Sumber ilustrasi: Pixabay
Oleh: Dr. Untoro Hariadi
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Janabadra
9 Agustus 2025 16.35 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Tembang Jawa Lir Ilir adalah salah satu tembang yang lekat dalam ingatan banyak orang Jawa. Lagu, yang diyakini diciptakan oleh Sunan Kalijaga, ini sering dinyanyikan sejak kecil, di mushola, di sekolah, atau dalam acara tradisi desa. Namun, di balik kesederhanaan nada dan bahasa yang lembut, tersimpan ajaran hidup yang mendalam. Lir Ilir bukan hanya lagu anak-anak, melainkan cermin kebijaksanaan masyarakat agraris Jawa yang sarat makna spiritual, ekologis, ekonomi, dan pengetahuan hidup. Lagu ini menjadi medium yang merawat nilai-nilai lokal dan cara pandang terhadap dunia yang selaras, penuh hormat pada kehidupan. Berikut syair lengkapnya:
Lir ilir, lir ilir
Tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh penganten anyar
Cah angon, cah angon
Penekna blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekna
Kanggo mbasuh dodotira
Dodotira, dodotira
Kumitir bedhah ing pinggir
Dondomana, jlumatana
Kanggo seba mengko sore
Mumpung padhang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Yo Surak A, Surak Hiyo
Syair ini memuat seruan untuk bangkit, untuk menapaki hidup dengan semangat, dan membersihkan diri dari kelalaian. Namun, di era modern yang serba cepat, sibuk, dan terkadang hampa, ajakan-ajakan itu seringkali teredam. Manusia modern kerap kehilangan irama hidup yang terhubung dengan alam, lupa pada akar nilai, dan terasing dari kebijaksanaan yang bersumber dari laku hidup yang tenang dan mendalam.
Lirik “Tandure wus sumilir” menjadi pembuka yang menyiratkan kehidupan yang mulai bergerak, tanaman yang tertiup angin, musim tanam yang tiba. Ini bukan sekadar gambaran musim, tetapi merupakan pengingat bahwa hidup punya iramanya sendiri — sebuah irama ekologis yang telah lama dipahami dan diikuti masyarakat desa. Mereka hidup dalam siklus musim, menyatu dengan angin, hujan, dan tanaman yang tumbuh. Ketika tanaman mulai bergerak tertiup angin, itu pertanda bahwa alam sedang membangkitkan kehidupan.
Di sinilah pesan ekologis tersembunyi dengan halus namun kuat. Lir Ilir mengajak manusia untuk menyadari dan menyelaraskan diri dengan alam, bukan menaklukkannya. Prinsip ini sangat relevan dengan filosofi Jawa “ora ngaya” — tidak memaksa, tidak serakah. Sebuah sikap hidup yang bertolak belakang dengan cara pikir modern yang sering mengutamakan eksploitasi alam untuk kepentingan ekonomi jangka pendek. Desa-desa di Jawa mengajarkan bahwa menjaga tanah, air, dan udara adalah bagian dari kesalehan, bukan semata tindakan lingkungan. Alam bukan objek yang dipakai, tetapi saudara yang diajak hidup bersama.
Namun, dalam kehidupan modern, relasi harmonis ini mulai terputus. Alam dijadikan target produksi, bukan ruang spiritual. Krisis ekologi yang kita alami hari ini — perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan kehilangan biodiversitas — menunjukkan bahwa kita telah terlalu lama meninggalkan pesan lembut Lir Ilir. Ketika hidup tak lagi mengikuti musim, tapi mengikuti target produksi dan keuntungan, makna kehidupan berubah menjadi beban. Dalam situasi ini, nilai-nilai ekologis yang terkandung dalam tembang ini layak untuk dihidupkan kembali.
Kesadaran ekologis ini lalu bersambung ke cara pandang terhadap ekonomi. Pada bait “Penekna blimbing kuwi”, ada ajakan untuk memanjat pohon belimbing. Dalam tafsir simbolik, belimbing melambangkan hasil bumi, buah dari kerja keras dan ketekunan petani. Proses memanjat pohon menggambarkan usaha yang tidak mudah, apalagi ketika jalannya “lunyu-lunyu” — licin, penuh tantangan, tak pasti. Namun justru dalam licinnya jalan itu, manusia desa diajarkan untuk tetap menapak, tidak menyerah. Buah dari perjuangan itu bukan untuk kemewahan pribadi, tetapi untuk “mbasuh dodotira” — memelihara martabat hidup, membersihkan diri, dan menjaga keluhuran.
