diukur dari margin keuntungan, tetapi dari keberlangsungan hidup bersama. Dalam skema seperti ini, ekonomi tumbuh bukan karena eksploitasi, tetapi karena saling keterhubungan dan kepercayaan yang dibangun dari bawah.
Jajanan pasar juga memiliki makna strategis dalam kerangka ketahanan pangan nasional. Ketika sistem pangan global terganggu, seperti saat pandemi atau krisis distribusi internasional, ekonomi rakyat seperti produsen jajanan pasar menjadi bantalan yang menjaga keberlangsungan konsumsi masyarakat. Dengan keterikatan yang kuat pada sumber daya lokal dan jaringan distribusi yang sederhana, sektor ini relatif tahan terhadap guncangan eksternal. Hal ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya dibangun dari teknologi dan cadangan logistik, tetapi dari resiliensi komunitas dan diversifikasi pangan berbasis lokal.
Tak kalah penting, jajanan pasar juga berfungsi sebagai instrumen pelestarian budaya dan identitas kolektif. Setiap jenis jajanan memiliki cerita, latar sosial, dan makna simbolik dalam kehidupan masyarakat. Dalam tradisi desa Jawa, misalnya, jajanan pasar berubah nama menjadi “nyamikan” atau “penganan” ketika dihidangkan di rumah, menunjukkan relasi sosial yang lebih intim. Di dunia perhotelan dan pariwisata, kehadiran jajanan pasar menjadi elemen daya tarik budaya yang memperkenalkan kekayaan lokal kepada tamu domestik maupun mancanegara. Bahkan, banyak pemerintah daerah menyelenggarakan festival jajanan pasar sebagai bagian dari promosi identitas daerah. Dalam konteks ini, jajanan pasar menjadi instrumen ekonomi yang sekaligus menguatkan daya hidup budaya lokal.
Namun, semua nilai strategis ini sering kali tidak dihitung dalam logika ekonomi formal. Karena bergerak dalam sektor informal, tanpa pencatatan statistik yang rapi, kontribusi jajanan pasar terhadap ekonomi nasional kerap diabaikan. Padahal, di balik produk sederhana ini tersembunyi mekanisme ekonomi yang adil, berdaya, dan berkelanjutan. Jika otoritas benar-benar ingin membangun ekonomi kerakyatan, maka mendukung sektor ini bukanlah sekadar program sosial, melainkan strategi ekonomi jangka panjang yang dapat menciptakan lapangan kerja, memperkuat daya beli lokal, serta mengurangi ketergantungan pada sistem pangan industri dan impor.
Dengan kata lain, jajanan pasar adalah ekspresi konkret dari ekonomi sosio-kultural, yang menyatukan produksi, konsumsi, distribusi, dan nilai budaya dalam satu sistem yang hidup. Sebagian pihak mungkin akan menempatkan sebagai cara menolak logika akumulasi sebagai ukuran utama keberhasilan ekonomi, dan menggantinya dengan logika keberlangsungan hidup bersama. Dalam jajanan pasar, kita melihat wajah ekonomi yang tidak eksploitatif, tidak hierarkis, dan tidak terputus dari akar sosialnya. Ekonomi seperti inilah yang sebenarnya menopang stabilitas masyarakat, terutama di masa-masa krisis dan ketidakpastian.
Oleh karena itu, sudah saatnya jajanan pasar tidak hanya dilihat sebagai bagian dari “kuliner tradisional” yang layak dilestarikan karena alasan budaya, tetapi juga sebagai pilar penting dalam arsitektur ekonomi rakyat. Dalam batas tertentu, jajan pasar membuktikan bahwa ekonomi bisa tumbuh dari bawah, dari komunitas, dari kreativitas, dan dari solidaritas. Dan dalam jajanan pasar pula, kita bisa belajar bahwa ekonomi yang sehat bukan yang mencetak pertumbuhan setinggi-tingginya, tetapi yang mampu menjaga keseimbangan antara kehendak, kemampuan, dan kebutuhan manusia dalam konteks sosial dan ekologisnya. [Desanomia – 1.6.25 – TM]