Ketidaktahuan

Sumber ilustrasi: Freepik
3 Januari 2026 19.10 WIB – Akar
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Apa itu ketidaktahuan? Apakah ketidaktahuan mungkin? Apa yang memungkinkan pertanyaan tersebut? Bagaimana kita merefleksikan pertanyaan-pertanyaan ini? 

Bagi sebagian orang, pertanyaan “apakah ketidaktahuan itu mungkin?”, tampak sederhana, dan biasa. Namun, bagi sebagian yang lain, sangat mungkin pertanyaan tersebut justru terasa tengah menyentuh inti dari bagaimana pengetahuan dipahami. Jika ketidaktahuan dimaknai sebagai ketiadaan total pengetahuan, maka pertanyaan ini bukan sekadar “tentang pengetahuan itu sendiri” (epistemologi), melainkan “tentang hal ihwal keberadaan” (ontologi): mungkinkah seseorang “ada” tanpa relasi apa pun dengan dunia?

Dalam pengertian yang ketat, ketidaktahuan sebagai ketiadaan total relasi dengan dunia tentulah tidak mungkin. Selama seseorang “ada”, maka dapat dikatakan bahwa ia selalu sudah berada dalam suatu situasi, terpapar pada lingkungan, dan terlibat dalam keberadaan tersebut. Keberadaan itu sendiri sudah merupakan bentuk “keterarahan”, dan keterarahan adalah syarat minimal bagi mengetahui.

Kita berpandangan bahwa ketidaktahuan sering disalahpahami sebagai keadaan nol, seolah subyek berada dalam ruang kosong tanpa orientasi. Pemahaman ini muncul karena pengetahuan diidentikkan dengan isi mental yang terartikulasi: konsep, proposisi, atau teori. Apa yang belum mencapai bentuk itu lalu disebut “tidak tahu”.

Namun jika pengetahuan tidak didefinisikan dari hasil akhirnya, melainkan dari kondisi kemunculannya atau “kondisi keberadaannya”, maka ketidaktahuan tidak lagi berarti ketiadaan. Ia berarti belum-terartikulasi, bukan belum-berelasi. Dunia sudah hadir, tetapi belum ditutup oleh penamaan (kategori-kategori) dan penjelasan.

Dalam keadaan ketidaktahuan, subyek tidak berada di luar dunia, melainkan justru berada paling dekat dengannya. Dunia hadir sebagai kemungkinan terbuka, belum disaring oleh kategori, belum dibatasi oleh klaim kebenaran. Ini bukan kekosongan, melainkan keterbukaan.

Dengan demikian, ketidaktahuan sebagai nihil epistemik—sebagai “tidak ada pengetahuan sama sekali”—tidak mungkin. Yang mungkin adalah bahwa ketidaktahuan merupakan modus awal mengetahui, yakni mengetahui tanpa refleksi, tanpa klaim, tanpa kepastian.

Jika pengetahuan mungkin, maka syarat-syarat minimal bagi pengetahuan selalu sudah bekerja. Artinya, selalu sudah ada struktur orientasi, selektifitas, dan respons terhadap dunia. Dalam kondisi seperti ini, ketidaktahuan hanya bisa berarti belum-diketahui-secara-reflektif, bukan tidak-diketahui-sama-sekali.

Ketidaktahuan, dalam arti ini, bukan lawan pengetahuan, tetapi bagian dari kontinuitas pengetahuan itu sendiri. Ia adalah fase awal sebelum pengetahuan mengeras menjadi bentuk-bentuk yang stabil. Menyangkal kemungkinan ini berarti menganggap pengetahuan muncul dari ketiadaan, yang secara logis tidak masuk akal.

Karena itulah, pertanyaan “apakah ketidaktahuan itu mungkin?” dengan demikian dapat dijawab dengan membedakan dua makna. Ketidaktahuan sebagai ketiadaan relasi dengan dunia, tidak mungkin, karena itu identik dengan ketiadaan eksistensi. Ketidaktahuan sebagai keterbukaan awal justru niscaya.