Dari sini kita melihat bahwa ekonomi dalam pandangan desa bukan soal akumulasi harta. Ekonomi bukan alat pamer status atau pencapaian kekayaan. Ia adalah jalan hidup untuk menjaga kelayakan hidup dan martabat sosial. Lir Ilir dengan lembut menolak paradigma ekonomi kapitalistik dan konsumeristik yang merusak relasi antar manusia dan merusak hubungan dengan alam. Ia mengajarkan ekonomi berbasis kecukupan dan moralitas: cukup untuk hidup, cukup untuk memberi, cukup untuk bermartabat.
Dalam kehidupan modern, prinsip kecukupan ini telah digantikan dengan mentalitas kompetisi dan konsumsi. Seseorang dianggap berhasil jika kaya, bukan jika cukup dan bermartabat. Di sinilah Lir Ilir kembali menjadi suara yang mengingatkan kita bahwa keberhasilan bukan tentang siapa yang paling tinggi, tetapi siapa yang paling bijak dan tetap waras dalam perjuangan hidup. Ketika segala ukuran hidup berubah menjadi angka, Lir Ilir mengembalikan kita pada makna: bahwa hidup adalah tentang merawat harga diri, bukan mengejar gengsi.
Nilai-nilai ini tidak muncul begitu saja, melainkan lahir dari epistemologi desa — cara berpikir dan memperoleh pengetahuan yang berbeda dari sistem akademik modern. Bait “Cah angon, cah angon…” menampilkan tokoh anak gembala, sosok yang sederhana namun sarat makna. Anak gembala hidup dekat dengan alam, belajar dari pengalaman langsung, menjaga kawanan dengan tanggung jawab dan kesabaran. Ia bukan ilmuwan dengan gelar, tapi penjelajah kehidupan yang belajar dari laku.
Ketika anak gembala disuruh memanjat pohon belimbing, itu menggambarkan bahwa memperoleh pengetahuan memerlukan usaha dan keberanian. Pengetahuan bukan hasil hafalan atau informasi instan, melainkan buah dari laku, dari menghadapi medan hidup yang sulit. Di sini, epistemologi desa menawarkan cara berpikir yang bersumber dari pengalaman hidup, dari relasi manusia-alam-Tuhan. Ini berbeda dengan dunia modern yang menilai pengetahuan dari angka, grafik, atau gelar. Dalam lagu ini, yang dihargai adalah kebijaksanaan yang lahir dari hidup itu sendiri.
Kita hidup di masa ketika pengetahuan cepat beredar, tetapi kebijaksanaan makin langka. Teknologi membuat kita tahu banyak hal, tapi sering lupa cara hidup yang benar. Dalam konteks inilah, simbol “dodotira… bedhah ing pinggir” menjadi peringatan tajam. Nilai-nilai yang membentuk jati diri — kesederhanaan, kebersamaan, laku spiritual — telah robek, mulai dari pinggir. Sedikit demi sedikit, sobekan itu menjalar ke inti kehidupan.
Semua ajaran ini berpadu menjadi kosmologi desa — pandangan hidup menyeluruh yang menempatkan manusia bukan sebagai pusat, melainkan bagian dari keseluruhan kehidupan. Lir Ilir adalah ajakan untuk bangun dari tidur panjang kehidupan yang lalai. Ia mengingatkan bahwa hidup harus dijalani dengan kesadaran, bahwa manusia harus hidup selaras dengan alam, bekerja dengan ikhlas, dan menjaga martabat. Lir Ilir adalah lagu pembuka mata dan pembuka hati, menghidupkan kesadaran spiritual dan sosial dalam cara yang lembut namun dalam.
Lebih dari sekadar lagu lama, Lir Ilir adalah manifesto kehidupan yang cukup, arif, dan berkesadaran ekologis. Ia tidak hanya dinyanyikan, tetapi juga ditafsirkan ulang dalam kehidupan sehari-hari. Dalam dunia yang makin bising oleh ambisi, algoritma, dan akselerasi, Lir Ilir menawarkan jalan pulang — sebuah keheningan yang penuh makna, kesederhanaan yang penuh hikmah.
Penutup
Tembang Lir Ilir mengandung ajaran yang lintas zaman. Ia bukan sekadar warisan budaya, melainkan panduan hidup. Dalam setiap baitnya, terkandung ajakan untuk kembali ke nilai-nilai hidup yang selaras dengan alam, bermartabat secara ekonomi, berakar pada pengetahuan yang lahir dari kehidupan, dan spiritualitas yang menyatu dalam laku. Di tengah krisis ekologis, ekonomi yang timpang, dan gempuran informasi yang membingungkan, suara lirih Lir Ilir tetap relevan — mengajak kita bangun, bersuci, dan menapaki hidup dengan bijak. Lagu ini bukan hanya untuk didengar, tetapi untuk dihayati dan dilanjutkan maknanya dalam langkah-langkah kecil kehidupan sehari-hari. Di tengah krisis makna hidup modern, Lir Ilir adalah suara yang menuntun pulang: pulang ke nilai, pulang ke makna, pulang ke kehidupan yang utuh.