Sumber ilustrasi: Freepik
16 Januari 2026 09.35 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [16.01.2026] Dalam banyak kebudayaan modern, terutama di masyarakat industri Barat, ketekunan dan kegigihan sering diposisikan sebagai nilai moral utama. Narasi populer menekankan pentingnya bertahan menghadapi kesulitan, bahkan ketika hambatan terasa nyaris mustahil diatasi. Kisah-kisah tersebut membentuk keyakinan kolektif bahwa menyerah selalu identik dengan kegagalan.
Pandangan ini juga tercermin dalam berbagai cerita klasik yang diwariskan lintas generasi. Ketekunan digambarkan sebagai kunci keberhasilan, sementara berhenti atau mundur jarang dipandang sebagai pilihan yang sah. Dalam kerangka berpikir semacam ini, tujuan harus diperjuangkan sampai tercapai, apa pun biayanya.
Akan tetapi, perkembangan riset psikologi dan ilmu motivasi mulai menunjukkan gambaran yang lebih kompleks. Tidak semua tujuan layak dipertahankan selamanya. Dalam kondisi tertentu, melepaskan tujuan lama justru dapat membuka peluang yang lebih sehat dan lebih selaras dengan kebutuhan hidup saat ini.
Awal tahun sering menjadi momen refleksi dan penetapan resolusi baru. Banyak orang terdorong untuk menambah target: berolahraga lebih rutin, memulai hobi baru, atau meningkatkan produktivitas. Akan tetapi, para peneliti mulai mengusulkan pendekatan yang berbeda, yakni dengan meninjau ulang tujuan-tujuan lama yang mungkin sudah tidak relevan.
Tujuan memainkan peran penting dalam kehidupan manusia karena memberikan arah dan gambaran tentang masa depan yang diinginkan. Secara psikologis, keberadaan tujuan membantu individu mengatur tindakan, mengalokasikan energi, dan memberi makna pada aktivitas sehari-hari. Namun, tidak semua tujuan memberikan manfaat yang sama dalam jangka panjang.
Penelitian menunjukkan bahwa mempertahankan tujuan yang sudah tidak sesuai dengan kondisi hidup saat ini dapat menimbulkan tekanan mental dan fisik. Tujuan yang terasa terlalu sulit, terlalu mahal, atau tidak lagi sejalan dengan nilai pribadi berpotensi memicu stres berkepanjangan, rasa bersalah, dan kelelahan emosional.
Meski demikian, berhenti dari sebuah tujuan sering kali dipersepsikan sebagai kegagalan pribadi. Stigma ini membuat banyak orang memilih bertahan, meskipun manfaatnya semakin berkurang. Dalam praktiknya, melepaskan tujuan lama sering kali terasa lebih sulit dibandingkan terus berjuang tanpa kepastian hasil.
Riset tentang proses berhenti dari tujuan relatif masih baru. Para ilmuwan baru mulai mempelajari kapan seseorang sebaiknya berhenti dan bagaimana proses tersebut dapat dijalani dengan cara yang paling sehat. Studi menunjukkan bahwa melepaskan tujuan bukanlah keputusan instan, melainkan proses panjang yang dapat berlangsung berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.
Proses ini kerap dianalogikan dengan mengakhiri sebuah hubungan. Ada fase pemutusan, diikuti oleh fase adaptasi dan pencarian arah baru. Dalam banyak kasus, kegagalan untuk benar-benar melepaskan tujuan lama justru menghambat munculnya tujuan baru yang lebih bermakna.
Eksperimen di bidang ilmu perilaku memberikan gambaran konkret mengenai kecenderungan manusia untuk bertahan terlalu lama. Dalam sebuah permainan daring sederhana, ribuan peserta diminta memilih strategi yang memberikan imbalan tidak pasti. Meskipun tersedia opsi untuk beralih ke strategi lain yang berpotensi lebih menguntungkan, sebagian besar peserta tetap bertahan pada pilihan awal jauh lebih lama daripada yang secara matematis optimal.
Temuan ini menunjukkan bahwa bahkan dalam situasi tanpa risiko nyata, manusia cenderung enggan meninggalkan pilihan yang sudah diambil. Dalam kehidupan nyata, di mana tujuan sering kali melibatkan identitas diri, relasi sosial, dan investasi emosional, kecenderungan ini menjadi jauh lebih kuat.
Fenomena tersebut berkaitan dengan apa yang dikenal sebagai bias biaya hangus. Setelah menginvestasikan waktu, tenaga, atau sumber daya, muncul dorongan untuk terus bertahan agar pengorbanan tersebut terasa bermakna. Secara neurologis, kecenderungan ini diduga terkait dengan peran korteks prefrontal dalam mempertahankan komitmen terhadap rencana jangka panjang.
Studi lintas spesies menunjukkan bahwa kecenderungan bertahan bukan hanya milik manusia. Hewan seperti burung dan tikus juga cenderung mempertahankan satu tugas meskipun berpindah tugas dapat memberikan imbalan yang lebih besar. Hal ini mengindikasikan bahwa kecenderungan tersebut memiliki dasar biologis yang kuat.
Meski demikian, riset juga menunjukkan bahwa motivasi di balik keputusan berhenti sangat menentukan keberhasilan proses tersebut. Ketika keputusan berhenti didorong oleh tekanan eksternal, seperti tuntutan sosial atau rasa malu, individu cenderung lebih sulit melangkah maju dan tetap terikat secara emosional pada tujuan lama.
Sebaliknya, ketika keputusan berhenti didorong oleh refleksi internal dan kesadaran bahwa tujuan tersebut tidak lagi mencerminkan identitas atau nilai pribadi, proses pelepasan cenderung berlangsung lebih tuntas. Dorongan dari dalam diri membantu individu menerima keputusan tersebut tanpa terus-menerus meragukannya.
Penelitian longitudinal terhadap mahasiswa dan masyarakat umum menunjukkan bahwa individu dengan motivasi internal yang kuat lebih mampu melepaskan tujuan lama dan mengalihkan energi ke arah baru. Sebaliknya, mereka yang berhenti karena tekanan dari luar cenderung merasa terjebak dan sulit menemukan tujuan pengganti.
Proses berhenti juga jarang berlangsung mulus. Keraguan, penyesalan, dan kebingungan sering menyertai fase transisi. Riset menegaskan bahwa mempertahankan tujuan yang sudah tidak relevan justru berisiko menimbulkan dampak jangka panjang yang lebih merugikan.
Berbagai temuan ilmiah menunjukkan bahwa berhenti dari tujuan lama bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari proses adaptasi yang sehat. Ketika tujuan tidak lagi selaras dengan kondisi hidup, nilai pribadi, atau kapasitas individu, mempertahankannya justru dapat menimbulkan tekanan psikologis dan menghambat pertumbuhan.
Dengan melepaskan tujuan lama, ruang mental dan emosional dapat terbuka untuk peluang baru yang lebih bermakna. Dalam konteks ini, keberanian untuk mengatakan bahwa sebuah tujuan tidak lagi layak diperjuangkan dapat menjadi langkah awal menuju kehidupan yang lebih seimbang dan autentik.
Diolah dari artikel:
“Sometimes the best way to reach a goal may be to quit an old one” oleh Sujata Gupta
Note:
This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.