Dalam pengalaman hidup sehari-hari, ketidaktahuan selalu hadir ketika seseorang memasuki situasi baru. Yang bekerja pertama-tama bukan pengetahuan siap pakai, melainkan kepekaan, percobaan, dan orientasi awal. Ini menunjukkan bahwa ketidaktahuan adalah modus kerja pengetahuan, bukan kegagalannya.

Ketika pengetahuan berkembang, ketidaktahuan tidak lenyap, melainkan bergeser. Ia berpindah dari ketidaktahuan tentang “apa ini” menjadi ketidaktahuan tentang “apa lagi yang mungkin”. Dengan kata lain, ketidaktahuan selalu menyertai pengetahuan sebagai batas yang bergerak.

Jika ketidaktahuan dianggap mustahil, maka pengetahuan akan dipahami sebagai sistem tertutup. Namun sistem tertutup tidak dapat belajar, karena tidak memiliki ruang bagi yang belum diketahui. Dengan demikian, menyangkal ketidaktahuan berarti menyangkal kemungkinan pengetahuan berkembang.

Dalam kerangka ini, ketidaktahuan bukan ancaman bagi pengetahuan, melainkan kondisi keberlangsungannya. Ia menjaga agar pengetahuan tidak berhenti pada jawaban-jawaban lama dan tetap terbuka pada kemungkinan baru.

Karena itu, ketidaktahuan justru lebih mendasar daripada pengetahuan reflektif. Ia hadir lebih awal, bekerja lebih senyap, dan menopang seluruh proses mengetahui. Pengetahuan yang lupa pada ketidaktahuan asalinya akan kehilangan kontak dengan dunia yang terus berubah.

Kembali pada awal pertanyaan, “apakah ketidaktahuan itu mungkin?” Kita memahami bahwa jika ketidaktahuan sebagai ketiadaan pengetahuan, maka ketidaktahuan adalah tidak mungkin, tetapi ketidaktahuan sebagai bentuk paling awal dari mengetahui selalu mungkin dan selalu ada.

Dengan demikian, ketidaktahuan bukan sesuatu yang harus dihapus, melainkan sesuatu yang harus dikenali. Ia adalah tanda bahwa subyek masih hidup, masih terlibat, dan masih berada dalam gerak menuju yang paling mungkin.

Aib Epistemik

Jika ketidaktahuan tidak mungkin, dan bahkan ketidaktahuan adalah pengetahuan yang paling primordial, maka pertanyaan yang lebih kongkrit akan muncul: apakah “tidak tahu” merupakan aib epistemik atau justru awal yang perlu dan niscaya? Pertanyaan ini penting disorong ke depan, mengapa? 

Karena di arena publik kita sering bertemu dengan pandangan yang menganggap ketidaktahuan sebagai suatu aib. Kebanyakan orang menghindar secara sengaja terhadap keadaan tersebut, bahkan tidak jarang dengan “membenarkan” semua cara. Tampil sebagai pribadi “serba tahu” menjadi “idealitas” bagi kebanyakan orang. Apakah demikian itu?

Dalam optik ini, pengetahuan tidak dipahami sebagai kumpulan jawaban, melainkan sebagai gerak hidup yang terarah pada keberlangsungan: tetap ada dan tetap bersama, menuju yang paling mungkin untuk bersama secara berkelanjutan.

Jika pengetahuan diukur dari hasil akhirnya—kepastian, konsep, atau teori—maka tidak tahu dengan mudah dipahami sebagai “kekurangan”. Ia tampak sebagai kegagalan subyek memenuhi standar epistemik tertentu. Dari sudut pandang ini, tidak tahu memang cenderung diperlakukan sebagai aib.

Namun penilaian tersebut bermula dari  pengandaian bahwa pengetahuan berasal dari refleksi dan artikulasi. Ketika asumsi ini dilepaskan, dan pengetahuan dipahami sebagai relasi hidup dengan dunia, maka tidak tahu tidak lagi dapat dimaknai sebagai ketiadaan pengetahuan. Yang disebut tidak tahu adalah keadaan sebelum pengetahuan mengeras menjadi jawaban.

