Lemak Cokelat sebagai Penjaga Kesehatan Jantung dan Tekanan Darah?

Sumber ilustrasi: Freepik
28 Januari 2026 08.45 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Desanomia [28.01.2026] Selama ini, lemak tubuh kerap dipandang sebagai faktor risiko utama berbagai penyakit kardiovaskular, termasuk tekanan darah tinggi. Hubungan antara kelebihan lemak tubuh, obesitas, dan gangguan jantung telah banyak dibuktikan melalui berbagai penelitian epidemiologi. Akan tetapi, ilmu pengetahuan modern menunjukkan bahwa tidak semua lemak memiliki dampak yang sama terhadap kesehatan.

Tubuh manusia menyimpan setidaknya dua jenis lemak utama, yaitu lemak putih dan lemak cokelat. Lemak putih berfungsi menyimpan energi berlebih dalam bentuk kalori, sementara lemak cokelat berperan membakar energi dan menghasilkan panas untuk menjaga suhu tubuh. Selama bertahun-tahun, para ilmuwan mengira lemak cokelat hanya berperan penting pada masa bayi dan akan menghilang seiring bertambahnya usia.

Penemuan sekitar satu setengah dekade lalu mengubah pandangan tersebut. Studi menunjukkan bahwa manusia dewasa masih memiliki sejumlah lemak cokelat aktif, terutama yang terstimulasi oleh paparan suhu dingin. Penelitian lanjutan menemukan bahwa individu dengan kadar lemak cokelat lebih tinggi cenderung memiliki risiko obesitas dan hipertensi yang lebih rendah. Meski demikian, mekanisme biologis yang mendasari hubungan ini masih belum sepenuhnya dipahami.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan pada 15 Januari dalam jurnal Science berupaya menjelaskan bagaimana lemak cokelat dapat memengaruhi tekanan darah. Studi ini dilakukan menggunakan model tikus, dengan fokus pada lemak beige, yaitu jenis lemak pada tikus yang setara dengan lemak cokelat pada manusia dewasa.

Para peneliti menghapus gen Prdm16, gen kunci yang menjaga identitas lemak beige agar tetap berfungsi sebagai jaringan pembakar energi. Ketika gen ini dihilangkan, lemak beige di sekitar pembuluh darah berubah menjadi lemak putih. Perubahan tersebut terlihat jelas secara morfologis, di mana jaringan yang sebelumnya gelap dan berbintik berubah menjadi pucat seperti lemak putih biasa.

Perubahan komposisi lemak ini diikuti oleh dampak fisiologis yang signifikan. Tikus yang kehilangan lemak beige mengalami peningkatan tekanan darah, disertai dengan pembuluh darah yang menjadi lebih kaku dan kaya jaringan fibrotik. Kondisi ini mengurangi kemampuan pembuluh darah untuk mengendur saat darah mengalir, yang pada akhirnya meningkatkan tekanan darah secara keseluruhan.

Eksperimen lanjutan menunjukkan bahwa pembuluh darah dari tikus tanpa lemak beige bereaksi lebih kuat terhadap hormon angiotensin II, hormon yang dikenal menyempitkan pembuluh darah dan meningkatkan tekanan darah. Temuan ini mengindikasikan bahwa ketiadaan lemak beige membuat sistem pembuluh darah menjadi lebih sensitif terhadap sinyal penyempitan.

Penelusuran molekuler mengungkap peran penting sebuah enzim bernama QSOX1. Enzim ini memengaruhi kekakuan jaringan ikat di sekitar pembuluh darah. Dalam kondisi normal, aktivitas QSOX1 ditekan oleh keberadaan lemak beige. Namun, ketika lemak beige berubah menjadi lemak putih, kadar QSOX1 meningkat tajam, menyebabkan pembuluh darah menjadi kaku dan tekanan darah meningkat.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa ketika QSOX1 dihilangkan bersamaan dengan lemak beige, peningkatan tekanan darah tidak terjadi. Hal ini menegaskan bahwa QSOX1 merupakan komponen kunci dalam mekanisme yang menghubungkan perubahan jenis lemak dengan kesehatan pembuluh darah. Temuan ini memperluas pemahaman tentang fungsi lemak cokelat dan beige, yang sebelumnya lebih dikenal karena perannya dalam produksi panas melalui aktivitas mitokondria.

Penelitian ini menunjukkan bahwa lemak cokelat dan lemak beige tidak hanya berperan dalam pengaturan suhu tubuh, tetapi juga memiliki fungsi penting dalam menjaga kesehatan sistem kardiovaskular. Dengan mengendalikan produksi enzim QSOX1, lemak jenis ini membantu menjaga pembuluh darah tetap lentur dan tekanan darah berada dalam kisaran normal. Hilangnya lemak beige terbukti dapat memicu rangkaian perubahan biologis yang berujung pada hipertensi.

Temuan ini membuka peluang baru dalam pengembangan terapi tekanan darah tinggi yang lebih presisi. Penargetan enzim QSOX1 atau mekanisme yang dikendalikan oleh lemak cokelat berpotensi menjadi pendekatan baru dalam pengobatan hipertensi. Meskipun penelitian lanjutan pada manusia masih diperlukan, studi ini memberikan dasar ilmiah yang kuat untuk memahami bagaimana jaringan lemak tertentu dapat memberikan dampak besar terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Diolah dari artikel:
“People with more ‘brown fat’ have healthier cardiovascular systems. A new study in mice may explain why.” oleh Zunnash Khan.

Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.

Link: https://www.livescience.com/health/heart-circulation/people-with-more-brown-fat-have-healthier-cardiovascular-systems-a-new-study-in-mice-may-explain-why

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *