Sumber ilustrasi: freepik
20 Juni 2025 08.35 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Meskipun para peneliti lebih condong kepada hipotesis bahwa medan geomagnetik memengaruhi oksigen, namun mereka juga terbuka terhadap skenario lain. Kekuatan medan magnet yang berasal dari inti Bumi jauh lebih dipahami daripada proses sebaliknya. Akan tetapi mereka tidak menutup kemungkinan bahwa terdapat faktor ketiga yang hingga kini belum teridentifikasi, yang menjadi penyebab bersamaan dari pola ini. Puncak data yang ditemukan dalam kedua dataset menunjukkan ada sesuatu yang sangat signifikan sedang terjadi di balik fenomena ini.
Puncak tersebut terjadi pada masa keberadaan superbenua Pangaea yang terbentuk sekitar 320 juta tahun lalu dan pecah sekitar 195 juta tahun lalu. Perubahan besar dalam susunan tektonik akibat pembentukan superbenua ini diduga bisa jadi kunci yang menghubungkan medan magnet dan oksigen. Namun demikian Kuang dan Kopparapu mengingatkan bahwa dugaan ini masih lemah dikarenakan kurangnya data geologi dari periode superbenua sebelumnya. Mereka menganggap korelasi visual ini menarik, tetapi belum cukup kuat untuk dijadikan dasar kesimpulan.
“Keterkaitan antara medan magnet dan kadar oksigen membuka kemungkinan bahwa sistem kehidupan sangat bergantung pada mekanisme geofisika yang selama ini jarang diperhatikan”
Ke depan, tim peneliti berencana memperluas studi mereka untuk mencari proses geofisika atau geokimia lainnya yang bisa menjelaskan keterkaitan ini secara lebih lengkap. Mereka menekankan pentingnya kolaborasi antarilmuwan dari berbagai bidang karena kompleksitas sistem planet yang tidak dapat dijelaskan hanya oleh satu disiplin ilmu. Dalam analogi mereka, para ilmuwan seperti anak-anak yang masing-masing memegang satu keping Lego, hanya dengan bekerja bersamalah kepingan-kepingan ini bisa membentuk gambaran besar sistem planet kita.
Penelitian ini menyoroti bahwa stabilitas kehidupan di Bumi tidak hanya ditentukan oleh faktor biologis atau atmosferik, tetapi juga oleh dinamika internal planet seperti medan magnet dan aktivitas tektonik. Keterkaitan antara medan magnet dan kadar oksigen membuka kemungkinan bahwa sistem kehidupan sangat bergantung pada mekanisme geofisika yang selama ini jarang diperhatikan. Adanya pengetahuan ini juga dapat memberi arah baru ketika para ilmuwan hendak melakukan pencarian planet layak huni, dengan memperhatikan dan mempertimbangkan medan magnet, komposisi atmosfer, dan struktur dalam planet secara bersamaan.
Studi ini mempertegas nilai penting riset ilmiah jangka panjang dan kolaborasi lintas disiplin. Selain membuka peluang pengembangan teknologi pelindung atmosfer atau habitat luar angkasa, temuan ini juga menjadi pengingat bahwa menjaga keseimbangan Bumi bukan hanya soal polusi udara atau emisi karbon, tapi juga soal memahami interaksi mendalam antar komponen planet. Pendekatan holistik dalam kebijakan lingkungan dan riset geosains menjadi semakin relevan dalam menghadapi masa depan Bumi dan kemungkinan hidup di luar planet ini. (NJD)
Sumber: Livescience