Sumber ilustrasi: Unsplash
16 September 2025 10.45 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [16.09.2025] Keringat selama ini dipahami sebagai tetesan kecil yang muncul di permukaan kulit saat tubuh kepanasan. Gambarannya kerap muncul dalam bentuk butiran air yang perlahan menggelinding di dahi atau punggung, terutama saat seseorang beraktivitas berat atau terpapar suhu tinggi. Namun demikian, pemahaman itu mulai dipertanyakan oleh para ilmuwan setelah ditemukannya proses berbeda yang mendasari pembentukan keringat.
Sebuah studi terbaru berhasil membongkar proses tersembunyi di balik fenomena berkeringat. Tim peneliti dari Arizona State University menemukan bahwa keringat ternyata tidak langsung keluar sebagai tetesan, melainkan melalui proses bertahap yang menyerupai air yang mengisi spons, lalu menggenang dan menyebar dalam bentuk lapisan tipis.
Penelitian yang dipublikasikan di Journal of the Royal Society Interface ini melibatkan enam orang relawan yang dibungkus dalam pakaian khusus berisi tabung pendingin dan pemanas. Para partisipan berbaring di kursi santai sambil mengenakan selimut hangat, dan suhu tubuh mereka dikendalikan secara bertahap. Untuk mencegah keringat menyerap ke kain, lapisan kertas tahan air disisipkan di antara tubuh dan selimut.
Dengan menggunakan teknik pencitraan, sensor listrik, dan mikroskop, peneliti mengamati bagaimana keringat terbentuk di dahi para relawan. Awalnya, kelembapan naik melalui pori-pori dan membasahi lapisan luar kulit yang terdiri dari sel-sel mati. Setelah lapisan ini terisi seperti spons, keringat mulai menggenang dalam bentuk hampir datar, bukan tetesan, sebelum akhirnya menyatu dan membentuk lapisan film tipis di permukaan kulit.
Konrad Rykaczewski, peneliti utama dalam studi ini, menjelaskan bahwa proses penguapan keringat, bukan kelembapan itu sendiri, yang berperan utama dalam mendinginkan tubuh. Oleh karena itu, kemunculan keringat dalam bentuk lapisan tipis lebih efisien untuk mempercepat penguapan dan pendinginan kulit.
Menariknya, setelah sesi pemanasan pertama selesai dan tubuh peserta kembali dipanaskan untuk kedua kalinya, keringat muncul lebih cepat. Sisa garam yang tertinggal dari keringat sebelumnya memungkinkan kelembapan baru meresap lebih cepat ke dalam lapisan kulit mati, melewati tahap genangan dan langsung membentuk lapisan film. Ini menunjukkan bahwa tubuh memiliki memori termal yang membantu mempercepat proses pendinginan saat terpapar panas berulang kali.
Sementara itu, ilmuwan lain seperti Jonathan Boreyko dari Virginia Tech, yang tidak terlibat dalam riset ini, mengapresiasi pendekatan studi tersebut. Ia menilai bahwa temuan ini penting karena selama ini orang cenderung membayangkan keringat sebagai tetesan berbentuk kubah di kulit. Namun, hasil penelitian membantah persepsi visual tersebut, setidaknya untuk area dahi.
Boreyko juga mencatat bahwa karakteristik kulit berbeda-beda di setiap bagian tubuh, termasuk tingkat kerapatan kelenjar keringat dan keberadaan rambut halus. Karena itu, masih dibutuhkan studi lanjutan untuk mengetahui apakah mekanisme serupa terjadi di area seperti ketiak atau lengan.
Seorang ahli biofisika pakaian dari North Carolina State University, Emiel DenHartog, juga melihat potensi besar dari temuan ini untuk pengembangan material pakaian. Selama ini, uji interaksi antara keringat dan kain dilakukan dengan cairan dalam bentuk tetesan besar, yang kemungkinan tidak merefleksikan kondisi alami kulit yang berkeringat. Menurutnya, menghubungkan riset dasar ini dengan uji performa pakaian akan sangat bermanfaat dalam mendesain busana yang lebih fungsional di lingkungan panas.
Penelitian ini membuktikan bahwa keringat tidak langsung muncul dalam bentuk tetesan seperti yang selama ini diasumsikan. Sebaliknya, ia meresap dan mengisi lapisan kulit luar, membentuk genangan kecil sebelum menyebar sebagai lapisan film. Proses ini memungkinkan permukaan kulit tercakup secara merata untuk mempercepat penguapan, yang pada akhirnya meningkatkan efisiensi pendinginan tubuh.
Selain memperluas pemahaman dasar tentang mekanisme berkeringat, temuan ini membuka peluang besar bagi pengembangan teknologi tekstil dan sistem pendingin yang lebih responsif terhadap kondisi biologis manusia. Penelitian lanjutan di bagian tubuh lain dapat memberikan gambaran lebih utuh tentang bagaimana tubuh mengatur panas secara alami, serta bagaimana teknologi bisa mendukung proses tersebut.
Diolah dari artikel:
“Forget droplets. Here’s how sweat really forms” oleh Bethany Brookshire.
Link: https://www.snexplores.org/article/how-sweat-forms-skin