Sumber ilustrasi: Pixabay
4 Desember 2025 12.05 WIB – Umum
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Desanomia [04.12.2025] Burung pemakan bangkai (Vultures) sering dianggap sebagai pertanda buruk, berputar tinggi di udara seolah menunggu kematian hewan atau manusia di bawah. Akan tetapi, menurut para ahli, anggapan ini keliru. Burung pemakan bangkai sebenarnya memiliki peran penting dalam ekosistem dan melakukan perilaku berputar di udara karena alasan biologis dan ekologis, bukan untuk menunggu kematian makhluk hidup.
Burung pemakan bangkai adalah hewan melayang yang memanfaatkan arus udara naik yang disebut termal. Termal terbentuk ketika permukaan bumi dipanaskan secara tidak merata oleh matahari, sehingga udara di atas tanah yang hangat menjadi lebih ringan dan naik, menciptakan kolom udara naik. Burung pemakan bangkai, bersama dengan elang, alap-alap, dan burung pemangsa lainnya, memanfaatkan termal ini sebagai “lift” untuk naik tinggi dengan hemat energi dan sebagai “jalan raya” untuk berpindah tempat. Semakin tinggi, termal menjadi lebih besar sehingga memungkinkan burung berputar dalam lingkaran yang lebih luas.
Burung pemakan bangkai juga menggunakan kemampuan penciumannya untuk menemukan sumber makanan. Beberapa spesies, seperti pemakan bangkai kalkun (Cathartes aura), mampu mencium senyawa etil merkaptan yang dilepaskan oleh bangkai hewan yang membusuk, sehingga dapat menemukan bangkai bahkan di hutan lebat tanpa mengandalkan visual. Setelah menemukan sumber makanan, burung pemakan bangkai mungkin berputar untuk memeriksa apakah hewan tersebut sudah mati dan apakah karnivora besar sudah membuka bangkai, sehingga mereka dapat turun dengan aman.
Kesalahpahaman umum mengenai burung pemakan bangkai adalah bahwa mereka menyebarkan penyakit. Faktanya, burung pemakan bangkai justru mencegah penyebaran penyakit. Saluran pencernaan burung pemakan bangkai mengandung asam dan bakteri yang kuat sehingga patogen seperti antraks, rabies, salmonella, dan kolera yang ada pada bangkai hewan akan mati dan tidak menyebar. Oleh karena itu, mereka sering disebut sebagai “tim pembersih alam,” yang berperan penting dalam menjaga kesehatan ekosistem.
Kepentingan ekologis burung pemakan bangkai terlihat ketika populasi pemakan bangkai India menurun drastis akibat konsumsi bangkai ternak yang diberi obat diklofenak. Burung yang memakan bangkai tersebut mengalami gagal ginjal dan mati. Penurunan populasi pemakan bangkai menyebabkan bakteri dan infeksi, termasuk rabies, menyebar dari bangkai yang sebelumnya akan dimakan oleh burung, yang kemudian mengakibatkan kematian sekitar setengah juta orang antara 2000 dan 2005.
Selain manfaat ekologis, burung pemakan bangkai juga membantu manusia dalam pengawasan aktivitas perburuan liar. Dengan ribuan pemakan bangkai yang dipasangi GPS, pergerakan mereka dapat digunakan untuk mendeteksi lokasi bangkai besar yang mencurigakan, sehingga menjadi indikator potensial aktivitas perburuan ilegal di Afrika. Hal ini menunjukkan bagaimana perilaku alami burung pemakan bangkai bisa dimanfaatkan untuk tujuan konservasi dan perlindungan satwa liar.
Burung pemakan bangkai berputar di udara bukan karena menunggu kematian, melainkan untuk memanfaatkan arus termal yang memungkinkan mereka melayang tinggi, menghemat energi, dan mencari bangkai hewan. Kemampuan penciuman yang tajam juga membantu mereka menemukan makanan bahkan di area yang sulit terlihat.
Selain itu, burung pemakan bangkai memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan ekosistem dengan memakan bangkai hewan yang berpotensi menyebarkan penyakit. Kehadiran mereka juga memberikan manfaat tambahan bagi manusia, termasuk membantu deteksi perburuan liar melalui pelacakan GPS.
Diolah dari artikel:
“Why do vultures circle?” oleh Chris Simms.
Note: This article was made as part of a dedicated effort to bring science closer to everyday life and to inspire curiosity in its readers.
Link: https://www.livescience.com/animals/birds/why-do-vultures-circle