Sumber ilustrasi: Freepik
12 Juli 2025 10.10 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [12.07.2025] Tentunya kita tidak asing terhadap fenomena kulit jari yang mengeriput setelah direndam air selama beberapa waktu telah lama dianggap biasa, terutama saat berenang atau mandi. Akan tetapi dala sebuah studi terbaru mengungkap bahwa pola kerutan yang muncul pada jari-jari tersebut ternyata konsisten dan berulang setiap kali direndam, mengikuti jalur pembuluh darah di bawah kulit. Temuan ini menunjukkan bahwa kerutan basah bukan hanya reaksi acak, tetapi berakar pada struktur biologis yang stabil dalam tubuh.
Penelitian ini dipublikasikan dalam Journal of the Mechanical Behavior of Biomedical Materials edisi Mei 2025. Para peneliti menemukan bahwa kerutan-kerutan yang terbentuk pada ujung jari setelah direndam air mengikuti pola yang serupa dari waktu ke waktu. Studi ini dilakukan oleh Guy German, seorang insinyur biomedis dari Binghamton University, New York, yang awalnya menjawab pertanyaan anak-anak tentang mengapa jari keriput saat terkena air. Akan tetapi pertanyaan lanjutan dari seorang pembaca membuatnya terdorong untuk menyelidiki lebih jauh adalah apa kerutan itu selalu terjadi dalam pola yang sama?
Untuk menjawabnya, German dan seorang mahasiswa pascasarjana melakukan eksperimen pada tiga orang peserta. Mereka diminta merendam tangan kanan dalam air bersuhu 40°C selama 30 menit. Setelah itu, para peneliti memotret ujung jari mereka, kemudian mengulangi proses yang sama minimal 24 jam kemudian. Hasil foto dari dua waktu yang berbeda dibandingkan secara matematis.
Hasilnya menunjukkan bahwa kerutan-kerutan yang muncul memiliki bentuk dan lokasi yang hampir identik. Garis-garis kerutan tersebut dipetakan dan dibandingkan, menunjukkan tingkat kesamaan yang sangat tinggi. Analisis ini menunjukkan bahwa pola kerutan yang terbentuk mengikuti jalur pembuluh darah yang bersifat tetap di bawah permukaan kulit.
Penemuan ini memperkuat teori bahwa kerutan di jari akibat air bukan disebabkan oleh pembengkakan kulit, seperti yang dulu diyakini. Sekitar 20 tahun lalu, ilmuwan menemukan bahwa kerutan justru terjadi karena penyempitan pembuluh darah. Saat kulit menyerap air dan kadar garam menurun, saraf mengirim sinyal ke otak, yang kemudian memerintahkan pembuluh darah untuk menyempit. Hal ini menarik lapisan kulit di atasnya dan membentuk kerutan.
Lebih dari sekadar fenomena fisiologis, kerutan ini dipercaya memiliki fungsi evolusioner — membantu memperkuat cengkeraman di lingkungan basah dengan menciptakan tekstur tambahan di permukaan jari. Kini, dengan ditemukannya konsistensi pola kerutan, terbuka kemungkinan bahwa fitur ini bisa dimanfaatkan untuk keperluan identifikasi biometrik atau forensik, layaknya sidik jari.
Guy German juga menyatakan bahwa masih ada pertanyaan lanjutan yang belum terjawab, yakni apakah pola kerutan ini tetap sama seiring bertambahnya usia? Seperti sidik jari yang tidak berubah sepanjang hidup, jika pola kerutan ini juga stabil selama puluhan tahun, maka ia dapat menjadi fitur identifikasi biologis yang baru dan potensial.
Studi ini menunjukkan bahwa pola kerutan jari akibat air bukanlah kebetulan atau respons acak, melainkan proses terstruktur yang mengacu pada sistem pembuluh darah tubuh. Konsistensinya membuka peluang bagi riset lanjutan di bidang identifikasi biologis dan neurologi. Yang menarik adalah bahwa penelitian ini berawal dari pertanyaan sederhana dan dari pertanyaan tersebut, sekecil apapun itu, dapat membuka pintu menuju penemuan ilmiah yang signifikan.
Diolah dari artikel:
“After every soak, fingers wrinkle — and always the same way” oleh McKenzie Prillaman.
Link: https://www.snexplores.org/article/after-every-soak-fingers-wrinkle-and-always-the-same-way