Dalam keadaan tidak tahu, subyek tidak berada di luar dunia, melainkan justru berada paling dekat dengannya. Dunia hadir sebagai sesuatu yang harus dihadapi, direspons, dan dihidupi, meskipun belum diberi nama atau penjelasan. Tidak tahu di sini adalah bentuk keterbukaan, bukan kekosongan.

Bayi yang lapar “tidak tahu” apa itu susu, tetapi ketidaktahuan itu tidak menghalanginya untuk bergerak ke arah yang paling mungkin bagi keberlangsungannya. Tindakan ini menunjukkan bahwa tidak tahu tidak menghentikan pengetahuan, melainkan justru menjadi kondisi awal dari praksis pengetahuan.

Dengan demikian, tidak tahu bukan lawan mengetahui, melainkan modus awal mengetahui. Ia menandai bahwa subyek sudah terlibat, tetapi belum menutup keterlibatan itu dengan kepastian. Dalam arti ini, tidak tahu adalah bentuk pengetahuan yang paling jujur terhadap situasi.

Karena itulah, aib epistemik hanya muncul jika tidak tahu disalahpahami sebagai penolakan untuk terlibat atau sebagai sikap menutup diri terhadap dunia. Yang problematis bukan tidak tahu, melainkan ketidakmauan untuk bergerak dari ketidaktahuan menuju kemungkinan yang lebih memadai.

Dalam cara pandang ini, justru klaim “sudah tahu” yang tidak disertai keterbukaan dapat menjadi aib epistemik. Ketika pengetahuan membeku dan menutup kemungkinan lain, ia berhenti berfungsi sebagai orientasi hidup dan berubah menjadi dogma.

Tidak tahu memiliki fungsi epistemik yang penting: ia menjaga agar pengetahuan tetap bergerak. Tanpa tidak tahu, tidak ada pencarian; tanpa pencarian, pengetahuan kehilangan relevansinya terhadap situasi hidup yang terus berubah.

Tidak tahu juga memiliki dimensi etis. Dengan mengakui tidak tahu, subyek mengakui keterbatasannya dan membuka ruang bagi yang lain. Ini memungkinkan kebersamaan yang berkelanjutan, karena tidak ada klaim penguasaan total atas dunia atau atas yang lain.

Dalam kehidupan bersama, memperlakukan tidak tahu sebagai aib akan mendorong eksklusi epistemik. Mereka yang dianggap “tidak tahu” disingkirkan dari percakapan, padahal pengalaman hidup mereka tetap menjadi sumber orientasi yang sah.

Sebaliknya, jika tidak tahu diakui sebagai awal yang niscaya, maka setiap orang diakui sebagai subyek epistemik sejak awal. Perbedaan bukan terletak pada siapa yang tahu dan siapa yang tidak, melainkan pada bagaimana proses mengetahui dijalani.

Dalam konteks pendidikan, pemahaman ini mengubah orientasi secara mendasar. Pendidikan tidak lagi bertugas menghapus tidak tahu secepat mungkin, melainkan “mendampingi transisi” dari ketidaktahuan menuju artikulasi yang lebih kaya dan bertanggung jawab.

Tidak tahu juga melindungi pengetahuan dari ilusi finalitas. Setiap jawaban selalu lahir dari ketidaktahuan tertentu dan akan melahirkan ketidaktahuan baru. Dalam arti ini, tidak tahu bukan fase yang dilampaui, melainkan kondisi yang selalu menyertai pengetahuan. Akhirnya hendak dikatakan bahwa jika tidak tahu dianggap aib, maka pengetahuan akan cenderung defensif dan tertutup. 

Jika tidak tahu diakui sebagai awal, pengetahuan menjadi terbuka, dialogis, dan adaptif terhadap perubahan. Suatu aib epistemik justru muncul ketika subyek menyangkal ketidaktahuan, mengklaim kepastian yang menutup kemungkinan, dan dengan itu berarti merusak orientasi pengetahuan terhadap keberlangsungan hidup bersama yang berkelanjutan. [desanomia – 030126 – dja]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *