Sumber ilustrasi: Freepik
23 Februari 2026 11.35 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [23.02.2026] Sesaat setelah Big Bang, alam semesta yang baru lahir adalah lingkungan yang panas dan kacau. Dalam kondisi ini, lubang hitam primordial — lubang hitam pertama yang terbentuk dari kantong materi sangat padat — bisa muncul dengan cepat.
Selama ini, pemahaman para ilmuwan adalah bahwa lubang hitam primordial, terutama yang lebih kecil, akan menguap melalui radiasi Hawking dan akhirnya lenyap dari alam semesta. Pandangan ini dianggap sebagai nasib final bagi objek-objek tersebut.
Akan tetapi penelitian terbaru yang diterbitkan di arXiv pada Januari menunjukkan kemungkinan lain. Studi ini menyatakan bahwa lubang hitam primordial tidak selalu menyusut; dalam kondisi tertentu, mereka justru bisa tumbuh dengan menyerap energi radiasi dari alam semesta awal, menjadikannya “pemangsa kosmik” supermasif. Fenomena ini mengubah pemahaman tentang sejarah awal alam semesta dan berdampak pada pencarian materi gelap, kerangka tak terlihat yang menahan galaksi tetap utuh.
Lubang hitam primordial berbeda dari lubang hitam yang terbentuk akibat runtuhnya bintang. Mereka muncul pada beberapa saat pertama setelah Big Bang, dari kepadatan ekstrem di sup kosmik awal, dan bisa memiliki ukuran mulai dari mikroskopis hingga lebih besar dari massa Matahari.
Menurut teori relativitas umum, objek ini diperkirakan akan perlahan kehilangan massa melalui radiasi Hawking hingga menguap sepenuhnya. Namun demikian alam semesta awal bukan ruang hampa; lingkungan di sekitarnya berupa sup panas yang penuh radiasi, dengan foton bergerak bebas di seluruh ruang.
Penelitian baru menambahkan elemen penting: penyerapan langsung radiasi termal. Jika efisiensi kolaps lubang hitam primordial melewati ambang tertentu, lubang hitam tidak lagi menguap perlahan, tetapi mulai “makan” energi di sekitarnya. Lubang hitam ini menjadi pemangsa kosmik yang diam tapi lapar, mampu hidup lebih lama dan bertambah massa secara signifikan.
Kemampuan tumbuh ini mengubah pandangan tentang nasib lubang hitam primordial. Dengan pertumbuhan berkelanjutan, mereka dapat bertahan lebih lama dan memiliki massa lebih besar daripada perkiraan sebelumnya.
Jika lubang hitam primordial dapat menyerap radiasi, maka rentang massa awal yang memungkinkan masih ada hingga saat ini, memungkinkan mereka berperan sebagai materi gelap. Rentang ini sangat bergantung pada parameter efisiensi penyerapan, yang mengukur seberapa cepat dan efektif lubang hitam memanfaatkan materi di sekitarnya.
Sebagai contoh, jika parameter ini bernilai 0,3, rentang massa lubang hitam primordial yang dapat bertahan sebagai materi gelap meluas dari 10^16 gram hingga 10^21 gram. Jika parameter ini 0,39, rentangnya menjadi 5×10^14 gram hingga 5×10^19 gram. Sebelumnya diyakini bahwa lubang hitam primordial tidak bisa sebesar ini sambil tetap menjadi kandidat materi gelap.
Temuan ini menantang asumsi lama tentang evolusi lubang hitam primordial dan membuka peluang untuk meninjau kembali peran mereka dalam struktur kosmik. Kemampuan mereka untuk tumbuh dan bertahan lebih lama menunjukkan bahwa alam semesta memiliki dinamika yang lebih kompleks daripada yang sebelumnya diperkirakan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa lubang hitam primordial mungkin tidak sekadar menguap, tetapi dapat tumbuh menjadi objek supermasif, memperluas kemungkinan mereka menjadi materi gelap. Temuan ini mengubah pemahaman tentang momen awal alam semesta dan nasib lubang hitam pertama.
Studi ini menekankan pentingnya mengevaluasi kembali teori kosmologi terkait evolusi lubang hitam primordial. Dengan kemampuan menyerap radiasi dan bertahan lebih lama, objek-objek ini bisa memberikan jawaban atas misteri materi gelap, membuka babak baru dalam pemahaman evolusi alam semesta.
Diolah dari artikel:
“The earliest black holes in the universe may still be with us, surprising study claims” oleh Paul Sutter.
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.